Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Raumanen (Marianne Katoppo)

gambar
Rp.42.000,- Rp.32.000,- Diskon
Judul: Raumanen
Penulis: Marianne Katoppo
Penerbit: Gramedia, 2018
Tebal: 160 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Stok lama)

Novel Raumanen karya Marianne Katopo ini menceritakan tentang kisah kasih dua orang remaja yang telah dibuai kasih asmara. Raumanen dan Monang adalah dua orang yang berbeda latar belakang dan budaya. Raumanen yang sering dipanggil Manen adalah seorang gadis cantik, rajin, independen, berasal dari Manado yang tinggal di Jakarta. Nama Raumanen sendiri sangat khas yang berasal dari nenek Manen yakni dari Manado. Nama yang membuat seorang Monang teringat bahkan menyebut nama Raumanen adalah nama yang romantis. Manen adalah seorang gadis belia, remaja yang aktif di suatu organisasi kemahasiswaan. Monang adalah tokoh lain dari kisah ini dimana Monang adalah pria yang dicintai Manen.

Manen dan Monang adalah dua orang yang berbeda karakter dimana Manen adalah gadis yang masih lugu, dan sangat polos dalam membicarakan tentang cinta. Berbeda dengan Monang, seorang yang cukup matang di umurnya untuk menikah, dia bekerja sebagai seorang insinyur muda yang hobi berganti-ganti pacar.

Manen dan Monang dipertemukan dalam pesta yang bertempat di rumah Bapak Profesor bersama dengan Patrick dan Ilyas, rekan-rekannya dalam organisasi pusat gerakan mahasiswa. Bapak Profesor sendiri adalah pelindung dari gerakan mahasiswa itu. Manen dan rekan-rekannya dalam organisasi tersebut hendak mengucapkan pada beliau selamat hari ulang tahun yang ke enam puluh. Di tempat itulah Manen berkenalan dengan Monang. Semenjak pertemuan itu, mereka berdua sering bertemu. Teman-teman Manen selalu mengingatkan Manen untuk berhati-hati karena mereka tau siapa Monang. Lelaki yang cukup menawan yang sering berganti-ganti pacar.

Meski Manen selalu berkata bahwa antara dia dan Monang tidak ada hubungan apa-apa, akan tetapi toh lambat laun mereka sering bertemu, dan merajut tali kasih. Semakin seringnya Monang mengutarakan perasaan cintanya kepada Manen, akhirnya perasaan cinta itu mulai merekah di hati Manen. Monang merasa Manen tidak seperti gadis-gadis lain yang sering dipacarinya. Meskipun teman-teman Manen, Patrick memperingatkannya terhadap Monang, tapi toh peringatan itu tidak dihiraukan oleh Manen. Ia akhirnya jatuh cinta juga pada Monang.

Semua nasihat yang diberikan teman-teman Manen kepadanya, tidak digubris. Bahkan ibu Manen tak lupa memberinya nasihat agar Manen lebih berkonsentrasi terhadap kuliahnya. Apalah dikata, semua nasihat itu hanyalah sia-sia. Dua insan manusia itu memadu cinta. Berawal dari mereka yang pergi ke puncak bersama-sama, bertamasya. Menghirup udara puncak yang sejuk. Melihat gunung-gunung terbentang indah diantara kebun teh. Sejenak Monang memandang Manen, tiba-tiba Monang mencium pipi Manen. Hujan deras yang tak bersahabat datang dan akhirnya mereka berteduh di suatu bungalow, di daerah Cibogo, Puncak. Dan apa yang terjadi sesudah itu seakan menjadi mimpi buruk bagi Manen. Dua orang yang sedang jatuh cinta itu bahkan melakukan hal yang dilarang oleh agama.

Sesudah peristiwa di puncak itu, Monang berjanji kepada Manen akan bertanggung jawab dan akan menikahi Manen. Meski Monang sudah berjanji akan menikahi Manen, akan tetapi batin Manen tetap tidak tenang. Ia khawatir, ia risau dengan apa yang telah dilakukannya bersama kekasihnya, Monang. Untuk membuktikan kesetiaannya kepada Manen, Monang pun mengajak Manen dan telah memberikannya hadiah berupa sebuah rumah yang kelak akan ia gunakan untuk tempat tinggalnya.

Apalah mau dikata, meskipun Monang telah berusaha memperkenalkan Manen kepada keluarganya dan kedua adiknya, Miri, dan Ria, meski itu pula ibu Monang tetap tak menyetujui hubungan Monang dan Manen. Ibu Monang tetap bersikeras ingin menikahkan anaknya kepada orang lain yang sesuku dan seadat pilihan ibu Monang.

Peristiwa di puncak itu terus menerus menghantui pikiran Manen hingga akhirnya Manen diperkirakan hamil. Mendengar kejadian ini, Monang sangat merasa senang atas kabar gembira ini. Dengan hati yang senang dan gembira, Monang membujuk orangtuanya, terutama ibunya agar merestui hubungan mereka. Akan tetapi, Ibu Monang tetap tidak merestui mereka dengan alasan adanya perbedaan suku. Namun Monang akan tetap mempertahankan cintanya bersama Raumanen.

Di sisi lain, Manen sebagai seorang yang masih belia, remaja merasa khawatir akan semua kejadian yang telah menimpanya ini. kekhawatiran itu semakin menjadi-jadi ketika ia di diagnose oleh dokter yang tak lain adalah temannya, Philip. Dokter pun menyatakan, bahwa Manen harus menggugurkan kandungan. Meskipun Manen tetap akan melahirkan anaknya, anak tersebut akan lahir cacat. Ini dikarenakan hidup Monang yang tak sehat, yang suka berganti-ganti pasangan. Monang pun pernah bercerita kepada Manen bahwa sebenarnya ia menderita penyakit syphilis keturunan yang ditularkan kepada Manen. Ia terpukul mengetahui semua ini, apa yang menimpa dirinya saat ini.

Di tengah kondisi yang tersiksa, depresi seperti itulah Manen akhirnya mengambil keputusan yang tidak diduga-duga sebelumnya. Peristiwa di puncak yang dilarang oleh agama it uterus membayang-bayangi pikiran seorang Manen. Monang yang dahulu sering mengutarakan perasaan cintanya kepada Manen, kini mulai jarang mengutarakannya. Ditambah lagi dengan ketidaksetujuan ibu Monang terhadap Manen semakin menambah lengkap masalah ini. Manen juga merasa berdosa kepada ibunya yang telah memberi amanat dan kepercayaan kepada Manen. Semenjak teman-teman Manen mengetahui hal ini, tentang kehamilannya, Manen serasa dijauhi, diacuhkan, oleh teman-temannya. Hingga akhirnya Manen pun memutuskan jalan pintas. Dimana, ia akhirnya mengakhiri hidupnya yang singkat ini, karena tidak tahan dengan semua yang menimpanya ini. Manen akhirnya bunuh diri.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email