Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Peradaban Pesisir: Menuju Sejarah Budaya Asia Tenggara

Judul: Peradaban Pesisir: Menuju Sejarah Budaya Asia Tenggara
Penulis: Adrian Vickers
Penerbit: Pustaka Larasan, 2009
Tebal: 240 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 55.000 (blm ongkir)
Order: SMS/WA 085225918312



Buku ini merupakan kumpulan dari sejumlah makalah yang pernah dibuat oleh Vickers. Semua makalah itu berkisah tentang sebaran cerita panji di Nusantara (Asia Tenggara). Vickers sendiri lama mengkaji cerita panji di Bali. Ia kemudian melihat cerita panji yang awalnya lahir di zaman Jayabaya menyebar di banyak tempat di Nusantara, diadopsi dalam budaya lokal setempat. Cerita panji yang alur ceritanya tentang pangeran yang terbuang dari istana karena intrik politik dan perjuangannya kembali merupakan sesuatu yang menurut Vickers sisi lokal yang lebih mewakili kebudayaan "bersama" banyak suku bangsa di nusantara.

Vickers memulai argumentasinya dari konsepsi pesisir yang lebih banyak ditekankan dengan makna geografis. Pesisir yang secara konseptual menjadi tulang punggung persebaran budaya dan bahasa menurut Vickers kerap diidentikan dengan persebaran agama islam, yang oleh karenanya yang bukan islam juga sering dianggap tidak menjadi bagian dari pesisir. Dengan konteks demikian Vickers melihat Bali sebagai bagian dari budaya pesisir yang tidak melulu membenarkan dengan ke-islam-an itu sendiri. Bali dan Islam juga digambarkan dalam interaksi yang menurut Vickers berlangsung dalam konteks budaya pesisir yang tidak mengekslusikan posisi Bali yang non-islam.

Peradaban pesisir itu juga dengan cerita panji sebagai salah satu konten lokal yang disebarkannya, menjadi anti-thesis atau jawaban lain dari jawaban yang banyak dikutip bahwa nusantara adalah bagian dari perebutan dua budaya besar hindustan dan tiongkok. keaslian nusantara dengan cerita panji yang persebaran dan kelokalannya diadaptasi dalam banyak etnisitas hingga ke daratan asia tenggara seperti kamboja dan thailand mendorong Vickers untuk mengajak pengkaji kawasan ini untuk lebih peka terhadap sesuatu yang lokal yang menjadi "perekat" budaya kawasan. Cerita panji yang diacu Vickers juga ditemukan dalam beberapa kain tenun daerah yang dikaji seperti kain dari daerah lampung dan palembang yang diperbandingkan dengan beberapa bentuk budaya dari daerah bali.

Hal lain dari buku ini yang juga dikaji Vickers dalam konteks kenusantaraan dan kelokalan adalah persoalan melayu. Saya tidak begitu ingat, secara saat ini saya tidak memegang bukunya, persoalan apa yang membuat Vickers mengangkat ke-melayu-an itu dalam konteks nusantara. Melayu sendiri yang kemudian identik dengan suku yang banyak menempati pesisir timur sumatera, semenanjung malaka, dan pesisir kalimantan menurutnya memiliki definisi batasan yang bisa demikian lebar. Lain dari batasan geografis demikian, batasan waktu akan menempatkan Melayu dalam makna yang berbeda jika dikaji dalam rentang waktu yang lebih lampau. Sriwijaya yang terkenal dengan peradaban budhisnya banyak menuliskan prasastinya dalam bahasa melayu kuno dibandingkan dengan kerajaan lain yang menuliskan prasastinya dalam bahasa palawa atau sanskrit. Namun apakah dengan demikian sebaran bahasa melayu hanya terbatas pada wilayah pulau-pulau yang berada di utara laut jawa saja (sumatera, kalimantan, sulawesi dst). Hingga pembentukan dunia jawa (pada suatu masa) adalah pulau-pulau yang berada di selatan laut jawa? Bagaimana dengan kerajaan-kerajaan kecil yang lebih tua? Bagaimana bangunan "kemelayuan" yang ada? Polemik indentitas melayu ini yang diangkat oleh Vickers dalam konteks nusantara dan kebudayaan bersama di kawasan ini. Persoalan melayu yang coba diklaim oleh Malaysia sebagai pewaris utama ini juga melandasi salah satu bab yang ada di buku Vickers. Menurut Vickers banyak cerita tentang Majapahit malah bersumber dari kutipan-kutipan yang dijadikan teks rujukan oleh sejumlah sarjana Malaysia. Hal ini buat saya merupakan upaya dari Vickers bahwa kontestasi Melayu dan non-Melayu harus ditempatkan dalam ruang dan waktu yang lebih tepat dan tidak banyak dibebani dengan persoalan politik kekinian yang bisa mengaburkan definisi operasional yang lebih tepat tentang apa itu Melayu. Seperti contohnya, kajian yang digunakan pada naskah melayu di Srilanka yang kemelayuannya berangkat dari sejumlah raja-raja nusantara yang pernah dibuang oleh Belanda. Apakah mereka semua berasal dari wilayah yang secara geografis bisa disebut melayu? atau Melayu sendiri pada satu masa adalah tak lain atau identik dengan nusantara, sehingga suku bangsa yang di timur nusantara pun tak salah jika disebut melayu?

Buku yang berangkat dari sekumpulan artikel ini memang banyak menggelitik ruang-ruang kebakuan yang ada seperti pesisir, melayu, jawa dan cerita panji, termasuk narasi hindustan vs tiongkok. Pengalaman saya membacanya membuka kemungkinan-kemungkinan baru akan imaji masa lalu tentang nusantara secara utuh. Tapi karena buku ini buku yang boleh dikatakan buku kumpulan, tak sepenuhnya jawaban yang memuaskan bisa didapatkan. Tak jarang kesan repetisi ada di beberapa bagian di bab terpisah dari buku ini.

Berlangganan via Email