Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Kelir Tanpa Batas (Umar Kayam)

Judul: Kelir Tanpa Batas
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: Gama Media, 2001
Tebal: 463 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Terjual Jakarta

Jawa dan wayang barangkali sudah menjadi topik yang membosankan untuk dibahas dalam sebuah buku. Posisi Jawa dari dulu merupakan sentral kehidupan bangsa Indonesia, baik secara ekonomi, sosial, politik, maupun kultural. Sedangkan wayang merupakan produk budaya yang sangat lekat dengan kultur Jawa. Kedua hal tersebut cukup menjadi alasan banyaknya tulisan mengenai Jawa dan wayang hingga kini. Bahkan menurut Koentjoroningrat (1984) jumlah tulisan mengenai wayang sudah mencapai lebih dari 1000 buah.

Namun buku ini seakan ingin menampik anggapan tersebut, dengan mengangkat wayang sebagai topik bahasannya. Persis dengan judulnya, buku ini ingin menunjukkan bahwa kelir (layar dalam pertunjukkan wayang) memang tidak memiliki batasan. Artinya, pembahasan mengenai wayang dapat terus berlangsung tanpa menemui titik jenuh. Sebab, seperti yang dilakukan buku ini, dengan sedikit saja pendekatan baru, orang dapat menemukan fakta baru mengenai wayang yang belum diketahui sebelumnya.

Dalam buku ini, secara garis besar Umar Kayam, sebagai penulis, mengambil sudut pandang dunia pewayangan Jawa pada era Orde Baru. Pembahasan disajikan secara mendalam dan komprehensif melalui bab per bab. Mulai dari gambaran umum wayang di berbagai daerah, ragam pakem wayang, memudarnya tatanan-tatanan pertunjukan wayang kulit, profil dalang dari berbagai daerah, hingga paradoks Orde Baru. Penyajian itu masih ditambah dengan ratusan foto berwarna yang dilampirkan di bagian akhir buku, yang menambah daya tarik buku ini.

Keunggulan buku ini antara lain adalah lengkapnya faktor data pendukung. Kerap kali dijumpai tabel yang dapat membantu pembaca memahami penjelasan penulis. Selain itu, penulis juga mampu mengumpulkan informasi mengenai ragam wayang, pakem, maupun dalang dari berbagai daerah di Jawa dengan cukup lengkap. Tidak hanya memuat data mengenai wayang gaya Solo (Jawa Tengah) dan Yogyakarta seperti kebanyakan buku lain, namun juga mengenai wayang gaya Jawa Timuran. Latar belakang penulis yang seorang sastrawan juga membuat buku ini mampu meramu sumber-sumber data yang tersedia menjadi susunan yang apik. Secara teknis, buku ini pun memiliki ukuran huruf yang cukup besar yang mampu membuat pembaca nyaman membaca halaman demi halaman.

Kelemahan yang mendasar terdapat di buku ini hanya ada dua. Pertama, peletakan kumpulan lampiran foto berwarna yang diletakkan di bagian akhir buku. Sehingga buku menjadi terkesan kaku layaknya karya tulis. Padahal, bisa saja foto-foto tersebut disisipkan di dalam bab sama halnya dengan penyajian tabel-tabel di dalam buku. Dengan demikian, otomatis tulisan akan menjadi lebih hidup dan mampu bercerita. Kedua, dengan adanya sub bab “Paradoks Orde Baru pada Level Makro.” Keberadaan sub bab tersebut tampak tidak memiliki kaitan dengan bagian lain dari buku. Terlebih, sudut pandang yang diambil penulis dalam sub bab ini terlalu luas. Tidak lagi hanya membahas wayang pada era Orde Baru, namun justru membahas kehidupan bangsa pada era Orde Baru secara makro. Walaupun diakui, keberadaan sub bab ini memang dimaksudkan sebagai pengantar ke sub bab yang selanjutya.

Sebagai kesimpulan akhir, lepas dari segala kekurangannya, buku ini tetap mampu memberikan pengetahuan baru kepada para pembaca, khususnya mengenai jagad pewayangan Jawa pada era Orde Baru. Buku ini juga dapat mengangkat topik yang cukup aktual, mengingat cetakan pertamanya diterbitkan pada tahun 2001. Hanya berselang 3 tahun pasca kejatuhan rezim Orde Baru dimana memang pada saat itu sedang banyak bermunculan tulisan-tulisan mengenai Orde Baru. Namun, sekarang buku ini sudah mulai sulit ditemukan, baik di toko buku, pasar loak, maupun di perpustakaan. Hal ini cukup disayangkan mengingat menariknya sudut pandang yang ditawarkan penulis dalam buku ini. Ditambah dengan sejumlah data-fakta yang mendukung buku ini tetap memiliki daya tarik, khususnya bagi pembaca yang menyukai seluk beluk mengenai pewayangan Jawa.

Berlangganan via Email