Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Setan van Oyot: Sebuah Roman Picisan

gambar
Rp.89.000,- Rp.70.000 Diskon
Judul: Setan van Oyot: Sebuah Roman Picisan
Penulis: Djokolelono
Penerbit: Marjin Kiri, 2019
Tebal: 303 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Segel)

Setan Van Oyot menambah satu lagi novel yang mengangkat masa kolonial sebagai latar cerita. Mengisahkan sebuah daerah kecil di Blitar, Jawa Timur, sebagai semesta kecil yang berkelindan tak terasa dengan dunia internasional, dengan spionase Jepang, menjelang berakhirnya kolonialisme Belanda.

Wlingi, daerah kecil yang dimaksud, ditumbuhi pohon beringin raksasa serta manusia di sekitarnya yang memiliki kaitan erat dengan pohon keramat itu. Premisnya sederhana, menjelang ulang tahun ratu Belanda, ketua panitia dan pemerintahan di Wlingi ingin menggelar pesta yang paling meriah di Hindia Belanda.

Sayangnya, Van Oyot, si beringin tua, menghalangi lahan yang sedianya akan dijadikan lapangan pesta. Dari sana, terjadi berbagai keanehan, perjuangan, tragedi, komedi, hingga nasihat-nasihat yang mewarnai penyingkiran Van Oyot.

Djokolelono sebelumnya dikenal sebagai sastrawan anak dengan spesialisasi fiksi ilmiah. Ini adalah novel pertamanya yang sangat berbeda dengan karya-karyanya sebelumnya. Meskipun begitu, ”coba-coba” itu cukup berhasil. Memotret ruang sosial kolonial di kota kecil Blitar dengan semesta mistik, politik, dan pertarungan eksistensial manusianya.

Semesta Van Oyot tidak sesederhana judulnya yang seolah mengesankan roman picisan. Van Oyot dengan segala manusia di sekitarnya mengungkap sebuah pertaruhan eksistensial para tokoh yang dimainkan. Seorang Londo totok yang mencari ayahnya di Wlingi, seorang wanita pribumi yang berambisi menjadi nonik Belanda, dan elite pribumi yang serakah.

Jika dalam buku-buku sejarah gambaran masyarakat hanya didapatkan melalui sejauh data didapatkan, melalui Setan Van Oyot, kita bisa melihat mata-mata Nippon yang menyamar sebagai penjual obat. Dengan detail yang memukau (halaman 170).

Seakan ingin membangun semesta yang lengkap, Djokolelono memasukkan semua etnis yang sampai sekarang masih hidup berdampingan. Etnis Madura, Tionghoa, Londo, dan Jawa membaur dalam ruang sosial Wlingi, dengan alam budayanya. Kita disuguhi percakapan dalam bahasa etnis masing-masing yang kaya dalam novel ini.

”Roman picisan” ini turut menangkap situasi politik internasional Belanda yang kacau serta Jepang yang mulai agresif untuk mengekspansi Asia. Pemerintah kolonial mulai mengetatkan pengawasan setelah pemberontakan di Semarang dan Madiun yang didalangi PKI.

Spionase di Hindia Belanda juga memanfaatkan detektif partikelir profesional yang memainkan peran sebagai pencari informasi pemuda dan tokoh pergerakan. Seperti Rumah Kaca ala Pram, lanskap spionase itulah yang nanti mengubur peran-peran tokoh pergerakan Indonesia dalam sejarah.

Di akhir, kita disuguhi sebuah drama kematian tokoh-tokoh di sekitar Van Oyot entah karena ”tulah” Van Oyot atau semacamnya. Rakyat Wlingi meyakini kematian Thijs Van Dijk, Van Dijk, Zus Kesi, dan Ndoro Sinder terjadi karena kualat Van Oyot. Penebangan yang selalu gagal oleh Ndoro Sinder merembet kepada tiga orang itu.

Thijs dituduh sebagai dalang pembunuhan Zus Kesi yang dibunuh Sinder dan Van Dijk membalas kematian ”gundik”-nya dengan membunuh anaknya sendiri. Nahasnya, Sinder mati konyol di bawah pelukan dan tindihan istrinya yang sungguh-sungguh bulat. Djokolelono secara apik menyebut tiga kematian itu masih ada nuansa kehormatan dan petualangan –balas dendam, perebutan cinta, dan kesetiaan. Sedangkan Ndoro Sinder menjadi tertawaan warga Wlingi (halaman 282).

Djokolelono cukup berhasil membawa pembaca menelusuri suasana kolonial yang tak didapatkan dalam buku dan penelitian sejarah yang kering. Kita bisa terbawa dalam suasana ketakutan menghadapi intaian spion Belanda dan Jepang.

Tertunduk-tunduk hormat di depan elite pribumi, lalu mengumpat di belakangnya. Perlawanan-perlawanan kecil dilakukan, misalnya dengan menanam singkong di tanah Belanda. Semua menyatu dalam sentrum Van Oyot, mistisisme pribumi, politik spionase kolonial, dan pertaruhan cinta yang epik. Selamat terhanyut!
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email