Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kekerasan dan Identitas (Amartya Sen)

gambar
Rp.72.000,- Rp.57.000 Diskon
Judul: Kekerasan dan Identitas
Penulis: Amartya Sen
Penerbit: Marjin Kiri, 2016
Tebal: 264 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Segel)

Berbicara mengenai identitas merupakan hal yang sangat jamak, mengingat semua manusia pasti memiliki identitas nya yang berbeda antara satu dengan yang lain. Dalam setiap manusia kadar banyaknya suatu identitas yang melek bisa beragam bentuknya, tidak menutup kemungkinan dalam satu raga bisa ditemukan lebih dari satu identitas.

Proses didapatnya suatu identitas pun banyak alurnya, ada yang didapatkan secara cuma-cuma melalui garis keturunan dan privelege lain, serta banyak pula yang diciptakan oleh beberapa aspek seperti afiliasi keagamaan, pilihan politik, ekonomi, batas wilayah hingga hobi. Sampai pada titik tersebut, identitas bukan suatu hal yang menakutkan meski sudah terindikasi berbeda antara satu sama lain.

Dengan melalui berbagai perjalanan, identitas pada akhirnya memicu terbentuknya suatu jurang pemisah yang mengalienasikan per individu sesuai pilihan identitas nya masing-masing. Plot cerita selanjutnya adalah semakin terciptanya suatu masyarakat yang sudah terkotak-kotak berdasarkan mazhab pemikiran komunitarian, pemikiran berbasis komunitarian inilah yang memaksa manusia harus cukup dengan identitas tunggal.

Pendekatan semacam itu lazim disebut dengan pemikiran soliteris yang memandang manusia hanya memiliki satu identitas, paradigma ini pula jua memanfaatkan polarisasi masyarakat berciri identitas yang sudah kadung terlaksana menjadi sebuah ketakutan terhadap yang berbeda diantara kita. Ketakutan tersebut sialnya mampu untuk memobilisasi konfrontasi dan kekerasan berbasis identitas yang seringkali terjadi pada orde global belakangan ini.

Hadirnya buku ini dimaksudkan sebagai penawar atas efek menakutkan yang dihasilkan dari kekerasan berbasis identitas, memaksa pola pikir manusia menjadi sedemikian sempit karena tidak mengabaikan kemajemukan yang terkandung didalamnya. Sekaligus mengerdilkan peran manusia yang melarang berbuat capaian yang berada diluar identitas pilihan nya.

Berawal dari suatu pengalaman pribadi sang penulis, dimana Sen merasakan bagamaina kekerasan komunal yang terjadi di Bengala pada tahun 1947 silam melibatkan kelompok Hindu melawan Muslim berlangsung sedemikian keji dan bergelimang darah. Dari memori masa lampau itulah, Sen kemudian berkonsepsi bahwa identitas merupakan salah satu sumber kekerasan.

Kisah tadi sudah lebih dari cukup bagi Sen untuk membuat hipotesa bahwa identitas adalah sumber dari segala kekejian yang tidak memberikan sedikitpun tempat bagi sejumput rasa manusiawi. Identitas pula merupakan realisasi dari sifat kebinatangan manusia manakala menemui perbedaan yang menghambat keinginan kelompok tempat dirinya bernaung.

Ditulis dengan gaya penyampaian yang lugas dan tidak bertele, ditunjang oleh alur cerita yang berjalan mundur semakin menjustifikasi bahwa buku ini layak untuk kalian lahap. Meskipun alurnya berjalan mundur tidak membuat penulis lupa bahwa perlu memberikan bukti-bukti nyata bentuk kekerasan berbasis identitas yang terjadi saat ini, disertai pula solusi yang membuat jiwa terasa teduh untuk sementara.

Dari sekian banyak argumen yang ditelurkan Sen dalam buku ini, terdapat beberapa thesis andalan yang menurut saya sangat sentimentil untuk menyentil para begundal-begundal penggila kekerasan. Menurut hemat Sen, kekerasan yang diakibatkan identitas adalah musabab dari heterofobia yang memandang orang lain sebagai ancaman.

Heterofobia tidak lahir secara tiba-tiba, ia adalah sebuah muara dari pemikiran soliteris yang penuh dengan ilusi dan delusi bahwa manusia adalah satu entitas tunggal. Dampak seperti itulah yang membuat manusia menjadi terfragmentasi dan bergumul dengan kelompoknya sendiri, hal ini jelas parah karena menghindarkan manusia itu terhadap kemajemukan identitas manusia. Seraya mengabaikan segala bentuk interaksi sosial yang terjadi untuk membentuk suatu identitas manusia itu sendiri.

Lain kesempatan Sen juga berujar bahwa kekerasan berbasis identitas terbentuk oleh kekalahan nalar dalam mempengaruhi pilihan manusia. Terbukti benar bahwa setiap identitas selalu menuntut prioritas untuk diutamakan, dan semakin banyak identitas yang diemban maka berbanding lurus dengan kesulitan menentukan prioritas yang hendak didahulukan.

Untuk itu diperlukan kelihaian nalar dalam memilih identitas mana yang layak untuk dipilih dan diutamakan, perlu juga kiranya pemikiran yang jernih dalam memilih identitas tersebut. Hal ini tidak dapat dianggap sepele mengingat jika sekali saja kita jatuh tersungkur pada delusi identitas tunggal, maka nalar kita akan dipaksa berhenti bekerja dan digantikan oleh keyakinan buta semata.

Sen juga mencoba memberikan opsi lain untuk menghentikan kekerasan berbasis identitas yang bukan tidak mungkin akan semakin menjamur di kemudian hari, ia mengharapkan adanya sebuah pemahaman yang lebih komprehensif dengan melihat suatu manusia bukan sebagai suatu bagian dari kelompok afiliasinya, melainkan sebagai individu tunggal sampai ke sekat-sekat terdalam.

Jika sudah seperti itu, tidak menutup kemungkinan akan terciptanya suatu orde masyarakat multikulturalis yang saling berbeda satu sama lain tetapi masih bisa menjaga perdamaian global. Semakin dekat pula pada demokrasi global yang lebih adil dan bijaksana menanggulangi ketimpangan ekonomi global yang menyeret sebagian warga dunia pada kemiskinan dan kemelaratan.

Secara keseluruhan, buku ini sangat layak untuk kalian prioritaskan karena didalamnya kita dapat mempelajari bagaimana cara kerja dunia dewasa ini sekaligus memahami sedikit tentang kepribadian manusia yang misterius.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email