Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga

gambar
Rp.55.000,- Rp.45.000 Diskon
Judul: Bintang Merah Menerangi Dunia Ketiga
Penulis: Vijay Prashad
Penerbit: Marjin Kiri, 2016
Tebal: 145 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Segel)

Dunia barangkali menganggap komunisme telah gagal. Sejak Uni Soviet runtuh tahun 1991 setelah 70 tahun berdiri, anggapan itu seolah diamini oleh orang-orang. Belum lagi, bagi sebagian besar dari kita, sejak dibubarkannya Partai Komunis Indonesia (PKI), ingatan atas paham itu terkubur bersama jejak kelam sejarah lainnya. Pengenangan atas capaian masa lalu tertutup citra buruk yang mengekor lebih banyak, dan sayangnya, itulah yang paling kentara di permukaan. Fakta bahwa komunisme, berikut gerakan sosialis serupa, pernah sedemikian memberi pengaruh dalam tatanan dunia, seperti terhapuskan begitu saja. Wacana itulah yang boleh tergoyahkan ketika baru menamatkan buku ini. Datang dari seorang intelektual Marxis dari India, Vijay Prashad, buku mencoba menjelaskan kekuatan Revolusi Oktober bagi emansipasi negara-negara jajahan.

Secara keseluruhan, bahasan buku berpusat pada pelbagai peristiwa di dunia pasca Revolusi Oktober yang meletus tahun 1917 di tanah Rusia. Sebagaimana diketahui, revolusi ini adalah buah dari bersatunya kaum tani dan buruh dalam menggulingkan pemerintahan Tsar. Ini adalah upaya kaum sosialis dalam menumbangkan pemerintahan berjouis yang merugikan rakyat. Setelah meletus pada bulan Februari, gerakan ini pun memuncak pada bulan Oktober, dan berhasil menumbangkan pemerintah tersebut, hingga berdirilah Republik Sosialis Uni Soviet.

Sementara itu, sebagai pembuka, penulis mengawalinya dengan esai berjudul “Kuburan di Timur”, yang mendedahkan wawancara dua wartawan Jepang, K. Fussa dan M. Nakahira, terhadap Lenin. Secara garis besar, hasil wawancara itu berisi pandangan Lenin atas keberlangsungan komunisme di Barat dan Timur. Dari petikannya, dapat disimpulkan bahwa sekalipun komunisme tampak menjanjikan keberhasilan di dunia bagian Barat, tetapi dengan mempertimbangkan berlangsungnya revolusi di Cina, Vietnam, atau Iran; Lenin menilai kalau tindakan imperialis Barat yang melatih dan mempersenjatai koloni mereka di samping mengeruk berbagai potensi yang ada, itu dapat berarti, mereka seperti menggali lubang kuburan sendiri di negeri jajahan mereka.

Lebih jauh lagi, buku mendedahkan mimpi kaum Sosialis Uni Soviet pasca Revolusi Oktober. Dalam esai berjudul “Oktober merah”, Lenin dalam pidatonya tahun 1918 di Komite Sentral Partai Komunis berujar, “Kami nyatakan bahwa kepentingan sosialisme, kepentingan sosialisme dunia, berkedudukan lebih tinggi ketimbang kepentingan nasional, lebih tinggi ketimbang kepentingan negara (hlm. 14).” Itulah yang menjadi mula didirikannya Komunis Internasional atau Komintern (1919-1943). Kelak, institusi ini membantu negara-negara Dunia Ketiga dalam mencapai perjuangan revolusi mereka.

Melalui institusi itu, beberapa perjuangan pun mendapat sokongan. Namun, bukan berarti pengaruh Revolusi Oktober teramini oleh semua bangsa dalam memperjuangkan revolusi mereka. Kendati visi mereka tetap menggulingkan kolonialisme, fasisme, atau imperialisme yang mencengkram kaum tani dan buruh, tetapi kemudian dalam pelaksanaannya, tidak sedikit pemimpin di negara-negara Dunia Ketiga ini memilih untuk tak lagi berkiblat pada Moskow atau Uni Soviet. Dalam esai berjudul “Komunisme Polisentris”, di Dunia Ketiga komunisme adalah gerakan yang dinamis, ia tidak diperlukan seperti agama yang tidak bisa salah (hlm.119). Seperti yang dilakukan Partai Komunis India (Marxis) atau Partai Komunis Indonesia (PKI), mereka merumuskan sendiri strategi dan taktik revolusi mereka.

Dari gambaran tersebut, buku ini tidak saja menunjukkan capaian-capaian yang terjadi pasca Revolusi Oktober. Lebih dari itu, ia juga menunjukkan kalau dalam keberlangsungannya, terdapat hal-hal yang berpaling dari tujuan awal. Namun demikian, di luar itu, buku ini pun menjadi pengingat bahwa sosialisme adalah perubahan total dalam kehidupan rakyat. Uni soviet dikenang atas gebrakannya meruntuhkan monarki, emansipasi kelas tani dan buruhnya, perangnya melawan fasisme dan dukungannya bagi gerakan-gerakan anti-kolonial (hlm. 136).

Kenangan itu masih hidup hingga hari ini. Impian sosialis tidak mati begitu saja, tetapi terus diperjuangkan dengan perbaikan-perbaikan. Di berbagai belahan dunia, bendera bintang merah ini tetap berkibar sekalipun Uni Soviet telah runtuh. Itulah hikmahnya, bahwa kepercayaan atas sebuah dunia yang berlandaskan keadilan dan bertumpu pada pemerintahan sosialis masihlah menggelora.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email