Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Anwar Tohari Mencari Mati: Sebuah Novel

gambar
Rp.73.000,- Rp.58.000 Diskon
Judul: Anwar Tohari Mencari Mati: Sebuah Novel
Penulis: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Marjin Kiri, 2021
Tebal: 213 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Segel)

Sekuel dari novel Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (2017) akhirnya terbit dengan pemilihan tajuk Anwar Tohari Mencari Mati (2021). Butuh waktu empat tahun untuk menunggunya tiba di pangkuan, tapi hanya perlu tak lebih dari empat jam menandaskan novel setebal 203 halaman ini.

Mula-mula saya menduga judul dimaksudkan sebagai pelesetan dari nama dua tokoh kaliber sastra kita: Chairil Anwar dan Ahmad Tohari. Sampai kemudian saya sadari, Anwar Tohari tak lain kepanjangan dari seorang –yang kita kenal sebagai– pembual kelas kakap, Warto, lebih tepatnya Warto Kemplung. Sifat parodikal dari judul, lebih tepatnya mengacu pada seri Mahesa Kelud milik Bastian Tito, Simo Gembong Mencari Mati.

Novel ini mengambil jarak agak jauh dari pendahulunya. Baik bentuk maupun sekuens cerita. Ia menceritakan roman Dawuk dan Inayatun serbasedikit. Dan, apabila kisah Dawuk melanglang lenggang lewat bualan Warto Kemplung di warung kopi Bi Siti, separo novel Anwar Tohari berutang nyawa pada surat pembaca dari seseorang yang, baik identitas maupun keabsahan ceritanya, layak kita ragukan untuk sementara.

Titik-titik penting yang membuat kedua kisah itu punya koherensi ialah ludruk, film India, musik dangdut, Rhoma Irama, dan hal-hal khas Mahfud Ikhwan lainnya. Juga, bagaimana kedua novel membawa kita tenggelam pada batas antara keraguan dan ketidakraguan.

Yang Berseteru, Yang Personal
Setengah jalan cerita diudar ke masa lampau guna menambah biografi dan kisah suram Anwar Tohari alias Warto Kemplung. Bisa dipastikan interaksi yang jalin-jemalin ialah perseteruan antara yang mapan dan yang terpinggirkan, atau paling tidak, diposisikan menjadi dua kutub yang saling bertentangan.

Dendam kesumat blandongan dan sinder. Pertempuran dahsyat antara ”aparat” dan ”gali”. Romansa tak bertepi Maria Ratna Dacosta, yang mengidentifikasi diri sebagai kaum terpelajar, dengan Anwar Tohari yang hidup di jalanan. Pergaulan –dan pergulatan– orang desa dan kota. Hingga para sastrawan-seniman yang berdiri di puncak menara gading dengan sastrawan-seniman yang serba-ala kadar.

Juga bisa dipastikan, seluruh friksi dipantik oleh perkara personal. Dari perseteruan sepele hingga yang menyangkut peristiwa besar negeri ini.

”Semua adalah urusan pribadi, Anwar Tohari! Proklamasi itu urusan dua orang. Madiun juga pribadi. 65 itu pangkalnya Soekarno dan Nasution, urusan pribadi lagi. Cekcok Mitro dan Moertopo, jadilah Malari, pribadi lagi…. kalian pikir Harto dan Domo memerintahkan ini demi bangsa dan negara? Beh!” (halaman 110).

Gugatan yang Memang Diperlukan
Mula-mula saya agak terganggu dengan beberapa bagian yang potensial membuat teks ini tergelincir pada novel jenis ultradidaktis yang menjemukan. Terutama di bab "Pintu Belakang Sebuah Rumah Toko". Ia berbicara cukup panjang soal sejarah sastra Indonesia, kritikan pada nama-nama beken dan hasil kerjanya.

Tapi, gugatan demi gugatan, yang kemudian dipungkasi oleh bab ”Kritikus Hendak Membunuh Pengarang”, membuat saya yakin ia memang diperlukan dan bukan sekadar tempelan dan riasan yang mempersolek. Mahfud Ikhwan, dalam hal ini, tak cuma menggugat historiografi sastra Indonesia, tapi juga melancarkan gugatan pada ekosistem keseluruhan dan menjadikannya sebagai urat nadi penceritaan.

Seluruh kalangan ia sasar dan sindir. Dari pengarang, kritikus, akademisi, media, penerbit, pembaca serbateledor, dan lebih sering kepada dirinya sendiri:

”Kalau cuma nulis macam pengarang-pengarang zaman sekarang, tiap pekan aku bisa terbitkan buku. Bayangkan, cerita asal jadi macam ’Rumbuk Randu’-nya si wartawan goblok ini saja bisa terbit di koran! Dan sepertinya banyak yang suka! Goblok memang gampang menular!” (halaman 152).

Sebagai metafiksi, Anwar Tohari Mencari Mati bergerak lincah ke pelbagai arah. Novel tipis yang menggugat terlalu banyak hal, tetapi dengan porsi yang hampir presisi. Dan, tentunya, dengan embrio yang melulu sama dengan pendahulunya: para pembual ulung, dalam tradisi lisan (bualan Warto Kemplung), dan tulisan (surat pembaca).
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email