Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aib dan Nasib

gambar
Rp.82.000,- Rp.65.000 Diskon
Judul: Aib dan Nasib
Penulis: Minanto
Penerbit: Marjin Kiri, 2020
Tebal: 269 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Segel)

“Yang aku takutkan selama ini baru saja terjadi,” ujar Nurumubin kepada Marlina. “Karena kau tidak pernah makan bangku sekolah dan tidak pernah berpikir panjang,” lanjutnya. Marlina, anak lelaki pertamanya, bergeming. (hlm. 220)

Bagi Nurumubin, makan bangku sekolah itu penting. Melaluinya, orang dapat mentas dari kemiskinan. Sugih. Tak hanya bisa makan empat sehat lima sempurna, harkat keluarganya pun terangkat.

Di novel, pembaca dapat menemu banyak orang tinggal di desa. Di antaranya, lima remaja yang dikisahkan bersekolah di tempat yang sama. Termasuk Pang Randu dan Godong Gunda. Mereka adik Marlina. Di sekolah, mereka belajar mengutak-atik mesin.

Ajaib. Desa dibayangkan masih areal persawahan dan perkebunan. Desa belum dikuasai pabrik, mesin, dan polusi. Namun, mereka berjurusan mesin. Sekolah itu memberikan pilihan. Pabrik segera didatangkan ke desa atau pemuda desa seperti mereka dikirimkan ke pabrik-pabrik di luar desa. Menjadi buruh.

Jadi, sekolah menjauhkan orang dari alam lingkungannya. Dari soal-soal desanya. Oh, sekolah malah menimbulkan masalah baru.

Namun sekali lagi, sangka Nurumubin—juga orang tua Kicong dan lain-lain—menyekolahkan anak sudah pilihan tepat. Ada benarnya. Tanpa ijazah orang bisa jadi penjaga toko seperti Marlina atau tukang becak seperti Mang Sota, tetapi orang tak bisa jadi buruh pabrik, perangkat desa, atau anggota DPR. Padahal, pekerjaan lain macam itu perlu diangankan. Mengingat lahan pertanian makin susut.

Jadi, sekolah itu investasi. Biaya mahal yang susah payah dipenuhi sekarang dijanjikan dinikmati untungnya pada masa depan. Orang lupa. Investasi juga bisa rugi. Terutama jika pengetahuan tentang produk investasi misalnya, tak diketahui.

Nurumubin dan banyak orang tua di desa sangat mungkin termasuk golongan itu. Mereka tak banyak tahu institusi menjual pendidikan sebagai komoditas bermutu rendah. Akibatnya, orang-orang desa lagi-lagi menjadi orang merugi. Orang kalah.

Mari bicara orang kalah lain di novel. Gulabia. Dia teman Pang Randu dan pacar Kicong. Dia hamil oleh Kicong yang segera lari setelahnya. Gulabia terpaksa kawin dengan Kartono, tukang angkot yang juga pernah bersetubuh dengannya.

Adegan perkenalan, perbincangan, dan akhirnya persetubuhan Kartono-Gulabia terjadi karena Kartono ditinggal istri menjadi TKW. Banyak perempuan di desa menjadi TKW karena negara tak mampu menjamin kehidupan layak di desa.

Nah, kawin dengan Kartono malah masalah baru. Gulabia mengalami kekerasan. Fisik, psikologis, verbal, dan seksual. Kartono memaksa Gulabia beradegan BDSM (Bondage, Discipline, Sadism, Masochism). Pembaca ragu Kartono membaca trilogi Fifty Shades of Grey. Entah kalau terinspirasi film-film cabul.

Diperlakukan kasar tiap hari, Gulabia keguguran. Usia kandungannya 6 bulan. Aneh. Pengarang menggambarkan sebagai keluar gumpalan darah yang tinggal dibuang ke pelataran belakang rumah. (hlm. 137-138) Padahal, janin berusia 6 bulan umumnya telah memiliki berat sekira 0,60 hingga 1 kilogram dan panjang 35-38 cm. Janin itu sudah dapat dilahirkan (secara prematur) meski dengan tingkat harapan hidup kurang dari 50%. Artinya, janin bukan lagi gumpalan darah. Ia telah berorgan tubuh lengkap.

Dari Gulabia, pembaca mengerti perempuan rentan ketakadilan dan kekerasan. Alih-alih memberikan dukungan, banyak pihak justru mempersalahkan. Pembaca lekas ingat nasib RUU PKS. Wakil rakyat pernah bilang, itu sulit.

Ya, sama sulitnya dengan mencari kepala desa, babinsa, dan bhabinkamtibmas dalam novel. Pembaca menduga itu cermin absennya negara di soal-soal rakyat. Tokoh-tokoh di novel memilih mengatasi masalah dengan caranya sendiri. Kerap berupa kekerasan, perdukunan, atau pelarian. Bukannya berhasil, mereka terjebak permasalahan baru. Akhirnya, lagi-lagi mereka menjadi orang yang kalah.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email