Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX

gambar
Rp.50.000,- Rp.40.000,- Diskon
Judul: Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX
Penulis: Peter Carey & Vincent Houben
Penerbit: KPG, 2016
Tebal: 124 halaman
Kondisi: Baru (Ori Segel)

Perempuan-perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX merupakan salah satu buku karya Peter Carey dan Vicent Houben. Buku ini merupakan buku sejarah perempuan di Jawa pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Peran perempuan dan bagaimana perempuan Jawa tampil sebagai sosok yang sangat berbeda dengan perempuan setelah abad ke-19.

Perempuan-perempuan Perkasa di Jawa Abad XVII-XIX ini merupakan buku yang cukup mudah untuk dipahami bagi sejarawan yang ingin melakukan kajian mengenai sejarah Indonesia dari pertengahan abad ke-18 hingga era modern. Bahasa yang mudah dipahami dan jumlah halaman yang tidak terlalu banyak sehingga memudahkan bagi pembaca untuk memahami alur dari apa yang dituliskan oleh Peter Carey dan Vincent Houben.

Perempuan Jawa pada abad ke-18 digambarkan sangat berbeda jauh dari bagaimana kisah perempuan Jawa setelah abad ke-19. Perempuan memiliki kedudukan dan peran penting dalam kehidupan di kerajaan maupun diluar dari perempuan kerajaan. Seorang selir memiliki peran yang besar sama halnya dengani seorang ratu. Perempuan Jawa abad ke-18 ini bahkan bisa menembus bidang yang dianggap sebagai dunia laki-laki, yaitu militer dan politik.

Di bidang keuangan pun perempuan Jawa ini memegang kedudukan dan peran penting dalam menjalankan bisnis, terdapat salah satu permaisuri Sultan Hamengkubuwono II yang menjelma menjadi seorang first lady dan memiliki kios di Pasar Bringharjo. Pada masa itu perempuan dianggap jauh lebih baik dalam hal keuangan dibandingkan laki-laki.

Di buku ini, Peter Carey dan Vincent Houben juga menjelaskan mengenai Nyi Roro Kidul serta tokoh perempuan dalam pewayangan yang memiliki kehebatan di tanah Jawa. Seperti contohnya Drupadi yang setia pada sumpahnya untuk tidak mengikat rambut dan memakai perhiasan di kepalanya sebelum ia bermandikan darah Dursasana, seorang Pangeran Kurawa yang melecehkan dan hendak menelanjanginya di tengah Istana Hastinapura. Serta Srikandi yang menjadi pemanah dengan panah sakti. Bahkan Subadra sebagai gambaran perempuan Ideal yang menjadi wadah kesaktian dan penerus warisan leluhur.

Perempuan pada abad XVIII-XIX di Jawa dapat menghilangkan stigma bahwa perempuan hanya sekedar pada lingkup dapur-sumur-kasur. Mereka menjelma sebagai sosok yang sangat tangguh, terdapat seorang Putri Kraton yang berhasil menikam Gubernur Jendral Inggris. Putri Kraton tersebut berseragam resmi prajurit estri. Selain itu, terdapat Dua Srikandi pada awal abad ke-19 yaitu Raden Ayu Yudokusumo dan Nyai Ageng Serang yang mampu menjadi panglima dalam Perang Jawa.

Buku Perempuan-Perempuan Perkasa Abad XVIII-XIX ini menjadi buku yang ringan dibaca dan menarik bagi sejarawan yang menginginkan pengantar untuk melakukan pendekatan dengan sejarah Indonesia dari pertengahan abad XVIII hingga era modern. Selain itu, bagi perempuan yang menginginkan adanya kesetaraan dan hilangnya stigma bagi perempuan atas dapur-sumur-kasur dapat memahami dari sini bahwa perempuan Jawa sudah sedari dulu memiliki andil bagian dalam bidang yang dianggap sebagai dunia laki-laki.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email