Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Babad Batu (Sapardi Djoko Damono)

gambar
Rp.55.000,- Rp.40.000,- Diskon
Judul: Babad Batu
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Gramedia, 2016
Tebal: 110 halaman
Kondisi: Baru (Ori Segel)

Babad Batu adalah kumpulan sajak terbaru sang penyair besar Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Buku ini diterbitkan Agustus 2016 lalu. Tebal bukunya sendiri tidak terlalu tebal selayaknya kumpulan-kumpulan sajak Sapardi yang lain seperti Hujan Bulan Juni. Agaknya sang penyair lebih memperbaharui sajak-sajaknya sehingga dalam buku Babad Batu, sajak-sajaknya bukan berasal dari masa lampau, alias bukan sebuah kumpulan sajak yang isinya telah dikurasi sebelumnya.

Dalam buku ini sang penyair seperti fokus pada tema-tema abstrak tak biasa. Dalam buku ini sendiri terdapat 15 sajak yang sebagian besar panjang-panjang. Secara umum terbagi-bagi kembali dalam tiga bab besar yaitu Kitab Pertama, Kitab Kedua, dan Kitab Ketiga. Pada Kitab Pertama terdiri dari tiga puisi, yaitu Mula Batu, Atas Nama Batu, dan Ziarah Batu.

Narator tiga puisi tersebut seakan adalah orang sekarat yang tengah meregang nyawa. Ia menyuarakan banyak perihal yang ia sampaiakan tentu saja tak secara langsung. Banyak pengamat buku yang mengaitkan hal ini dengan kondisi terakhir sang penyair Sapardi. Beberapa bulan terakhir ia dirawat intensif karena mungkin saja umur 76 tahun sudah tak berkompromi lagi dengan kesehatannya. Jadi, frasa babab batu yang banyak bertebaran dalam bagian pertama barangkali saja adalah representasi sang penyair sendiri yang ingin menyuarakan kegelisahannya selama ini, menjalani masa tua.

Pada Kitab Kedua sang penyair bicara banyak hal. Salah satu sajak yang mencolok dalam bab tersebut adalah Pulang Dari Pemakaman Teman yang Sapardi tunjukkan langsung pada salah satu kawannya yang mungkin saja sudah almarhum, ia bernama Wyslawa Szymborska. Yang menarik, sajak tersebut berisi delapan bait yang tiap-tiap baitnya dituturkan dari narator yang berbeda-beda. Masing-masing berbicara mengenai ‘kesan terakhir’ sang mendiang yang saat itu diistirahatkan untuk yang terakhir kalinya. Sungguh puisi yang sangat berat dan penuh simpati.

Pada bab terakhir alias Kitab Ketiga, hanya tersedia satu puisi saja yang judulnya teramat panjang begitu pun isinya yang tercetak di sepanjang 13 halaman. Puisinya termasuk puisi prosaik dengan judul Berbicara tentang Perkara yang Meskipun Mungkin Tidak Ada Kait-mengaitnya dengan Kami dan Tidak Berguna tapi Kalau Tidak Dijalani Tidak Akan Pernah Diketahui Berguna atau Tidaknya. Puisi ini berisi simbolisasi yang sulit diterka maksud tersembunyinya. Puisi ini mengenai petualangan sebagian orang ke negeri batu yang ajaib, mistik, dan aneh.

Agaknya, Sapardi sebagai penyair, kini tidak memain-mainkan diksi sederhana lagi dan makna yang mudah ditangkap pembaca lewat karya-karyanya. Seakan, ia sengaja ingin pembacanya melewati satu level lebih tinggi dalam wahana pengapresiasian puisi-puisi buah karya beliau. Meskipun begitu, buku Babad Batu masih layak dinikmati para pencinta dan penggiat buku-buku sajak Indonesia.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email