Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sufi-Sufi Diaspora: Fenomena Sufisme di Negara-Negara Barat

gambar
Rp.90.000,- Rp.70.000,- Diskon
Judul: Sufi-Sufi Diaspora: Fenomena Sufisme di Negara-Negara Barat
Penulis: Jamal Malik & John Hinnels
Penerbit: Mizan, 2015
Tebal: 380 halaman
Kondisi: Baru (Ori Segel)

Pada abad ke-21 ini, semakin marak pemberitaan tentang masuknya imigran daru negara ke berbagai negara maju di benua Eropa dan Amerika dalam jumlah besar. Mayoritas imigran tersebut datang untuk memulai hidup baru yang mebih baik karena di negara asal mereka sedang gaduh (chaos).

Salah satu faktor utama yang memantik kedatangan mereka secara besar-besaran adalah masalah ekonomi. Negara-negara maju membutuhkan tenaga kerja dengan upah murah, sedangkan para imigran memerlukan pekerjaan dan keamanan yang tidak tersedia di negara asal.

Selain membawa keluarga, imigran tersebut datang dengan membawa budaya dan keyakinan dari daerah asal. Seiring dengan semakin meningkatnya populasi mereka, akhirnya terbentuklah komunitas-komunitas yang disatukan oleh beragam identitas; negara, etnis, agama, maupun sekte. Salah satunya adalah munculnya perkumpulan-perkumpulan kaum sufi.

Melihat kenyataan demikian, Jamal Malik dan John Hinnels seperti terpanggil untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan kultur dan keyakinan ini. Pembahasan tersebut disajikannya dalam buku yang berjudul Sufi-sufi Diaspora; Fenomena Sufisme di Negara-negara Barat. Sesuai dengan judulnya, tentu saja bahasan utama dalam buku ini adalah mengenai keberadaan komunitas-komunitas sufi di dua benua; Amerika dan Eropa yang pada awalnya terbentuk, dikenalkan dan berkembang di tangan para imigran asal berbagai negara.

Tidak tanggung-tanggung, pembahasan dalam buku ini tidak hanya dipaparkan oleh seorang atau dua orang saja. Agar objektif, Jamal Malik dan John Hinnels menggandeng beberapa akademisi Barat yang secara intens mengkaji dinamika Islam terkini di negeri Barat.

Salah satunya adalah Marcia Hermansen yang merupakan Guru Besar Kajian Keislaman di Jurusan Teologi, Loyola University, Chicago. Menariknya, Hermansen memaparkan bahwa gerakan sufisme di Amerika memiliki tiga tipe; perenial, hibrida, dancangkokan. (hal. 62).

Tipe perenial adalah gerakan-gerakan di mana identifikasi dan muatan Islam secara spesifik tidak ditekankan karena lebih condong kepada pandangan yang ‘perenialis’, ‘universalis’, ataupun ‘tradisionalis’. Contoh gerakan ini adalah The Sufi Order International, yang dipimpin Pir Vilayat Khan dan Zia Inayat Khan.

Istilah hibrida disematkan kepada gerakan-gerakan yang mengidentifikasi lebih dekat dengan sumber dan muatan Islam.Tipe ini umumnya didirikan dan dipimpin oleh imigran Muslim yang lahir dan dibesarkan dalam masyarakat muslim dari generasi akhir 1960-an dan 1970-an. Contoh tipe ini yang paling populer adalah tarekat Naqsyabandi-Haqqani yang dipimpin oleh guru asal Cyprus, Syaikh Nazim.

Sementara itu, Cangkokan adalah istilah yang digunakan untuk mengacu kepada gerakan sufi yang berlangsung di lingkar-lingkar kecil imigran dengan lebih sedikit beradaptasi dalam konteks Amerika.

Kemudian ada juga hal menarik yang dijabarkan oleh David W. Damrel. Menurut Damrel kalangan yang memusuhi kaum sufi di Amerika dan Eropa bukanlah dari pemerintah setempat maupun kalangan non-muslim. Perlawanan justru muncul dari kaum Salafi-Wahhabi dengan menyebut sufisme sebagai perilaku yang sesat. Mereka bahkan melancarkan propaganda terhadap Tarekat Naqsyabandi-Haqqani dan Syaikh Hisyam Kabbani. (Halaman 214)

Aksi tersebut tidak menyurutkan kelompok sufi ini. Bahkan, di Amerika Utara mereka sukses mendapatkan pengikut dalam jumlah yang cukup besar, terutama dari kalangan muallaf, hanya dalam waktu sepuluh tahun. Para pengikutnya juga sebagian besar berasal dari kalangan Muslim Amerika non-imigran.

Dalam buku setebal tiga ratus delapan puluh halaman ini informasi dan data dihadirkan secara menarik. Kolaborasi antara Jamal Malik dan John Hinnels dalam menyeleksi dan mengoreksi berbagai makalah pada sebuah lokakarya di Inggris berhasil menghadirkan topik sufisme dengan isu-isu yang beragam; aktor, sarana, media, ide, dan kelembagaan sufisme dalam konteks diaspora.

Selain penting bagi para pengkaji sufisme dan dinamika Islam di negara-negara Barat, buku ini juga sangat berharga bagi pembaca secara luas untuk menampilkan wajah “lain” Islam yang selama ini “dipaksakan” identik dengan kaum radikalis-teroris yang berkedok agama (Islam) seperti ISIS.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email