Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bung Karno "Menerjemahkan" Al-Qur'an

gambar
Rp.80.000,- Rp.60.000,- Diskon
Judul: Bung Karno "Menerjemahkan" Al-Qur'an
Penulis: Mochamad Nur Arifin
Penerbit: Mizan, 2017
Tebal: 292 halaman
Kondisi: Baru (Ori Segel)

Sebagian besar orang masih melihat sosok Bung Karno sebagai seorang nasionalis. Orang jarang yang menyebutnya sebagai seorang religius, seorang pemimpin yang mendasari perjuangan memperjuangkan negaranya dengan kitab suci Alquran.

Bung Karno Menerjemahkan Alquran adalah buku karya Mochamad Nur Arifin, seorang soekarnois, tokoh muda Trenggalek, Jawa Timur. Ini adalah karya pertamanya yang dihasilkan dari kajian-kajian atas ide-ide sang proklmator tersebut yang diselaraskan dengan nilai-nilai Alquran dan Islam.

“Saya tidak tahu akan diberi hidup oleh Tuhan sampai umur berapa. Tetapi permohonanku kepada-Nya ialah supaya hidupku itu hidup yang manfaat. Manfaat bagi tanah air dan bangsa, manfaat bagi sesama manusia. Permohonanku ini aku panjatkan pada tiap-tiap sembahyang. Sebab, Dialah asal segala asal. Dialah Purwaning Dumadi/Sangkan Paraning Dumadi,” kata Bung Karno.

Di awal buku, kita langsung disuguhi dengan religiusitas Bung Karno, mulai dari bentuk kegelisahannya meski seorang mahasiswa arsitek, otak dan hatinya tertambat pada persoalan politik bangsanya. Dia cinta tanah air, ada dilema dalam diri Soekarno.

Hal yang sama juga pernah dirasakan Nabi Muhammad SAW. Meskipun bergelar Rasulullah dan menjadi maksum atas segala kesalahanya, kegelisahan selalu menyergap beliau. Masa depan umatnya, Islam.

Buku ini bercerita tentang sosok Bung Karno tidak hanya dikenal sebagai seorang nasionalis, tetapi juga dikenal sebagai seorang religious. Ia selalu berbeda, termasuk ketika menyampaikan sambutan-sambutan sebagai Presiden Republik Indonesia. Tidak hanya jago dalam berorasi, tetapi juga dalam memilih tema. Ia tidak pernah kekurangan tema, layaknya seorang ulama. Di berbagai pidatonya, beliau banyak mengutip ayat-ayat Alquran.

Pada 30 September 1960, Presiden Soekarno berdiri di Podium Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-15 dengan Judul To Build The World A New, membangun tatanan dunia baru. Quran berkata: Hai sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia di antara kamu sekalian ialah yang lebih takwa kepada-Ku (Al-Hujurat [49] ayat 13. (hlm.32-33).

Penulis buku ini mengajak kepada pembaca untuk meneladani keislaman seorang Bung Karno. Jangan Lupakan Sejarah: Inspirasi dari Alquran, mengajak untuk jangan sekali-kali melupakan sejarah karena sejarah adalah semacam kaca benggala tentang siapa kita, harus ke mana kita, dan apa akibat-akibat dari setiap langkah kita.

Pada 17 Agustus 1966, Bung Karno berpidato di depan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dengan Judul pidatonya Karno Mempertahankan Garis Politiknya yang Berlaku, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Penulis tampaknya berhasil menjelaskan bahwa pidato tersebut untuk terus mengingat sejarah.

Hal itu juga termaktub dalam Alquran Surah Yunus [10] ayat 92: Hari ini aku selamatkan badanmu, hai Fir’aun, agar menjadi bukti sejarah bagi orang-orang yang hidup setelahmu. Alquran menegaskan bahwa umat manusia harus belajar dari sejarah. Cukup hanya Fir’aun saja yang terjebak dalam kesalahan yang sama yang telah dilakukan oleh Fir’aun.

Bagi Bung Karno, jika saja sejarah dibentangkan sebagai sebuah pelajaran sehingga terlihat dengan jelas nasib tragis yang menimpa penguasa-bangsa yang zalim, niscaya manusia dan seluruh bangsa di dunia ini akan memperlakukan yang lainnya dengan adil dan manusiawi.

Buku ini memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan, tersebut antara lain, berisi tentang pidato-pidato Bung Karno yang dikaitkan dengan ayat-ayat Alquran. Dalam buku ini juga, pembaca disuguhkan dengan sosok Bung Karno sebagai seorang nasionalis-religius; setiap langkahnya didasarkan terhadap perintah dan ayat-ayat suci Alquran.

Bahasa yang digunakan juga ringan dan mudah untuk dipahami tanpa menghilangkan ciri khas cerita tentang Bung Karno. Buku ini juga dilengkapi dengan kata kunci yang ditulis dengan warna yang berbeda dengan tulisan pokok, sehingga memudahkan pembaca untuk memahami. Buku ini juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk menanamkan sikap nasionalisme dan religius terhadap anak-anak muda.

Masih begitu banyak kajian menarik tentang pandangan Soekarno dalam bernegara yang diselaraskan kepada ayat Alquran, Tentu saja semua tidak akan mungkin disampaikan pada resensi ini. Seperti kisah ijtihad Bung Karno dan Nahdlatul Ulama tentang Indonesia, kepeloporan Bung Karno dalam gerakan Internasional KAA dan Gerakan Non-Blok.

Buku Bung Karno Menerjemahkan Alquran ini patut dijadikan sebagai referensi anak muda untuk mengetahui sepak terjang Bung Karno dalam konteks keislaman. Hal ini juga untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa asas-asas negara ini, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 selaras dengan napas Alquran dan nilai-nilai keislaman, maupun agama lainnya.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email