Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

The Red-Haired Woman

gambar
Rp.70.000,- Rp.55.000,- Diskon
Judul: The Red-Haired Woman
Penulis: Orhan Pamuk
Penerbit: Bentang Pustaka, 2018
Tebal: 352 halaman
Kondisi: Baru (Ori Segel)

Cem baru berusia 16 tahun ketika dia bertemu perempuan berambut mewah yang usianya 33 tahun. Cem jatuh cinta pada perempuan itu. Mencuri waktu disela menemani tuannya penggali sumur, Master Mahmud, membeli tembakau di kota terdekat, Ongoren. Perempuan itu tersenyum padanya, dunianya jungkir balik, Cem dilalap cinta membara. Suatu malam, Cem bercinta dengannya.

Sejak itu pula cerita berputar begitu cepat. Pikiran Cem tak pernah lagi focus pada pekerjaannya sebagai asisten penggali sumur. Tanpa sengaja, dia melepaskan ember yang menimpa Master Mahmud, yang sudah dia anggap sebagai ayah dan sebaliknya, di 20 meter sumur yang digalinya. Cem panik, mencari bantuan yang dia tidak dapat, lalu pulang ke Istanbul, melupakan semuanya. Cem menikah tanpa dikaruniani anak, menjadi raja property di Istanbul.

Tiga puluh tahun kemudian….. Cem bertemu kembali dengan pemuda yang mengaku sebagai anaknya, dari perempuan berambut merah itu. Perempuan yang sama yang juga adalah kekasih ayah Cem, aktivis gerakan kiri yang bolak-balik keluar masuk penjara karena menentang pemerintah. Ayah dan anak bertemu, berseteru, lalu ada kematian. Salahkah Cem yang tidak pernah tahu kalau dia punya anak dari persetubuhan remajanya? Salahkah Enver, anaknya, menuntut keadilan, selamanya hidup dalam kemiskinan, ketidaktahuan tentang sosok ayah? Salahkah jika anak ‘tanpa sengaja’ membunuh ayah karenanya?

Sepanjang hidupnya, Cem terobsesi pada kisah Oedipus the King, dari Yunani dan Shahnameh dari Persia dengan cerita yang hampir sama, anak dan ayah dengan ketidaktahuannya saling membunuh. Cerita berulang seperti doa dan mantra, lalu mewujud pada kejadian, itulah yang dialami Cem.

Orhan Pamuk buat saya tampil berbeda di dalam cerita ini, begitu cepat, begitu ringkas, malah terkesan terburu-buru selesai. Biasanya cerita-cerita Orhan Pamuk, berjalan lamban, meski lamban, dia bisa memainkan emosi saya sebagai pembacanya untuk betah berlama-lama membaca sampai selesai. Buku ini, selesai dalam waktu semalam saja. Tapi seperti buku yang lain, Pamuk sukses meninggalkan kesan.

Selama membaca buku ini, saya mencoba membaca apa yang menjadi ciri khas dari Pamuk? Yang kecil yang bisa bercerita tentang dia. Bandingkannya dengan Murakami yang selalu menyelipkan jazz dan kucing dalam setiap cerita yang dia buat. Pamuk tidak! Saya belum membaca siapa Pamuk sebenarnya, buku biografi singkatnya pun masih dalam box plastik di rumah. Saya hanya paham, cerita-cerita Pamuk sangat politis, tentang pandangan kiri, tentang pergulatan budaya barat dan timur yang bertemu di Turki, Turki yang nyaris kehilangan identitasnya, sebagai asia atau eropa, atau Turki saja sebagaimana Iran selalu bilang, kami Persia, bukan arab, bukan asia. Pamuk selalu menceritakan bagaimana sebuah kota seperti Istanbul berubah dari masa ke masa, dan manusia didalamnya dipaksa menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email