Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Seri Tempo: Hamengku Buwono IX

gambar
Rp.60.000,- Rp.45.000,- Diskon
Judul: Seri Tempo: Hamengku Buwono IX
Penulis: Tempo
Penerbit: KPG, 2018
Tebal: 178 halaman
Kondisi: Baru (Ori Segel)

Sri Sultan Hamengku Buwono IX merupakan sosok yang berjasa untuk rakyat Yogyakarta. Beliau mempunyai jasa yang banyak serta pengorbanan untuk rakyat Yogyakarta beliau membuat selokan yang sangat panjang untuk sumber air bagi rakyat Yogya. Sebagai seorang anak raja yang melatarbelakangi rajanya telah terikat kontrak dengan belanda. Ternyata beliau dididik dengan cara yang tidak biasa, sangat di luar kebiasaan. Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dengan istri kelimanya RA Kustilah?KRA Adipati Anum Amangku Negara/ Kanjeng Alit. Beliau lahir pada masa pemerintahan Belanda di Ngayogyakarta Hadiningrat pada 12 April 1912 dengan nama Bendoro Raden Mas Dorodjatun di Ngasem. Sebagai keturunan langsung dari Sultan, ia diangkat menjadi Raja Kesultanan Yogyakarta ke sembilan mulai 18 Maret 1940 sampai usia 76 tahun pada 2 Oktober 1988 di Amerika. Melalui buku ini akan mendalami biografi Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang berawal dari kekuasaan yang merebut di tanah Yogya. Berhasil dihimpun dari majalan tempo yang berangkat dari kisah oleh para tokoh bangsa di era kepemimpinan Soekarno. Menariknya tulisan ini sebagai pendukung referensi bagi mendalami secara luas tentang perjalanan kisah Sri Sultan Hamengkubuwono IX diangkat jadi kepala daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta. beberapa poin yang dikemas dalam cerita beliau.

Saat Soekarno-Hatta mengumumkan kemerdekaan, sebagai Raja Yogyakarta, Sultan sebetulnya bisa menolak bergabung dengan Indonesia dan membentuk pemerintahan sendiri. setidaknya, ketika mendengar kabar proklamasi di Jakarta, ia bisa menunggu, lebih dulu mempelajari situasi untuk kemudian menentukan pilihan. Namun itu tak dilakukannya. Dengan cepat ia menyatakan Yogyakarta dan keraton berada di bawah Republik Indonesia (hal 4). Pada 5 November, Sultan mengeluarkan amanat posisi Yogyakarta, Pertama, Ngayogyakarta Hadiningrat adalah kerajaan berwujud daerah istimewa Republik Indonesia. kedua, Sultan adalah kepala daerah Yogyakarta. Ketiga, Sultan bertanggung jawab langsung kepada presiden. Pada hari yang sama, Paku Alam VII mengeluarkan pernyataan yang sama untuk kerajaannya. “Sejak hari itu, Kerajaan Yogyakarta dan Pakualaman sudah jadi satu, Daerah istimewa Yogyakarta dengan Sultan sebagai kepala dan Pangeran Paku Alam sebagai wakilnya,” kata Selo Soemardjan dalam Perubahan Sosial di Yogyakarta (hal 17).

Untuk merebut kedaulatan, republik ini harus melewati jalan panjang. beberapa perundingan yang dilakukan selalu kandas di tengah jalan. Hingga puncaknya, 2 November 1949, Pemerintah Belanda dan Republik Indonesia Serikat menyepakati peralihan kekuasaan sepenuhnya dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Di kemudian hari, mengenang masa di Belanda, Hamengkubuwono IX mengatakan dia memang sengaja menghindari pembicaraan tentang politik dengan para mahasiswa Indonesia di Negeri Kincir Angin. HB IX sadar betul bahwa dia selalu diawasi telik sandi, bahkan setelah ia menjadi Raja Ngayogyakarta Hadiningrat (hal 55). Tapi perjalanan ke puncak singgasana bukan apa rintangan. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, yang sejak abad ke-18 ikut campur dalam suksesi kepemimpinan keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mengajukan kontrak politik yang tak sejalan dengan keinginan Dorojatun. Putra mahkota itu masih harus melewati perundingan alot dengan Lucien Ada, Gubernur Yogya yang mewakili pemerintah Hindia Belanda (hal 62).

Berbagai dimensi kehidupan sosial dan politik diatur di sana. Diantaranya soal kedudukan sultan, kesultanan, dan adipati anom; pengaturan penghasilan kesultanan: fungsi pepatih dalem; kepegawaian; kesehatan; perpajakan; kepolisian; badan perwakilan hingga urusan perkebunan. Pasal demi pasal dibahas dengan sungguh-sungguh mengingat Hamengkubuwono VIII pernah mewanti-wanti agar sang pangeran teliti dalam bahas kontrak dengan Belanda. Keduannya sama-sama kesal karena perundingan kerap mentok tembok. Adam bahkan sempat secara sini mengatakan kepada Dorojatun, seandainya yang di hadapannya adalah Hamengkubuwono VIII, pasti negosiasi tak akan sesukar ini. Dorojatun membalas ucapan Adam dengan mengatakan bahwa dokter hukum lulusan Leiden itu tak kenal ayahnya luar-dalam. Pada akhirnya 12 Maret 1940, kontrak politik antara Keraton dan pemerintah Hindia Belanda ditandatangani kedua belah pihak. Sepekan kemudian, 18 Maret 1940, Dorojatun naik takhta. Dia dinobatkan menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Inilah poin-poin dalam buku Biografi Hamengkubuwono. Memang buku ini dikemas dengan foto kehidupan antara Hamengkubuwono IX, Dorojatun, dan keluarga ningrat lainnya. Jadi kesimpulan yang diperoleh dari buku ini adalah bahwa hamengkubuwono selalu memimpin dengan berwibawa serta bertanggung jawab untuk menempati tanah Yogyakarta.

M. Ivan Aulia Rokhman, mahasiswa Universita Dr. Soetomo Surabaya.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email