Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Trilogi Soekram (Sapardi Djoko Damono)

gambar
Rp.62.000,- Rp.47.000,- Diskon
Judul: Trilogi Soekram
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Gramedia, 2015
Tebal: 275 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Stok lama)

Sesuai judulnya, buku ini memuat tiga kisah tentang Soekram. Seorang tokoh yang menggugat pengarangnya sebab sang pengarang keburu meninggal sebelum menyelesaikan tulisannya. Artinya, Soekram merasa digantung.

Di cerita pertama berjudul "Pengarang telah mati", Soekram menuntut agar ceritanya diselesaikan dan dipublikasikan melalui teman si pengarang yang telah mati, yakni editornya. Ceritanya sendiri berlatar belakang kerusuhan bulan Mei tahun 1998 disertai konflik asmara antara Soekram dengan Ida, Soekram dengan Rosa, dan Soekram dengan istrinya.

Di cerita kedua berjudul "Pengarang belum mati", dikisahkan sang editor bertemu kembali dengan pengarang pencipta tokoh Soekram yang ternyata belum mati. Pengarang tersebut menggugat editor untuk menerbitkan cerita tentang Soekram yang telah dibuatnya hingga tuntas. Ceritanya tentang Soekram dan konflik keluarganya. Ayahnya penganut partai banteng, adiknya cenderung ke gerakan revolusi dan ia sendiri tergabung dalam partai nasionalis, tapi pasif dan apatis. Belum lagi kisah asmaranya dengan Maria yang berbeda keyakinan.

Di cerita terakhir, berjudul "Pengarang tak pernah mati", Soekram geram membaca cerita tentang dirinya yang dituliskan oleh pengarang yang ternyata belum mati itu. Akhirnya ia memutuskan untuk menuliskan sendiri kisahnya. Yaa... Soekram tokoh rekaan yang berniat menjadi pengarang atas kisahnya sendiri, sehingga pengarang tak akan pernah mati. Cerita dalam kisah ini sungguh menarik. Sebab berkelindan dengan kisah robohnya surau kami karya A.A. Navis, Kartini, Semar, dan Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Bahkan Soekram sendiri sempat bertemu dengan Marah Rusli. Lalu Soekram sempat kebingungan sendiri dengan identitas dirinya sebagai tokoh atau pengarang.

Ide ceritanya begitu menarik. Mengangkat tentang hubungan antara penulis dengan tokoh fiktif karangannya sendiri. Lucu yang mikir! Ditambah isu-isu yang disampaikan sebagian besar merupakan sejarah. Jika saja pembacanya tak membaca atau tahu tentang isu zaman dahulu yang dipakai pengarang, mungkin ia akan kesulitan menemukan apa menariknya buku ini. Terlebih di cerita ketiga. Saya banyak tertawa, membayangkan tokoh-tokoh itu diciptakan dan diubah sesuai keinginan Soekram. Alur cerita dibolak-balikkan, tidak sesuai cerita awal mula. Sungguh cerdas.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email