Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tabula Rasa (Ratih Kumala)

gambar
Rp.58.000,- Rp.25.000,- Diskon
Judul: Tabula Rasa
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia, 2016
Tebal: 202 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Stok lama)

Tabula Rasa merupakan novel karangan Ratih Kumala sebagai “Pemenang Ketiga Sayembara Novel DKJ 2003”. Bisa dikatakan novel Tabula Rasa cukup eksperimental atau unik (setidaknya pada masa itu). Dalam menyampaikan cerita, Ratih Kumala cepat berganti sudut pandang. Terkadang cerita disampaikan dari sudut pandang tokoh Galih, lalu pindah sebagai Violet, pindah menjadi Raras, pindah lagi menjadi Galih, dan begitu seterusnya. Selain itu alurnya juga maju mundur; dari masa kini melompat ke masa lalu, melompat lagi ke masa kini. Awalnya saya agak kesal dengan pola penceritaan seperti itu, namun tema yang diusung Tabula Rasa cukup membuat saya tertantang menyelesaikannya. Lambat laun saya bisa mengikuti suguhan sang penulis.

Ratih Kumala mengangkat beberapa kisah yang cukup “tabu”. Pada awal cerita, pembaca akan berkenalan dengan tokoh bernama Galih. Cerita keberadaannya di Rusia bersinggungan dengan ideologi komunis yang diusung negara tersebut. Kemudian dari komunisme Rusia, merembet pada kontroversi sejarah Gerakan 30 September 1965 yang terjadi di Indonesia.

Namun sayang, muatan sejarah yang ingin diselipkan Ratih masih terasa “kasar”. Muatan sejarah seperti terpisah dari cerita yang disuguhkan. Rasanya seperti ketika sedang membaca satu artikel, tiba-tiba muncul pop-up iklan. Ya, begitu. Kurang lebih. Selain secara harfiah, buku ini memang tak ragu menyebutkan nama-nama merek dagang alias ngiklan. Kelebihan lain, saya suka bagaimana Ratih menggambarkan tentang Rusia dari sudut pandang tokoh Galih.

Komunis dan Rusia tidak sepenuhnya menjadi latar Tabula Rasa. Hanya secuil informasi yang muncul saat pengisahan Galih. Tetapi Ratih menyuguhkan kisah “tabu” lain mengenai penggunaan narkoba melalui tokoh Violet. Kondisi di sebuah rehabilitasi tersuguhkan cukup baik dalam Tabula rasa. Ratih juga fasih mendeskripsikan apa yang terjadi di krematorium, berhasil membuat saya sedikit mual. Tetapi pada beberapa bagian, cerita Violet dan rehabilitasinya terasa membosankan. Terutama saat Ratih menghadirkan kutipan tentang undang-undang psikotropika.

Ratih Kumala juga berani mengangkat kisah Raras yang mengeksplorasi orientasi seksualnya. Dalam Tabula Rasa, tokoh Raras tak hentinya mempertanyakan jati dirinya, apa dia mencintai Violet, Galih, atau dia mencintai keduanya. Apa dia seorang lesbian, heteroseksual, atau biseksual. Tapi seiring perjalanan hidup beserta masalahnya, berbagai keputusan harus diambil, Raras pun berhasil memahami dirinya dan memilih jalan hidup. Dia merasa terlahir kembali; tabula rasa.

Tema “tabu” yang diangkat Ratih Kumala dalam Tabula Rasa tidak diceritakan dengan bahasa yang rumit. Para tokoh cukup transparan dalam menunjukkan perasaannya sehingga pembaca bisa mengerti dan simpati pada apa yang mereka alami. Sejak awal pembaca tahu, baik Galih maupun Raras, dalam keadaan kehilangan. Maut sudah memisahkan mereka dari cintanya masing-masing, hingga kemudian keduanya dipertemukan, lalu mulai mempertanyakan apa esensi dari hubungan mereka sebetulnya. Novel ini cukup santai, bukan bacaan berat, jika kita mau dan tekun mengikuti alur yang disuguhkan penulis.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email