Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sisi Lain Diponegoro

gambar
Rp.100.000,- Rp.75.000,- Diskon
Judul: Sisi Lain Diponegoro
Penulis: Peter Carey
Penerbit: KPG, 2017
Tebal: 270 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Stok lama)

Seorang pahlawan adalah manusia biasa. Manusia yang memiliki keunggulan, karena itulah dia diangkat sebagai pahlawan. Namun ia juga memiliki berbagai kelemahan. Belum lagi cara pandang yang berbeda dari berbagai orang yang menilainya. Seseorang yang dianggap pahlawan oleh satu pihak, bisa saja dianggap sebagai seorang pengkhianat di pihak lainnya.

Demikian pun dengan Diponegoro. Pangeran Diponegoro telah diakui sebagai salah satu pahlawan Indonesia karena kegigihannya melawan Belanda. Namun, Diponegoro adalah manusia biasa yang juga memiliki berbagai kelemahan.

Peter Carey mengupas Babad Kedung Kebo dan Babad Surakarta sebagai pembanding kisah Diponegoro yang ditulisnya sendiri saat Diponegoro diasingkan di Manado. Karya biografi Diponegoro tersebut dikenal sebagai Babad Diponegoro. Membandingkan tiga babad yang memuat kisah Diponegoro sungguh sangat menarik. Kita menjadi tahu berbagai pandangan dari pihak-pihak yang saat itu hidup sejaman.

Pertama-tama Carey membahas pentingnya babad dalam penulisan sejarah. Meski babad dianggap kurang penting sebagai sumber sejarah oleh Sartono Kartodirjo - sejarahwan Indonesia, Carey menunjukkan bahwa bagaimana pun babad, khususnya yang ditulis oleh orang-orang yang sejaman dengan peristiwanya adalah sebuah sumber sejarah yang sangat penting (hal. 4). Contohnya adalah Babad Diponegoro dan Babad Kedung Kebo. Babad Diponegoro ditulis oleh Pangeran Diponegoro saat beliau diasingkan di Manado. Sedangkan Babad Kedung Kebo ditulis oleh Bupati pertama Purworejo Raden Adipati Cokronegoro, yang adalah lawan Diponegoro saat Perang Jawad an Basa Abdullatip Kerto Pengalasan, salah seorang komandan lapangan Diponegoro. Satu lagi yang dipakai oleh Carey dalam membahas Diponegoro adalah Babad Surakarta, yaitu babad yang ada di Keraton Surakarta.

Carey kemudian membahas hal-hal penting yang berpengaruh kuat kepada budaya Jawa. Hal-hal tersebut adalah wayang, sang teladan, konsep ratu adil dan Islam. Keempat hal tersebut sangat mempengaruhi cara pandang orang Jawa terhadap dunianya. Simbolisme dan mitologi wayang mempunyai pengaruh yang kuat dalam menentukan langkah dan tindakan politisi Jawa, termasuk pada jaman Diponegoro (hal. 10).

Kedua babad yang berkisah tentang Perang Jawa, yaitu Babad Diopnegoro dan Babad Kedung Kebo sama-sama menggunakan wayang sebagai perlambang. Carey membuat perbandingan tokoh wayang yang dipergunakan dalam kedua babad tersebut. Dalam Babad Diponegoro, sang penulis mengidentifikasikan dirinya sebagai Arjuna, salah satu tokoh Pandawa. Sedangkan dalam Babad Kedung Kebo, Diponegoro digambarkan sebagai Prabu Suyudono, Raja Astinapura yang kemaruk dengan kekuasaan. Dalam Babad Diponegoro, sang penulis menggambarkan Diponegoro yang sedang berjuang untuk kebenaran, sedangkan dalam Babad Kedung Kebo, Diponegoro dianggap sebagai pihak yang haus kekuasaan. Demikian pun Babad Surakarta yang juga berisi tentang perang Jawa menggambarkan para tokohnya dengan perawakan wayang. Tokoh Diponegoro digambarkan sebagai Raden Samba yang memiliki sifat yang sungguh-sungguh tetapi lemah hati (hal. 62). Tokoh Patih Wiroguno yang dianggap pengkhianat digambarkan sebagai Sengkuni.

Teladan para tokoh Jawa adalah sangat penting dalam pengambilan keputusan para politisi Jawa. Hal tersebut diungkapkan secara rinci oleh Carey dalam persiapan Diponegoro sebelum mengobarkan perang Jawa (hal. 21). Diponegoro meneladani Sultan Agung dan Sunan Kalijogo. Melalui pertemuan-pertemuan spiritual dengan tokoh-tokoh tersebut membuat Diponegoro merasa disiapkan untuk menjadi pemimpin Islam dan memegang kekuasaan di Jawa (hal. 23). Ditambah lagi dengan pandangan tentang Ratu Adil, yang salah satunya adalah dari Ramalan Joyoboyo, maka lengkaplah persiapan spiritual Diponegoro untuk mengobarkan perang. Diponegoro sendiri paham bahwa ia akan kalah. Dalam kajian terhadap ramalan yang dia lakukan, Diponegoro tahu bahwa ia hanya akan sampai mengobarkan sebuah perang, dan tidak akan memenagkannya.

Setelah menguraikan tiga hal penting yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan politisi Jawa, khususnya di jaman Diponegoro, Peter Carey menguraikan persamaan dan perbedaan dari ketiga babad yang dibahasnya. Ketiga babad ini memiliki persamaan, yaitu membahas tokoh Diponegoro dalam perang Jawa. Ketiganya menggunakan wayang, tokoh teladan dan ramalan (Joyoboyo) dalam menuliskan kisah perang Jawa.

Sedangkan perbedaannya terletak pada tokoh Diponegoro itu sendiri. Babad Diponegoro menggambarkan misi suci Diponegoro untuk mengembalikan kedudukan Islam dan pemerintahan orang Jawa. Sebuah misi yang sudah diramalkan sebelumnya dan harus terjadi. Sebuah perang suci melawan ‘kafir’ Belanda.

Sementara itu Babad Kedung Kebo mengisahkan Diponegoro yang dikagumi atas laku spiritualnya. Namun Diponegoro tidak taat kepada tanda-tanda jaman yang telah diterimanya (hal. 46). Secara eksplisit Cokronegoro mengemukakan bahwa Diponegoro terpengaruh oleh sifat kesombongan (kagepok takabur). Ia mengabaikan peringatan-peringatan yang telah diberikan oleh Tuhan sebelum pecahnya perang (hal. 49).

Berbeda lagi dengan Babad Surakarta dimana Diponegoro diposisikan sebagai pihak yang sedang melaksanakan ramalan Joyoboyo (hal. 65), yaitu sebagai ratu Adil. Dalam babad yang ditulis oleh orang keraton ini, meragukan mengenai kesungguhan keyakinan keagamaan Pangeran Diponegoro (hal. 61).

Buku ini dilengkapi dengan uraian yang lengkap mengenai naskah Babad Kedung Kebo, riwayat Cokronegoro dan Basah Pengalasan yang dianggap sebagai penulis Babad Kedung Kebo. Peter Carey juga mencantumkan dalam lampiran surat Basah Pengalasan kepada Kolonel Cleerens menjelang penangkapan Diponegoro.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email