Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Seri Tempo: Douwes Dekker

gambar
Rp.60.000,- Rp.45.000,- Diskon
Judul: Seri Tempo: Douwes Dekker
Penulis: Tempo
Penerbit: KPG, 2015
Tebal: 184 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Stok lama)

Ernest Francois Eugene Douwes Dekker adalah penggerak revolusi uang keturunan Belanda, Prancis, Jerman, dan Jawa. Bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat, Ernest Douwes Dekker dibuang ke Belanda. Di situ pun tiga serangkai ini getol menyuarakan perjuangan Indische Partij. Hukuman berat ia alami saat diasingkan, ke kamp gelap di Suriname, dengan kebutaan yang masih menderanya. Meminjam nama Jopie Radjiman, ia nekat kembali ke Tanah Air untuk terus menyuarakan cita-cita Indische Partij : Kemerdekaan Hindia atau Indonesia.

Di dalam tubuhnya mengalir darah Belanda, Perancis, Jerman, dan Jawa, tapi semangatnya lebih menggelora ketimbang penduduk bumiputra. Pemerintah kolonial Belanda menerapkan cap berbahaya kepadanya. Ia, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker atau nama Jawanya adalah Danudirja Setiabudi, orang pertama yang mendirikan partai politik Indonesia. Meski bukan penduduk Indonesia tulen, ke mana-mana Ernest Douwes Dekker selalu mengaku sebagai orang Jawa. Kecintaannya kepada Hindia memang luar biasa. Ia mendedikasikan seluruh hidupnya demi kemerdekaan Indonesia. Sebagai penggerak revolusi, gagasan Ernest melampui zamannya. Tur propagandanya menginspirasi Tjokroaminoto dalam menghimpun massa. Konsep nasionalismenya mempunyai andil saat Sukarno mendirikan Partai Nasional Indonesia. Tapi ia hidup di pembuangan ketika proklamasi kemerdekaan dibacakan.

Buku ini menceritakan kisah si pemberani yang dikenal sebagai Danudirja Setiabudi. Selain itu, buku ini adalah salah satu contoh buku yang bisa menginspirasi generasi muda di Indonesia. Dengan membaca buku ini, pembaca akan belajar untuk meneladani konsep nasionalisme yang dimiliki Douwes Dekker. Di dalam buku ini ada beberapa timeline yang dapat mempermudah pembaca untuk mengerti ceritanya.

Setiap ucapan dan tulisan Ernest Francois Eugene Douwes Dekker mengundang curiga pemerintah Hindia-Belanda. Ia dianggap agitator berbahaya. Dari rumahnya di kompleks STOVIA, dia menyusupkan pandangan kebangsaan Hindia kepada pemuda-pemuda terpelajar di sekolah kedokteran Jawa. Dan sejarah Republik mencatatnya sebagai motor penggerak zaman baru dengan mendirikan Indische Partij, partai politik pertama Hindia-Belanda yang berdiri pada tanggal 6 September 1912. Di dalam Insische Partij Douwes Dekker berhasil membuat Tjipto Mangoenkoesoemo yaitu kawan lamanya bergabung dengan partai yang ia dirikan dan juga berhasil menarik perhatian Soewardi Soerjaningrat atau nama lainnya adalah Ki Hajar Dewantara bergabung bersamanya. Mereka membangun Indische Partij bersama dan banyak merekrut anggota baru. Sampai Indische Partij akhirnya dibubarkan oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Douwes Dekker lahir pada tanggal 8 Oktober 1879 di Pasuruan, Jawa Timur. Tahun 1897 , ketika itu usianya 18 tahun. Ia bekerja di perkebunan Soember Doeren dan berlanjut ke Pabrik Gula. Dikedua tempat itu, ia selalu berkonflik dengan atasan karena membela nasib buruh. Tahun 1904, ia menikah dengan Clara Charlotte Deiji dan dikaruniai 2 orang putra yang meninggal sejakkecil dan 3 orang putri yang dibawa oleh ibunya pada perceraian tahun 1919. Ekonomi buruk dan anti Belanda membuatnya tidak bisa bertemu dengan putrinya lagi.

Berdarah campuran Eropa-Jawa, Ernest Douwes Dekker tumbuh di Pasuruan, kota kecil di pesisir utara Jawa Timur. Jiwa pemberontak pria yang masih memiliki hubungan darah dengan pengarang Max Havelaar, Eduard Douwes Dekker, ini mengental saat bekerja di dua perkebunan di kawasan rumahnya. Melihat kaum pribumi ditindas, Douwes Dekker mundur. Pada usia 20 tahun, ia angkat senjata melawan Inggris di Republik Transvaal, Afrika Selatan. Peluru menembus tubuh Douwes Dekker. Sempat ditahan tentara Inggris, ia dijuluki “anak pemberani”. Petualangan asmara Douwes Dekker tak kalah seru.Douwes Dekker menikah tiga kali, semuanya dengan perempuan Indonesia. Salah satu cucunya yaitu Olave Joan Roemer, cucu setiabudi dari Sieglinde Ragna Sigrid, putri bungsunya, mengaku hanya tiga kali bertemu dengan sang kakek yang tak lain adalah Ernest Douwes Dekker.

Pada 20 Mei 1908, ia menyarankan pentingnya perhimpunan media massa pada saat hadir dalam kongres pertama Boedi Oetomo. Pada tanggal 6 September 1912, ia membentuk Indische Partij. Namun, capberbahaya dari Belanda membuatnya harus membubarkan Indische Partij pada tanggal 31 Maret 1913.

Pada tanggal 6 September 1913, Douwes Dekker, Tjopto, dan Soewardi dibuang ke Belanda. September 1922, ia bekerja di Sekolah Nyonya Meyer di Kebon Kelapa, Bandung. Setahun kemudian ia mendirikan Ksatrian Institut. Disanalah, ia bertemu dengan Soekarno dan sangatpercaya bahwa Soekarno dapat memegang Indonesia. Pada tanggal 22 September 1926, ia menikah dengan Johanna Patronella Mossel dan berakhir saat Douwes dibuang ke Suriname.

Tahun 1941-1946, ia di tuduh menjadi kaki tangan Jepang saat bekerja di kamar dagang Jepang, di Jakarta dan dipenjarakan di berbagai tempat. Pada tanggal 4 Januari 1947, ia datang ke Istana Negara Yogyakarta dan bertemudengan Presiden Soekarno dan tokoh pejuang lainnya. Kemudian, mengganti namanya menjadi Danudirja Setiabudi. Pemerintah memberinya berbagai jabatan, seperti menteri negara, Dewan Pertimbangan Agung, dan penasihat pribadi Soekarno. Pada tanggal 8 Maret 1947, ia menikah dengan Nelly yang mengubah namanya menjadi Harumi Wanasita di Yogyakarta. Di tahun yang sama, ia menjadi mualaf danmasuk ke dalam Partai Masyumi.

Mengaku sebagai orang Jawa yang anti-Belanda, Ernest Douwes Dekker memiliki peran sentral di lingkaran Sukarno saat usia Republik masih muda. Ia sering sowan ke Padepokan Taman Siswa, Sekolah yang didirikan Ki Hadjar Dewantara, bila tak ada kesibukan di Istana Negara. Sang pemberani ini masuk Masyumi karena tertarik ide pergerakan Islam modern yang diusung Natsir. Tak lama setelah dibebaskan Belanda, Douwes Dekker tamat oleh penyakit. Jantungnya lemah, parunya digerogoti bronkitis. Di saat-saat terakhir, ia masih sempat bergurau tentang tubuhnya yang bernasib sama seperti Republik, “Jalan 100 meter, berhenti didorong-dorong.”

Pada tanggal 21 Desember 1948, ia dipenjarakan Belanda atas operasi militer untuk merebut kekuasaan Belanda dan dibebaskan tahun 1949 yang kemudian menetap di Bandung. Kesehatannya kini semakin memburuk, sehingga ia harus di larikan ke Rumah Sakit. Akhirnya, beliau meninggal pada tanggal 28 Agustus 1950 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email