Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Seri Tempo: Amir Hamzah

gambar
Rp.60.000,- Rp.45.000,- Diskon
Judul: Seri Tempo: Amir Hamzah
Penulis: Tempo
Penerbit: KPG, 2017
Tebal: 128 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Stok lama)

Amir Hamzah adalah tokoh sastrawan dan pahlawan revolusi yang tergilas pada masanya. Begitulah buku berjenis non-fiksi yang terbit tahun 2017 ini, Paradoks Amir Hamzah yang dibuat dalam Seri Buku Tempo: Tokoh Seni dalam Pusaran politik sebagai tema. Berisikan sebuah pengungkapan pembunuhan pada Amir Hamzah yang disusun oleh Abdul Manan, Ayu Prima Sandi, Erwan Hermawan, Gabriel Wahyu Titiyoga, Gadi Kurniawan Makitan, Khairul Anam, Linda Novi Trianita, M. Reza Maulana, dan Mahardika Satria. Diterbitkan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) dengan ISBN 9786024247003.

Mahardika Satria Hadi sebagai pemimpin proyek edisi ini, sudah pasti memiliki pengalaman dalam bidang penyelidikan atau hal yang menyangkut segala pengungkapan. Salah satu penulis ini memiliki latar belakang pendidikan Bachelor of Science Environment Biology 2002-2007. Sekarang berprofesi sebagai Reporter, Penulis dan Jurnalis. Karya-karyanya antara lain, Seri Buku Tempo: Hikayat 45 Danau, Seri Tempo: Lekra dan Geger 1963, Kumpulan Buku IPA lengkap SD/MI dan karya lainnya dalam media online berbentuk Artikel dan Jurnal. Profesinya sebagai jurnalis membuat buku ini terlihat bertanggung jawab pada setiap hal yang diteliti.

Mengusung tema politik dan tokoh seni (sastrawan) sebagai objek adalah tema yang dapat menarik berbagai kalangan. Tidak hanya akedemisi, mahasiswa, peneliti, dan peminat sastra bahkan sejarawan dapat menjadikan buku ini sebagai referensi bacaan. Dikarenakan buku ini berisikan pengungkapan pembunuhan pada Amir Hamzah. Pengungkapan pembunuhan dipaparkan ke dalam beberapa bagian.

Bagian pertama menceritakan Amir Hamzah sebagai tokoh revolusioner yang tergilas pada masanya. Kedua, Amir Hamzah yang terjepit di antara dua gelombang. Gelombang pertama Amir Hamzah sebagai tokoh pergerakan kemerdekan dan di gelombang lain Amir Hamzah sebagai keturunan Sultan dan Abdi Negara Pelayang Sultan. Hal tersebutlah yang membuat Amir terjepit. Ketiga, Amir sebenarnya telah menginginkan kemerdekaan sejak belia. Sejak ia masih bersekolah, segala organisasi yang berbau nasionalisme ia geluti sampai-sampai ia menentang secara manis orang-orang di istana. Ia mencoba cara yang lebih manis dimana pergerakannya tidak dapat terlihat oleh Sultan Langkat dan pemerintah Belanda. Amir mencoba menjunjung bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi dengan harapan hal itu membawa suatu pergerekan dalam memerdekaan Indonesia dari Pemerintah Belanda. Tetapi, biar Amir Republikan sejak belia, orang-orang yang berjuang dalam revolusi ini menganggap Amir pengkhianat hingga akhirnya Amir dibunuh secara gelap mata. Pada bagian keempat dan kelima, diceritakan masa kecil Amir Hamzah yang sudah berada dalam lingkungan kesultanan dan cerita asmara yang kandas karena perintah Sultan. Bagian akhir disebutkan Amir Hamzah sebagai pelopor gerakan bahasa baru melalui puisi-puisinya. Lalu cerita mengenai keterlibatannya dalam Majalah Poedjangga Baroe. Dan terdapat juga kolom puisi.

Selain memiliki bagian-bagian yang rinci dalam pengungkapan pembunuhan ini tentunya buku berjumlah 116 halaman ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan pada buku ini yaitu bagian sampul yang terlihat menarik dan terkesan populer, diterbitkan oleh penerbit besar yang sudah jelas rekam jejak dalam dunia kepenerbitan, selain itu juga bekerjasama sama dengan media besar Tempo Publishing, menyisipkan gambar-gambar riset saat pelacakan pembunuhan Amir Hamzah dibeberapa bagian penting.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email