Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Maryam (Okky Madasari)

gambar
Rp.67.000,- Rp.50.000,- Diskon
Judul: Maryam
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia, 2013
Tebal: 280 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Stok lama)

Terlahir sebagai seorang Ahmadiyah yang selama ini dipandang sesat oleh masyarakat tidaklah mudah. Hidup yang penuh banyak kejadian tidak menyenangkan hingga segala bentuk penghinaan pernah ia rasakan. Maryam, menjalani hari-harinya dengan berat. Meskipun akhirnya ia berusaha tegar menghadapinya dan menerima dirinya sebagai seorang Ahmadi.

Beban kehidupan itu dimulai dari penghinaan masyarakat terhadap Fatimah, adik Maryam yang menerima perlakuan buruk dari dari pihak sekolahnya karena dianggap sebagai penganut aliran sesat. Hingga akhirnya Fatimah mendapatkan nilai merah pada mata pelajaran agama di rapornya, yang justru menjadi ironi karena Fatimah sendiri tergolong sebagai anak yang rajin dan pintar di sekolahnya.

Sedangkan, Maryam sendiri setelah tamat SMA, ia memutuskan untuk meninggalkan Lombok tempat keluarganya untuk meneruskan kuliah di Surabaya. Hubungan jarak jauh dengan keluarga tidaklah menjadi kendala bagi Maryam untuk menuntut ilmu, sebab di Surabaya ia tinggal bersama sanak keluarganya sesame Ahmadi. Dan hingga ia berkenalan dengan pemuda yang bernama Gamal pada suatu pengajian rutin yang diselenggarakan Ahmadiyah.

Kedekatan Maryam dengan Gamal rupanya telah sampai kepada keluarga Pak Khairudin ayah Maryam di Lombok, sehingga keluarga Maryam memustuskan menyetujui hubungan mereka karena sesame Ahmadi. Dan apabila tidak ada halangan pernikahan Maryam dan Gamal dilangsungkan setelah Maryam menamatkan kuliahnya. Namun, ternyata berkebalikan semua rencana. Gamal menjadi berubah sikapnya terhadap Maryam dan pada kelurganya yang Ahmadi, setelah ia kembali dari magang kuliahnya. Gamal mengatakan Ahmadi itu sesat, sehingga ia kemudian meninggalkan Maryam dan keluarganya. Hal terebut yang membuat Maryam sangat terpukul, sehingga ia memustukan untuk merantau ke Jakarta setelah ia menamatkan kuliah di Surabaya, dengan harapan ia dapat melupakan semua kenangan bersama Gamal.

Kemudian di Jakarta ia tidaklah sulit mencari pekerjaan karena Maryam memiliki kelebihan, dan ia bekerja di sebuah bank swasta di Jakarta. Hingga ia bertemu dengan Alamsyah.

Hubungan Maryam dengan Alamsyah juga tidaklah mudah, karena Alamsyah tidaklah mendapat restu dari orang tua Maryam sebelum dirinya masuk Ahmadiyah. Hal tersebut yang ditentang Maryam, karena Maryam menganggap lebih baik Maryam mengikuti Alamsyah ketimbang Alamsyah yang harus mengikuti kehendak keluarga Maryam. Akhirnya pernikahan Maryam dengan Alamsyah dilangsungkan tanpa hadirnya pihak keluarga Maryam. Namun, pada awal pernikahan ada prosesi dimana Maryam dianggap sebagai penganut aliran sesat dan kemudian Maryam di sumpah untuk memeluk agama Islam sesuai keyakinan Alamsyah.

Tekad Maryam besar untuk melupakan masa lalu dirinya, namun pehak keluaraga dari Alamsyah selalu mengkaitkan Maryam sebagai mantan penganut aliran sesat, sehingga dosanya tak termaafkan akibatnya Maryam tidak juga diberikan keturunan dari Alamsyah. Polemik antara Maryam dan keluarga Alamsyah terjadi terus menerus, hingga akhirnya Maryam jengah dan memutuskan untuk bercerai dengan Alamsyah dan kembali lagi pada keluarganya di Lombok. Maryam tersadar hal itu dikarenakan ia tidak mendengarkan anjuran orang tua.

Keberadaan Maryam di Lombok, keadaannya telah berbeda di awal kepergiannya. Hal itu karena rumah Maryam yang semula berada di pantai Gerupuk telah berpindah di Gegurung, itu dikarenakan adanya penyerangan yang dilakukan oleh warga kepada rumah Maryam dan keluarga yang dianggap sesat. Terkejut Maryam mendapati keadaan seperti itu, karena toleransi antar sesama dahulu sangat erat hingga akhirnya ia memutuskan pergi semuanya berubah.

Hingga akhirnya Maryam dijodohkan dengan Umar, sesame anggota Ahmadi oleh Pak Khairudin. Tak lama kebahagiaan itu, kembali lagi rumah pengikut Ahmadiyah diserang lagi oleh warga yang tidak terima dengan keberadaan Ahmadiyah di kampungnya. Hal tersebut yang menyulut emosi Umar, Pak Khairudin, serta pemuda-pemuda Ahmadiyah yang lain. Karena Ahmadiyah menilai penyerangan dilakukan secara sepihak, tanpa adanya kompromi. Dan telah menyalahi HAM. Sehingga pertempuran terjadi, kemudian tak lama POLISI dating untuk menengahi dan mengungsikan semua anak-anak dan wanita ke gedung Transito, termasuk Maryam yang ketika itu sedang hamil.

Keadaan pengungsi Ahmadi di gedung Transito tidak kunjung membaik, karena keinginan mereka hanya ingin kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Namun. Harapan itu pupus ketika POLISI setempat menjelaskan bahwa demi keamanan pengungsi Ahmadi tidak diperbolehkan kembali.

Pembelaan terhadap penderitaan kaum Ahmadi terus dilakukan hingga, perwakilan dari Ahmadi bertemu dengan Gubernur, namun mengejutkan pernyataan yang diterima. Bahwasannya Ahmadi dipersilahkan untuk menjauh dari Lombok untuk keamanan, pengungsi Ahmadiyah harus meminta perlindungan suaka dari Australia. Hingga anak pertama pasangan Maryam dan Umar terlahir, perjuangan keadilan terus dilakukan hingga akhirnya Maryam berinisiatif untuk menyurati Presiden demi meminta perlindungan dan keadilan.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email