Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Main-main (Dengan Kelaminmu)

gambar
Rp.50.000,- Rp.38.000,- Diskon
Judul: Jangan Main-main (Dengan Kelaminmu)
Penulis: Djenar Maesa Ayu
Penerbit: Gramedia, 2016
Tebal: 148 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Stok lama)

Mengeksploitasi kelamin sungguh mengasyikkan. Bukan asyik secara lahiriah saja, tapi juga asyik dalam pergulatan kata dan makna. Maka jangan heran bila begitu banyak pengarang yang coba masuk ke ranah perkelaminan ini. Yang tak bisa mengerem diri, asal nyablak, akan terjebak ke karya stensil murahan. Hanya yang mampu merangkai kata, memainkan aksara, memanipulir bahasa, yang akan melahirkan karya susastera. Dan itu tidak banyak.

Dari yang tidak banyak itu, Djenar Maesa Ayu salah satunya. Kelamin oleh Djenar, bisa dijadikan tema sentral Cerpennya untuk menggugat relasi yang salah antaranak manusia –relasi sejenis, berlawanan jenis, dan interaksi sosial lainnya–, yang Djenar sendiri tidak berada dalam posisi menghakimi.

Kelamin dijadikan objek cerita, bukan melulu harus digambarkan dengan hubungan persebadanan. Bukankah kelamin menjadi salah satu muara hubungan manusia? Maka jadilah cerita perselingkuhan, incest, perilaku seksual menyimpang lainnya, menjadi lahan garapan subur bagi Djenar untuk diutak-atik dengan bahasanya sendiri, yang akhirnya menjadi sisi kontroversi dari seorang Djenar. Itulah yang bisa terbaca dari buku “Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)” ini.

Buku kedua Djenar setelah “Mereka Bilang, Saya Monyet!” yang terbit pertama kali pada Januari 2004 ini, benar-benar mengeksplorasi dan mengeksploitasi “kelamin” (seks-red). Dari 11 Cerpen yang disuguhkan, hampir seluruhnya berkaitan dengan sensualitas dan seksualitas dari interaksi antarmanusia. Soal perselingkuhan, diteropong melalui Cerpen “Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)” (hal.1), “Mandi Sabun Mandi” (hal.15), dan disenggol-senggol pula di Cerpennya yang lain seperti “Penthouse 2601” (hal.95).

Tidak hanya itu, penyimpangan, pelecehan dan kekerasan seksual juga dibidik wanita kelahiran Jakarta, 14 Januari 1973 ini. Semisal Cerpen “Menyusu Ayah” (hal.35), yang kalau membacanya, bikin kita bergidik. Bayangkan, gadis kecil Nayla yang menjadi tokoh sentral dalam Cerpen ini, harus “menyusu” kepada ayahnya, karena tidak lagi mempunyai ibu. Dan ketika ayahnya tak lagi sudi “menyusui”, dia beralih “menyusu” kepada teman-teman ayahnya.

Cerpen “Menyusu Ayah” yang menyesakkan dada ini, terpilih menjadi Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan dan diterjemahkan Richard Oh ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Suckling Father” untuk dimuat kembali dalam Jurnal Perempuan versi bahasa Inggris, edisi kolaborasi karya terbaik Jurnal Perempuan. Dari seluruh Cerpen yang ada di buku “Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)” ini, menurut saya memang “Menyusu Ayah” yang paling kuat.

Namun begitu masih ada juga Cerpen Djenar yang lain yang cukup kuat dan berbeda dalam pola penulisannya. Di antaranya Cerpen “Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)” sendiri, “Saya adalah Seorang Alkoholik!” (hal. 53) dan “Stacatto” (hal.63). Penulisan ketiga Cerpen itu, sangat eksprimental. Dalam bahasa Richard Oh yang menulis pengantar dalam buku Kumcer terbitan PT Gramedia Pustaka Utama ini, tiga Cerpen itu; khas inovasi Djenar dengan mengandalkan pengulangan, mengitari satu titik sentral cerita dan mengikis terus hingga ke esensi persoalan.

Kata Richard, “Djenar Maesa Ayu memperkenalkan suatu gaya penulisan yang menurut saya merupakan pembaharuan yang berarti dalam perkembangan sastra Indonesia saat ini.”

Richard tak salah, karena Djenar memang beda. Tak hanya beda, tapi juga kontroversial. Dan kekontroversialannya itu, menjadi pengakuan terhadap eksistensinya sebagai penulis yang berani dan tampil beda. Maka jangan heran bila buku “Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)” ini meraih sukses dan cetak ulang kedua hanya 2 hari setelah diluncurkan pada awal 2004 lalu. Selain itu, Kumcer ini juga berhasil meraih penghargaan 5 besar Khatulistiwa Literary Award 2004.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email