Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Etika Berbasis Kebebasan Amartya Sen

gambar
Rp.100.000,- Rp.50.000,- Diskon
Judul: Etika Berbasis Kebebasan Amartya Sen
Penulis: Sunaryo
Penerbit: Gramedia, 2017
Tebal: 320 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Stok lama)

Sebuah buku baru yang terbit tahun 2017 ini dikeluarkan oleh penerbit Gramedia. Judulunya, Etika Berbasis Kebebasan Amartya Sen: Integrasi Kebebasan dalam Pilihan Sosial, Demokrasi, dan Pembangunan. Buku ini ditulis oleh Sunaryo. Dan merupakan penelitian doktoralnya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Buku ini sudah disunting sehingga bisa dibaca oleh masyarakat.

Sunaryo mencoba menggali pemikiran Amartya Sen, ekonom penerima hadiah Nobel bidang ekonomi tahun 1998 dalam pemikiran ekonomi kesejahteraan. Amartya Sen lahir tahun 1933 dan berasal dari India. Sen mengutarakan pemikirannya mengenai kebebasan yang dikaitkan dengan kemiskinan, ketidakadilan dan pilihan sosial.

Kebebasan identik dengan kata liberal atau liberty. Sedangkan Sen nampaknya senang menggunakan kata freedom. Namun Sunaryo mengulas bahwa Sen dalam tulisannya kerap menggunakan liberty dan freedom. Sunaryo menyebut beberapa karya Sen terkait hal ini yaitu The Idea of Justice (2009), Rationality and Freedom (2004), Development as Freedom (1999), Inequality Reexamined (1992).

Berbeda dengan ekonom lain yang terkesan menjauhkan peran manusia dalam ekonomi, Sen justru menjadikan manusia sebagai basisnya. Seperti dikatakan Sunaryo bahwa Sen menempatkan kebebasan dan kapabilitas sebagai ukuran kualitas hidup manusia, terutama dalam hal kebijakan publik dan pembangunan. Sen menjadikan manusia sebagai pusat dari kebijakan pembangunan sehingga Sen menyebutnya sebagai pembangunan manusia atau human development.

Sen menyatakan bahwa GDP dan pendapatan perkapita kurang bisa menjadikan manusia sejahtera. Namun manusia yang memiliki kebebasanlah yang bisa menjadikan mereka sejahtera. Karena dengan kebebasan yang mereka punya mereka bebas berpendapat, berkeyakinan, berserikat, dan lainnya. Karena menurus Sen kebebasan seperti inilah yang menjadikan pembangunan berkualitas.

Sen menganggap perlindungan kebebasan dan perluasan kapabilitas menjadi prasyarat agar kualitas hidup manusia bisa terjamin. Sen juga mengkritik pendekatan pembangunan gaya Lee Kuan Yew (mantan Perdana Menteri Singapura) yang menyatakan bahwa pembatasan kebebasan sipil dan politik akan berdampak positif bagi peningkatan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi. Sunaryo menyatakan bahwa pemikiran Lee Kuan Yew ini dianut oleh banyak pemerintah di Asia, termasuk Indonesia di masa orde baru.

Sen menyatakan bahwa jika dilihat secara komparatif di banyak negara, pemerintahan yang demokratis justru memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menciptakan kesejahteraan dibanding pemerintah yang otoriter. Sen menyampaikan bahwa dalam pembangunan, aspek yang perlu diperluas bukan hanya kemampuan masyarakat mencapai kesejahteraan ekonomi, tetapi juga kebebasan untuk berpendapat, berpolitik, dan berserikat.

Apa yang dilontarkan Sen ini memang sebuah pandangan baru dalam ilmu ekonomi. Karena cukup lama ilmu ekonomi yang diajarkan di fakultas ekonomi tidak menjadikan manusia sebagai pemegang peran sentral. Hal ini bisa dirasakan ketika krisis ekonomi atau krisis moneter melanda negara-negara Asia dan termasuk Indonesia. Masuknya dana moneter internasional (IMF) mendapat kritikan karena basis kebijakan yang diambil dianggap oleh banyak pakar ekonomi merugikan masyarakat, meskipun ada juga pakar ekonomi yang pro terhadap kebijakan IMF ini.

Selain itu, Sen telah melihat bahwa di negara demokratis penanganan terhadap bencana seperti kelaparan lebih cepat ditangani dibanding di negara otoriter. Hal ini tak lepas dari adanya iklim kebebasan berpendapat sehingga suara-suara kaum lemah bisa diperjuangkan karena adanya jaminan kebebasan berpendapat.

Jika dikaitkan dengan konteks saat ini kita juga bisa merasakan bahwa kebebasan berpendapat, berserikat, berpolitik pada satu sisi memang jauh lebih substantif dalam menggapai kesejahteraan dibanding ukuran GDP atau pendapatan perkapita. Karena kesejahteraan tidak melulu masalah pendapatan, tapi juga kebebasan yang bertanggung jawab.

Dan dengan kebebasan itu setiap orang bisa memaksimalkan kapasitas dirinya dan juga mengaktualisasikan dirinya dengan lebih baik. Termasuk di sini, rakyat kecil pun bebas mencari nafkah dengan tetap memperhatikan yang ada. Bayangkan jika untuk urusan mencari nafkah bagi rakyat kecil mendapat aturan yang ketat, akan tambah sengsaralah mereka.

Pemikiran Sen yang diganjar penghargaan Nobel ini perlu menjadi salah satu referensi bagi mereka yang berkutat di ilmu ekonomi maupun ilmu sosial lainnya, serta para pengambil kebijakan. Karena relevansinya sangat besar dan aktual serta mungkin dianggap bisa lebih memanusiakan manusia.

Salah satu karya Sen adalah bersama Mahbub Ul Haq merumuskan apa yang disebut dengan Human Development Index atau indeks pembangunan manusia. Selain itu Sen pada Februari 2008 bersama Jospeh Stigliz dan Jean Paul Fitoussi diminta oleh Presiden Prancis Nicholas Sarkozy merumuskan ukuran ekonomi yang lebih komprehensif sebagai alternatif dari model GDP yang ada selama ini.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email