Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

33 Senja di Halmahera

gambar
Rp.55.000,- Rp.25.000,- Diskon
Judul: 33 Senja di Halmahera
Penulis: Andaru Intan
Penerbit: Gramedia, 2017
Tebal: 192 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Stok lama)

Apa jadinya bila cinta tumbuh di antara dua manusia? Tak ada yang salah, lantaran cinta adalah kelumrahan. Namun apa yang akan dilakukan oleh Nathan dan Puan yang berbeda agama saling mencintai?

Demikianlah konflik utama dari novel Andaru Intan, 33 Senja di Halmahera ini. Nathan seorang tentara yang ditugaskan di Halmahera Selatan, tepatnya di Sofifi, Maluku Utara. Tempat yang jauh tertinggal peradaban. Listrik yang tidak genap 24 jam, sinyal telekomunikasi yang susah, dan jalanan becek membelah hutan, dan masih dihantui ganasnya nyamuk malaria. (hal.10)

Nathan datang bersama serombongan tentara dengan misi menjaga keamaan pasca kerusuhan di Halmahera. Ada masa ketika Maluku membara lantaran perang antar saudara yang kebetulan berbeda agama. Andaru meminjam latar waktu itu untuk kembali mengingatkan bahwa perbedaan agama bukan alasan untuk saling meninggikan pedang. Nathan datang dengan sebuah misi perdamaian.

Namun pesan utama pimpinan kompi adalah untuk tidak ada yang main perempuan. Gadis-adis desa ini biasa tertarik pada tentara. (hal.34)

Puan adalah gadis asli Sofifi yang berprofesi sebagai seorang guru. Diam-diam Puan menyimpan trauma mendalam soal konflik antar agama yang menewaskan semua keluarga Puan.

Sebuah isu yang tidak jelas siapa pengembusnya telah membelah kerukunan kaum muslim dan nasrani. Di pihak nasrani, berembus kabar bahwa kaum muslim telah bersiap melakukan penyerangan dan telah terjadi pembantaian besar-besaran terhadap pemeluk nasrani. Sebaliknya di pihak muslim, kabar yang sebaliknya terjadi. Kaum nasrani menyerang dan membantai. Berita ini menjadi pemicu kerusuhan hebat di Halmahera dan Maluku pada masa itu. Acan sebagai simbol orang muslim, Obeth sebagai simbol nasrani. Bila berbeda dari mereka, pembunuhan langsung terjadi (hal.41)

Puan menjadi salah satu saksi mata. Keluarganya yang kebetulan muslim menjadi korban pembantaian dan dikubur di sekitar pantai. Hingga Puan tak sekali pun berani bermain-main di sekitaran Pantai. Kebencian dan ketakutan telah menutup mata siapa saja. Mereka bergelimang darah. Darah itu menggenang dan menyatu dengan laut. (hal.153)

Di sinilah Nathan mulai menyukai Puan. Selain paras dan kesantunan dan betapa Puan peduli kepada anak-anak. Nathan diam-diam mendekati Puan dengan segala usaha, termasuk memaksa Puan menemaninya berenang di pantai.

Keelokan Alam Halmahera disinggung dengan manis, namun juga tidak berlebihan. Bila kebanyakan menghadirkan upacara-upacara yang dirimbuni oleh bahasa dan dialek lokal, Intan Andaru mencoba melebur itu secara halus di dalam cerita.

Salah satu ritual kebudayaan khas Halmahera yang disinggun penulis ialah prosesi panen sabeta, ulat sagu. Puan adalah salah satu dari yang mahir memanen ulat sagu. Dia membawa saloi. Batang-batang sagu seusai dipanen akan didiamkan selama satu bulan hingga masa panen sabeta. Orang yang baru selesai memanen sagu akan merahasiakan perihal ini, khawatir akan didahului.

Sabeta bakar akan disajikan dengan dabu-dabu mentah berisi irisan bawang merah, sabai, sedikit minyak, garam, gula, dan lemon ikan. (hal.87)

Tak Saling Menimpa
Tema yang diambil penulis termasuk tema yang sangat sensitif di negeri ini. bila sudah menyinggung agama, banyak sekali yang protes terlebih bila kedapatan bahwa demi sebuah perasaan cinta seseorang harus mengorbankan iman dan keyakinan agama. Kisah Puan dan Nathan sangat mungkin bisa kita temukan di keseharian, tapi tak banyak penulis yang mengulik. Dalam tataran dimensi lain, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, yang hadir dalam bentuk film mampu memberi prespektif segar dalam percintaan beda agama.

Penulis harus berada di tengah, demikianlah kuncinya. Dalam konteks semacam hubungan Nathan dan Puan, masyarakat selalu memaksakan bahwa harus ada salah satu yang ‘mengalah’ ikut ke agama pasangannya. Satu-satunya jalan agar bisa bersama adalah aku ikut denganmu atau kamu ikut denganku. (hal.152)

Bacaan harusnya bukan menjadi penghakim. Bacaan harusnya mampu memberi sebuah kelengangan yang mampu menumbuhkan tafsir beragam. Dan Andaru mencoba memosisikan dirinya di tengah, tidak membela Puan atau Nathan. Andaru lebih membela rasa dan humanisme itu sendiri.

Akhir novel ini tidak kemudian menghakimi, atau membuat salah seorang berpindah agama karena cinta. Dengan begitu manis dan win-win solution penulis menengahi kisah ini dengan putusan Puan untuk terlibat dalam pengabdian pendidikan ketimbang mengedepankan soal asmara. Sebuah tikungan dan akhir yang takkan mengecewakan kedua belah pihak.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email