Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Buku DI's Way Dahlan Iskan

gambar
Rp.54.000,- Rp.25.000,- Cuci Gudang
Judul: DI's Way: Pribadi-pribadi yang Menginspirasi
Penulis: Dahlan Iskan
Penerbit: Noura Books, 2019
Tebal: 200 halaman
Kondisi: Ori Bekas (Bagus)

Dahlan Iskan adalah orang yang menginspirasi. Bila ditelusuri perjalanan hidupnya, tidak perlu jauh ke masa kecilnya, cukup mulai dari dia membesarkan Jawa Pos, mengurus PLN, dan BUMN. Perjalanan karirnya dimulai sebagai reporter sebuah surat kabar kecil di Kalimantan Timur. Selanjutnya dia beranjak menjadi wartawan majalah Tempo dan kemudian memimpin surat kabar Jawa Pos dari tahun 1982 hingga 2018.

Lepas dari Jawa Pos, dia tetap rutin menulis. Menulis 360 artikel dengan satu ibu jari. Itupun ditulisnya di HP menggunakan satu ibu jari tangan kirinya. Menulis setiap hari dalam setahun tanpa jeda. Tulisannya itu ditayangkan di blog pribadi berjudul Di’s Way. Diambil dari judul buku yang menceritakan betapa pribadinya menginspirasi orang lain. Selain itu, teknis penulisannya pun berbeda dari gaya tulisan Dahlan Iskan sebelum-sebelumnya, semisal dibanding tulisannya di Jawa Pos dulu. Dari tulisan-tulisanya tersebut kemudian dipilih sebagian untuk dibukukan. Jadilah buku dengan judul Di’s Way, Pribadi-Pribadi yang Menginspirasi.

Diceritakan Nasir seorang perantau yang kemudian sukses. Semangatnya untuk berusaha, belajar dan menempatkan dirinya sendiri dengan baik tanpa menunjukkan kesombongan mampu membawanya menaiki tangga kesuksesan. Nasir pemuda berumur 19 tahun yang baru lulus STM jurusan mesin. Dia minggat dari rumahnya karena salah paham orang tua yang mengira Nasir mengambil uang punya bapaknya. Tentu bapaknya marah dan menendang Nasir dengan keras. Nasir marasa sakit hati karena dia tidak melakukan apa yang dituduhkan bapaknya. Sesampai di ruantau, dia mau bekerja di bengkel tanpa dibayar, cukup diberi makan dan izin tidur di bengkel. Namun nasib mujur menyertainya, dia kemudian dipercaya menjadi kepala montir lalu mampu memiliki 7 buah kapal, memiliki tambak udang dan rumah mewah.

Di bagian yang lain, Dahlan Iskan menceritakan petani asal kota Batu, Jawa Timur, yang dijumpainya di pesawat. Erika nama petani itu. Dia bersama rombongannya mau ke Berastagi, Sumut. Mereka ingin melihat petani holtikultura di sana yang berhasil tanam wortel jenis baru seperti wortel impor. Erika adalah petani jenis baru yang cerdas dan mau berinovasi. Dia hanya lulusan SMA Negeri di Lawang, yang kemudian kerja sebagai pegawai di toko jualan sarana produksi pertanian.

Lima belasan tahun lalu, Batu dilanda hama. Kentang hancur, tanam lagi. Hancur lagi, tanami kentang lagi. Hancur lagi, tanami lagi. Banyak petani menderita, lalu jual tanah mereka karena putus asa. Itu terjadi karena penanaman yang terus menerus, dari kentang ganti kentang lagi. Erika ingin berubah dan mau memperlajari pertanian yang cocok dan baik. Sebab itulah Erika menemukan caranya dengan menggilir lahannya antara kentang dan wortel. Sekarang dia menggarap lahan pertanianya seluas 9 hektare, tersebar di beberapa lokasi yang dibelinya secara bertahap. Selanjutnya Erika beli mesin cuci dan mesin packing, agar wortel dan kentangnya bisa masuk pasar dengan elegan. Petani seperti Erika makin mandiri, mencari cara sendiri untuk semua persoalannya agar lebih maju.

Siapa saja dapat memberi inspirasi. Begitu yang coba dibuktikan Dahlan Iskan. Perjumpaannya dengan siapapun memberinya inspirasi menjalani kehidupan, setindaknya inspirasi untuk tulisan-tulisannya. Terdapat 26 tulisan yang mengisahkan perjumpaannya dengan pribadi-pribadi yang menurutnya menginspirasi. Sebelum membaca cerita tersebut, barangkali pembaca beranggapan itu cerita biasa yang tak jauh beda dengan catatan harian perjalanan seseorang. Namun anggapan yang “biasa-biasa” saja itu akan berubah setelah membaca buku setebal 200 halaman ini.

Membaca buku ini akan menjumpai banyak inspirasi. Kisah yang dituturkan Dahlan Iskan bukan hasil imajinasinya, namun dari fakta nyata yang dialami tokoh dalam cerita. Di setiap tulisan disertai foto-foto dan komentar dari para pembaca setia tulisan Dahlan Iskan di blog pribadinya. Hal itu memberi kesan pembaca seakan berinteraksi langsung dengan orang-orang yang diceritakan dalam buku ini.

Muktir Rahman, pengajar di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email