Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bidadari yang Mengembara

gambar
Rp.40.000,- Rp.20.000,- Diskon
Judul: Bidadari yang Mengembara
Penulis: A.S. Laksana
Penerbit: GagasMedia, 2014
Tebal: 160 halaman
Kondisi: Bagus (Ori Bekas)

Buku ini terdiri atas 12 cerita pendek yang bertajuk Menggambar Ayah, Bidadari yang Mengembara, Seorang Ibu yang Menunggu atau Sangkuriang, Burung di Langit dan Sekaleng Lem, Seekor Ular di dalam Kepala, Telepon dari Ibu, Buldoser, Seto Menjadi Kupu-kupu, Bangkai Anjing, Rumah Unggas, Peristiwa Pagi Hari, dan Cerita tentang Ibu yang Dikerat. Dari keseluruhan judul buku ini, Bidadari yang Mengembara-lah yang menjadi judul utama dari buku ini.

Dalam buku ini, A.S. Laksana meminjam wawasannya akan hiruk-pikuk masyarakat, pewayangan, hingga menggunakan cerita yang terpinjam dari kisah nabi. Terdapat cerita-cerita yang mengutip dari itu. Ia mengambil tema mengenai seks bebas, keibuan, perselingkuhan, pensiunan militer, ngelem, dan sebagainya. Semuanya mengenai realitas yang ada di masyarakat.

Secara keseluruhan, sudut pandang yang sering digunakan dalam buku ini ialah sudut pandang “keakuan” atau menggunakan sudut pandang pertama. Sebenarnya tidak ada masalah dengan itu, hanya saja seringkali si “aku” menceritakan orang lain dan orang tersebut sering bernama sama. Misalnya, penggunaan nama Alit dan Seto terus-menerus. Untuk yang kurang fokus, mungkin akan kebingungan dan bertanya-tanya “apakah cerita A bersambung pada cerita B?”

Diksi yang dipilih dalam cerita pendek tersebut tidak serta merta menjelaskan secara denotatif atau langsung, melainkan sebuah permainan kata yang memiliki makna yang lain. Misalnya, penggunaan ular sebagai penggambaran laki-laki dan puncak gunung sebagai tempat di mana Ibunya melarikan diri dalam cerita pendek Menggambar Ayah.

Cerita-cerita pendek ini tidak dikhususkan untuk pembaca yang ingin disuapi dan langsung mengerti, tetapi pada pembaca yang berusaha memaknai atau mengejar isinya.

Pada awalnya, mungkin saya kurang merasakan greget. Saya belum mampu menyatukan emosi saya dengan keadaan dalam buku. Namun, mungkin pada sekitar halaman 60, barulah saya dapat merasakan emosinya. Mungkin, perlu penyesuaian dengan gaya bahasa A.S. Laksana berhubung inilah buku pertamanya yang saya baca.

Buku ini tidak terlalu berat bagi beberapa orang yang senang membaca buku kesusastraan Indonesia atau buku-buku yang menanyangkan sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Namun, bagi orang-orang yang sering membaca karya terjemahan akan terasa “tersesat” karena bukan berada pada dunianya (kecuali terjemahan kesusastraan serius), apalagi yang seringnya membaca kategori yang agak santai dan tidak sarat akan sindiran sosial. Akantetapi, sebagai permulaan untuk menyukai buku-buku berkategori sastra serius, buku ini lumayan untuk pembelajaran dan mengenal realitas yang ada di sekitar kita.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email