Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama

Judul: Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama
Penulis: Abdul Karim Soroush
Penerbit: Mizan, 2002
Tebal: 395 halaman
Kondisi: Bekas (bagus)
Harga: Rp. 100.000 (blm ongkir)
Order: SMS/WA 085225918312


Dr. Soroush yang muslim liberal hasil godokan timur dan barat ini pastilah orang pintar. Pengetahuan -termasuk pengetahuan agamanya- tentu mendalam, meskipun tidak mengenakan sorban dan jubah sebagaimana para mullah di negerinya, Iran. Bukunya, telah memberikan masukan yang berharga bagi saya, bahwa tidak semestinya takut mempertanyakan sesuatu yang terlanjur dianggap sakral, sebab tidak ada yang sakral dalam masyarakat manusia. Pesan implisit lainnya yang saya petik, tidak semestinya kita anti barat. Sebab nilai-nilai kebenaran pun tercecer di dunia barat. Tidak semua dari timur baik, dan tidak semua dari barat jelek. Dan Soroush telah berhasil mengawinkan filsafat barat, timur (khususnya filsafat Mulla Shadra), serta kandungan mistisisme dalam karya-karya Rumi, yang belakangan jadi idola utamanya. Sebuah kombinasi yang langka, sebab, sementara ia berusaha menghindari kungkungan tradisi dan otoritas keagamaan dalam kebebasan berpikirnya, di sisi lain masih berupaya setia dengan dasar-dasar agamanya. Baginya, untuk menjadi mukmin sejati, seseorang harus bebas, tidak berada di bawah tekanan atau paksaan.

Dalam buku itu, Soroush menyampaikan pemikirannya bahwa mesti dibedakan antara Islam sebagai identitas dan Islam sebagai kebenaran. Soroush hendak membedakan antara agama dan pemahaman agama. Agama secara hakiki adalah benar mutlak, namun pemahaman manusia terhadap agama bergradasi dan bisa saja salah. Poin ini berusaha saya pahami melalui cerita Jalaluddin Rumi tentang Gajah dan Orang Buta, dimana masing-masing orang buta itu menyampaikan deskripsi gajah secara berbeda-beda sesuai dengan bagian tubuh gajah yang mereka raba dan rasakan.

Setiap zaman tampaknya menghendaki lahirnya pembaru yang khas sesuai dengan tantangan dan semangat zamannya. Jika abad klasik Islam melahirkan figur-figur semacam Al-Ghazali dan Rumi, abad modern Islam melahirkan figur-figur semacam Iqbal dan Khomeini, maka akhir abad ke-20 melahirkan pembaru yang berbeda—salah satunya yang menonjol adalah Abdul Karim Soroush.

Nama Abdul Karim Soroush kini mencuat sebagai salah satu pemikir liberal terkemuka, bukan hanya di negeri asalnya, Iran, tetapi bahkan di Dunia Islam. Hal ini tampaknya disebabkan Soroush mengajukan semacam "reformasi epistemologis" dalam wacana Islam. Sedemikian penting posisi Soroush dalam konteks pembaruan Islam sehingga Robin Wright, koresponden The Los Angeles Times, menyebutnya sebagai Marthin Luther-nya Islam.

Dalam hal pembaruan pemikiran keagamaan, pertanyaan utama yang dicoba dijawab Soroush adalah dapatkah ide tentang "perubahan" didamaikan dengan ide "keabadian"yang diklaim agama—dan jika dapat, seberapa jauhkah itu dimungkinkan. Pada satu ekstrem, memenangkan "perubahan" atas "keabadian" akan melucuti sifat-dasar agama sebagai pengemban ajaran perennial, dan pada ekstrem yang lain, memenangkan "keabadian" atas "perubahan" akan membuat agama usang. Di antara dua ekstrem inilah Sorous menawarkan teori "Pengembangan dan Penyusutan Penafsiran Agama".

Dengan mendialogkan epistemologi-tradisional Islam dan epistemologi-modern Barat, Soroush memaparkan argumentasinya atas sejumlah-isu strategis semisal

Hubungan nalar dan wahyu
Beda antara agama dan ilmu agama
Pengaruh perkembangan pengetahuan manusia atas ilmu agama
Kebebasan manusia versus ketentuan Ilahi
Beda antara unsur-unsur yang-tetap dan yang-berubah dalam agama
Hubungan Islam dan demokrasi

Berlangganan via Email