Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Semua untuk Hindia

Judul: Semua untuk Hindia
Penulis: Iksaka Banu
Penerbit: KPG, 2014
Tebal:  170 halaman
Kondisi: Bagus (stok lama)
Harga: Rp. 100.000 (blm ongkir)
Order: SMS/WA 085225918312
 

Satu kualitas yang jarang hadir dalam penulis Indonesia akhir-akhir ini adalah kerendahan hati dalam menghampiri subyek. Godaan untuk menjelajah subyek tertentu, dari jenis tumbuhan tertentu hingga peristiwa 1965 begitu dahsyat sehingga tidak jarang pembaca mendapat air bah informasi yang belum tentu relevan dengan cerita.

Untungnya tantangan ini bisa dijawab dengan cukup baik oleh kumpulan cerpen Iksaka Banu yang berjudul “Semua Untuk Hindia’. Memang buku ini sudah terbit setengah tahun lalu; artinya cukup terlambat untuk mengulas buku ini sekarang.  Cerpen-cerpen dalam Semua Untuk Hindia berkisah mengenai individu yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang tercatat dalam sejarah Indonesia modern. Mayoritas individu-individu itu berkebangsaan Belanda dan menjadi saksi sejarah. Terkadang, bentuknya berupa perjumpaan antara seorang tokoh yang bernasib buruk (misalnya mengalami kecelakaan kereta atau menjadi tahanan) dengan pahlawan nasional Indonesia. Cerita lain yang sepertinya menjadi salah satu tema favorit pengarang adalah mengenai nyai. Institusi pergundikan khas tanah jajahan ini beberapa kali menjadi tema besar dari cerpen-cerpen Iksaka Banu. Beberapa peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang menjadi latar cerita antara lain pembantaian Cina di Jakarta tahun 1740, pemberontakan petani Banten tahun 1888 dan penyerbuan Inggris ke Jakarta tahun 1811. Sedikit banyak, membaca Semua Untuk Hindia akan mengingatkan kita pada seri Petit Histoire atau Sejarah Kecil Indonesia yang disusun oleh (alm) Rosihan Anwar.

Buat mereka yang gemar sejarah, cerita-cerita di kumpulan cerpen Iksaka Banu ini akan sangat mengasyikkan. Kita akan terpukau dan insaf betapa kecilnya manusia dalam gelombang sejarah. Meski mayoritas protagonis dalam kisah-kisah ini berkebangsaan Eropa (baca: penjajah), namun mereka dikonstruksikan oleh penulisnya memiliki humanisme tinggi pada orang-orang di tanah jajahan tersebut. Posisi si ‘aku’ yang seorang berpendidikan Barat tetap dalam kerangka seorang penjajah, tanpa terjebak menjadi sosok eksploitatif atau penyelamat. Hal ini menjadikan si aku sebagai penutur seperti figur yang mewakili suara penulis (atau pembaca?) sehingga mudah bagi pembaca untuk bersimpati padanya.

Dalam ceritanya, Iksaka Banu menunjukkan bahwa dalam posisi terjajah, bukan berarti apa yang dilakukan orang “Indonesia” pasti benar. Jatuhnya korban seperti penjual warung hingga balita di berbagai kejadian memberi isyarat bahwa pemaknaan terhadap sejarah tidak bisa hitam putih; terjajah bukan berarti pembenaran terhadap kekerasan.

Ada dua hal yang patut diapresiasi dari kumpulan cerpen Iksaka Banu ini. Pertama, penulis tidak berusaha menjejali pembaca dengan pengetahuan baru. Penulis lolos dari jebakan banyak fiksi yang berpretensi sastrawi; menganggap membeberkan banyak informasi mengenai topik tertentu akan meningkatkan kualitas tulisan. Kedua, penutup cerita yang memiliki optimisme yang khas. Penulis berhasil meyakinkan pembaca bahwa cerita selesai sampai titik tertentu; sisanya terserah pembaca. Model bertutur seperti ini sangat mendewasakan pembaca karena kita, sidang pembaca, dianggap cukup rasional untuk tidak merengek minta penulis berpanjang-panjang menghibur kami.

Yang mengganggu dari kumpulan cerpen ini justru adalah hal teknis dalam bercerita. Misalnya, bagaimanakah seseorang yang melihat massa beringas melalui teropong kemudian mendadak sudah diserang oleh massa tersebut (Tangan Ratu Adil)? Atau hubungan seorang wartawan Belanda dengan putri bangsawan Buleleng yang disebut sebagai “adik kecil”; mengapa harus ada pengistilahan seperti ini?

Kumpulan cerpen di Semua Untuk Hindia ini seperti permata yang belum diasah. Saya membayangkan kumpulan cerpen ini seperti menunggu pinangan untuk dijadikan film pendek atau menjadi bahan skenario film. Sudah memiliki nilai ekonomi namun perlu usaha lebih lanjut untuk menjadikannya cemerlang. Apabila Anda senang membaca kisah sejarah namun tidak mau terlalu berpelik-pelik dan tak mau terhina dengan dramatisasi berlebihan; Semua Untuk Hindia ini cocok untuk Anda. Namun, lupakan ini bila Anda ini bila Anda menghendaki kompleksitas dimensional dari semua tokoh-tokohnya. Pertanyaan penutup yang penting, akankah saya menyorongkan Semua Untuk Hindia bagi anak-anak saya? Jawabannya adalah ya, ketika mereka duduk di bangku SMA kelak.

Berlangganan via Email