Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Melunasi Janji Kemerdekaan: Biografi Anies Baswedan

Judul: Melunasi Janji Kemerdekaan: Biografi Anies Rasyid Baswedan
Penulis: Muhammad Husnil
Penerbit: Zaman, 2014
Tebal: 300 halaman
Kondisi: Bagus (stok lama)
Harga: Rp. 60.000 (blm ongkir)
Order: SMS/WA 085225918312

“Lebih baik menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan, bergerak melakukan sesuatu.”

Petikan kata di atas adalah salah satu perkataan yang pernah diucapkan oleh Anies Rasyid Baswedan atau yang lebih dikenal dengan nama Anies Baswedan. Kalimat yang sangat benar dan pun tak hanya sebagai hiasan mulut bagi Anies. Dia tidak hanya berbicara tetapi juga beraksi.

Melihat keadaan bangsa yang penuh dengan masalah, Anies memilih untuk tidak mencela, menjelekkan atau bahkan mengutuk, namun dia memilih melakukan aksi nyata berbuat sesuatu. Dari berbagai masalah, Anies memilih urun tangan di dunia pendidikan. “Membangun manusia adalah membangun bangsa,” begitu juga  kata Anies.

Nama Anies semakin sering terdengar sejak mendeklarasikan gerakan yang digagasnya, Gerakan Indonesia Mengajar pada tahun 2010. Sebuah gerakan yang menurut Anies sebagai bentuk pelunasan janji kemerdekaan yang dilakukan oleh generasi bangsa. “Manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci untuk mempercepat pelunasan janji kemerdekaan kita,” ungkap Anies (halaman 262). Pendidikan adalah salah satu dari janji kemerdekaan yang ada dalam empat janji kemerdekaan, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.

Dengan Gerakan Indonesia Mengajar yang biasa disingkat GIM, Anies mengajak kepada Mahasiswa yang baru lulus miksimal setelah dua tahun untuk turut membangun bangsa dengan pendidikan melalui gerakan yang dia prakarsai. Mereka yang lulus seleksi akan dikirim ke pelosok negeri untuk mengajar di sekolah-sekolah dasar yang masih minim fasilitas dan kekurangan tenaga pengajar. Dengan keadaan yang jauh dari kota dan gaji yang kecil,  namun GIM banyak menarik minat pemuda dan pemudi bangsa turut menjadi bagian yang mengabdi sekaligus membangun bangsa.

Sejak awal diluncurkan pada tahun 2010 hingga 2014, GIM telah menerima surat lamaran sebanyak kurang lebih dua puluh delapan ribu orang pelamar menjadi Pengajar Muda atau yang biasa disingkat PM. Namun, sampai saat ini jumlah PM yang terseleksi masih di bawah seribu.

Melihat jumlah yang besar ini, Anies kerap mengungkapkan bahwa tak sepantasnya kita pesimis, karena masih banyak stok pejuang yang dilahirkan para ibu di negeri ini. Hingga 2014 ini GIM sudah menempatkan PM di 17 kabupaten di seluruh Indonesia.

Anies mengatakan bahwa GIM akan mencetak calon pemimpin masa depan yang fasih berbicara di tingkat dunia, namun tetap memiliki pijakan di tingkat lokal. Tak bisa dimungkiri, anak-anak muda yang saat ini menjadi PM adalah mereka yang secara prestasi akademiknya baik, jiwa kepimimpinan mereka terasah, dan memiliki kemampuan menghadapi tantangan kehidupan dengan optimis. Harapan Anies, sederhana, kelak bila mereka menjadi pemimpin, mereka akan selalu memperjuangkan masyarakat dan dekat dengan masyarakat (halaman 238).

Anies juga tak menutup-nutupi bahwa GIM adalah penerjemahan ulang dari konsep Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM), yang dulu pernah digerakkan oleh Koesnadi Hardjasoemantri pada tahun 1950-an. PTM ini dimulai di UGM, kemudian diikuti oleh kampus-kampus di Indonesia lainnya.

PTM pun bisa dianggap berhasil. Karena angkatan pertama PTM yang memilih tempat paling jauh saat itu Kupang, Nusa Tenggara Timur membawa tiga siswa terbaik di tempat Koes mengajar ke Yogyakarta untuk kuliah. Hasilnya, ketiga orang tersebut menjadi orang penting di negeri ini. Salah satunya adalah Adrianus Mooy yang menjadi Gubernur Bank Indonesia pada kurun 1988-1993 (halaman 239).

Sebenarnya, Anies sebelum memprakarsai GIM telah melakukan urun tangan dalam bidang pendidikan dengan cara lain. Yakni, dilakukan saat terpilih menjadi rektor Universitas Paramadina periode pertama. Dia membua sebuah beasiswa kuliah bagi lulusan SMA yang pintar namun tidak mampu. Seperti pengalamannya mendapatkan beasiswa untuk doktoralnya, yakni beasiswa Willam Cole III Fellowship dan Gerald Fellow. Maka, Anies pun memberi nama beasiswa yang dia buat itu Paramadina Fellowship  (halaman 219).

Melihat sifat, sikap dan kecakapan Anies saat ini memang banyak dipengaruhi pada apa yang telah dia lalui sejak kecil hingga sekarang. Mulai kecil yang dekat dengan kakeknya yang seorang muballigh, bapak dan ibunya yang seorang dosen serta pendikan formal dan nonformal yang di dapatkan sebelumnya. Sosok yang layak menjadi inspirasi ketika krisis moral generasi bangsa semakin menjadi.

Akhirnya, buku biografi tentang Anies Rasyid Baswedan yang ditulis oleh Muhammad Husnil ini, layak menjadi buku yang wajib Anda baca. Selain ditulis gaya novel yang mengalir dibaca.

Berlangganan via Email