Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Agama dan Perdamaian: Dari Potensi Menuju Aksi

Judul: Agama dan Perdamaian: Dari Potensi Menuju Aksi
Editor: Moch. Nur Ichwan & Ahmad Muttaqin
Penerbit: CR-Peace, 2000
Tebal: 275 halaman
Kondisi: Stok Lama (Bagus)
Harga: Rp. 100.000 (blm ongkir)
Order: SMS/WA 085225918312
 

Dalam satu dekade lebih kita menyaksikan kebangkitan global agama-agama, baik dalam pengertian spiritual, ekonomik, maupun ideologi dan politik. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari akses projek modernitas yang aksesif di segala bidang yang telah membawa dampak peminggiran agama dari ruang publik. Sains dan teknologi serta Ilmu-lmu sosial positivistik telah mencoba menghilangkan nilai, termasuk nilai berbasis agama, dari ilmu pengetahuan. Ilmu menurut mereka bebas nilai. Namun dampak dari itu adalah alienasi manusia dari dunia real mereka. Mereka berubah menjadi mesin-mesin kapitalisme yang seakan-akan berjalan tanpa ruh. Hal ini yang memunculkan beberapa respons yang juga aksessif: penolakan ekstrem terhadap modernitas dengan segala projek nalar pencerahan, sekularisme, kapitalisme, dan anti-nilainya. Di Barat sendiri muncul gerakan Postmodernisme dalam seni dan ilmu pengetahuan, gerakan spiritual New Age, dan gerakan-gerakan neo-konservatif dan ekstra-kanan. Secara umum lalu mencul pusat-pusat spiritual, bisnis-bisnis berbasis agama, dan juga gerakan-gerakan ideologis dan politis agama-agama. Ini terjadi di berbagai belahan dunia dan di hampir semua agama, baik Abrahamik maupun non-Abrahamik. Terkait dengan gerakan-gerakan ideologis-politis, ini diikuti oleh sejumlah tindak kekerasan atas nama agama. Pada aras internasional kita disuguhi dengan berbagai konflik antaragama dan tindakan terorisme atas nama agama—kendati pun dengan sejumlah penyangkalan. Sejumlah konflik agama juga muncul seperti antara Hindu dan Muslim di India, Buddha dan Muslim di Burma, Katolik dan Muslim di Filipina, Muslim dan Kristen di Maluku dan Poso, Indonesia. Isu-isu terorisme kegamaan, yang merupakan anak sah dari modernitas, menyeruak ke permukaan pada awal abad ke-21 ini, terutama setelah serangan terhadap menara WTC di Woshington DC pada 11 September 2001. Ini kemudian diikuti dengan serangan Amerika ke Afghanistan dengan alasan mencari Osama ben Laden dengan semanga —sebagaimana dikatakan presiden George Bush Jr— "crusade” (perang salib), walau kemudian dia mengoreksinya. Tahun berikutnya muncul serangan bom Bali I di Indonesia, dan juga bom Bali II, yang memakan korban baik orang Indonesia maupun asing, Muslim maupun non-Muslim. Setelah itu, muncul berbagai aksi teror lanjutan di tanah air, yang di antaranya dimotori oleh teroris negeri jiran, Nurdin M. Top, dan sebagiannya merupakan respons terhadap aksi represi dari kepolisian dan Densus 88. Kita pun mengenal gerakan-gerakan paramiliter seperti Laskar Jihad, Laskar Mujahidin dan Laskar Kristus.

Berlangganan via Email