Jual Buku Kejawen Modern: Hakikat dalam Penghayatan Sumarah

Judul: Kejawen Modern: Hakikat dalam Penghayatan Sumarah
Penulis: Paul Stange
Penerbit: LKiS, 2009
Tebal: 442 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 90.000 (blm ongkir)
SMS/WA: 085225918312


Siapa yang berani menyatakan sudah mencapai kesempurnaan hidup, “pengertian” mengenainya masih di alam “pemikir”. Pengalaman pencerahan batiniyah pun masih di alam wujud, walau terkadang sangat halus. Kebenaran mutlak atau di sebut hakiki hanya berupa pancaran tuhan yang memang di mungkinkan bergandeng dengan alam-alam yang ditempuh makhluk yang disebut “manusia”. Bagaimanapun, yang mutlak masih “milik Tuhan”, tak tercakup alam terbatas yang disebut “orang”.

Sumarah, sebuah organisasi kebatinan yang dipelopori oleh Sukinohartono, yang kehadirannya menitikberatkan pada prinsip bahwa “kebenaran mendasari semua agama”. Ia berfungsi sebagai penyelaras spritual dan material, serta penguat tali persaudaraan umat manusia. Sumarah sebagai perkumpulan kebatinan yang bersumber pada penghayatan, yaitu saluran atau wahana demi perkembangan batin dari tuhan kepada seseorang secara langsung.

Paul Stange dalam buku ini menyatakan bahwa tema utama sejarah Sumarah adalah upaya mengubah pandangan orang dari keterikatan pada kerajaan arwah leluhur. Ini dibuktikan sendiri oleh pendiri Sumarah, yang menolak bantuan ruh panembahan sinopati untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan pasukan dari alam lelembut. Dan atau ditolaknya gaya islam ala Diponegoro dalam perang Jawa melawan belanda lewat bantuan Nyai Roro Kidul.

Pada prinsipnya, berbagai macam praktik spiritual kalangan mistik diharapkan berhasil dalam meningkatkan kesadaran bahwa segala wujud, termasuk yang mereka gunakan adalah melitansi. Inti pencarian mistik, sebagai kesadaran langsung akan kesatuan adalah berada diluar demensi baik nyata ataupun gaib. Meskipun pengalaman mistik berbuah dalam beberapa gagasan intelektual atau keyakinan emosional, intinya pengalaman itu sendiri tidak bergantung pada keduanya. Kalangan mistik secara universal menyatakan bahwa inti pengalaman adalah sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh nalar, sedangkan otentisitas tidak dapat dinilai berdasarkan wujud yang terpercik dari ekspresi sehingga pada ujungnya ia hanya mampu diketahui oleh dirinya sendiri.

Sebagaian orang jawa masih merasakan islam sebagai agama asing secara esensial. Artinya, ia bukan dari identitas mereka, seperti halnya, budaya india sebelumnya. Pandangan budayawan kejawen lebih cenderung melihat kebelakang pada perpaduan rohani Majapahit Hindu selama lebih dari lima abad yang lalu ketimbang Demak Islam pada masa kemudian. Beberapa tradisi rakyat yang menyuguhkan secara rinci keruntuhan Majapahit memasukkan ramalan bahwa jawa nantinya akan jatuh dibawah kaki kebudayaan asing selam lima ratus tahun sebelum zaman Buddha, atau era kemasaan baru akan membangkitkan kembali jati diri kejiwaan pribumi.

Dan karena orang Sumarah memandang evolusi mereka sendiri sudah barang tentu terdapat begitu banyak keragaman corak perkembangan. Bahkan pada tahapan awal sejarah gerakan kebatinan itu, para juru bicara Sumarah memahami perkembangan tersebut dalam pengertian dinamis. Mereka menyesuikan yang terus berlanjut terhadap pertumbuhan kesadaran internal dan tekanan eksternal dalam konteks yang melatari sebagai sesuatu yang alamiah. Alih-alih membahas magik dan kesaktian, tema pembicaraan mereka sudah mengarah kedemensi kesadaran dalam sehari-hari dan mengaitkan perubahan yang terjadi dengan difusi otoritas spiritual atau yang disebut “demokratisasi spiritual”(hal, 312).

Gerak batiniah, baik dari kesadaran maupun organisasi juga dimengerti sebagai sesuatu yang terkait secara integral dengan pola nasional. Akan tetapi, kesejajaran itu dihayati bukan hanya sebagai hasil dari kekuatan yang sama, melainkan juga sebagai refleksi dari penyelarasan kelompok yang sifatnya khusus terhadap peristiwa yang lebih luas dimensinya.

Secara umum, latihan sumarah mengilustrasikan suatu prinsip yang diakui secara luas. Basis tuntunan spiritual dalam Sumarah adalah “penyelarasan” para pamong terhadap kondisi batiniah para anggota. Disini pamong sebagai penuntun spiritual dianggap mempunyai kepekaan terhadap rasa yang merupakan landasan bagi pernyataan objektif tentang kondisi getaran yang sifatnya halus dalam diri warga Sumarah, yang boleh jadi tidak disadari oleh mereka.

Nah, fenomena ini menunjukkan bahwa sejak dahulu islam di Jawa tidak mengenal apa yang disebut ekslusivitas. Ketergantungan antara islam dan dunia kejawen (kebatinan) juga tampak dalam wayang kulit, sebagai kontinuitas Hindu ke Islam (kisah pertemuan Sunan kalijaga dan Judistira), perjuangan pangeran Diponegoro pada 1825-1830 melawan penjajah Belanda (pertolongan nyi Roro kidul). Artinya, interaksi antara islam dan budaya lokal telah menciptakan sikap inklusivistik islam yang tertanam diJawa sejak dahulu kala.

Buku setebal 394 halaman ini, sangat berharga sekali, disamping jarang sekali, bacaan berat dibahas secara tuntas, gamblang dan mudah dicerna siapapun. Untuk itu, membaca buku ini dengan sendirinya kita berhadapan dengan seoarang yang disatu sisi murni scholar (seorang yang berjarak terhadap Jawa). Namun disisi lain, menjadi “orang dalam” yang menganut dan menghayati nilai-nilai yang diteropong tersebut. Sehingga buku ini layak dibaca siapapun yang menaruh perhatian pada kebudayaan Nusantara khususnya Jawa. Baik, budayawan, akademisi dan masyakat umum, karena lewat suatu teropong etnoggrafisnya yang dikombinasikan dengan penelusuran leterarnya, buku ini makin lebih hidup.


Berlangganan via Email