Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Hegemoni Rezim Intelijen: Sisi Gelap Peradilan Kasus Komando Jihad

Judul: Hegemoni Rezim Intelijen: Sisi Gelap Peradilan Kasus Komando Jihad
Penulis: Busyro Muqoddas
Penerbit: PUSHAM UII, 2011
Tebal: 498 halaman (hardcover)
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 160.000 (blm ongkir)
SMS/WA: 085225918312


Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Busyro Muqoddas meluncurkan buku berjudul Hegemoni Rezim Intelijen, Sisi Gelap Peradilan Kasus Komando Jihad. Buku tersebut merupakan disertasi Busyro saat menempuh S3 doktor ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH UII)

Sebastian Pompe dalam Kata Pengantarnya dengan alasan bobot karya intelektual ini didasari oleh pengalamannya sendiri sebagai seorang pelaku sejarah, yaitu sebagai pengacara pembela para terpidanan kasus Komando Jihad 30 tahun yang lalu. Kekagumannya juga karena ditengah kesibukannya semula sebagai Ketua Komisi Yudisial yang kemudian harus mengikuti proses sangat berat untuk menjadi Ketua KPK, masih bisa menyajikan sebuah tulisan yang bermanfaat bagi kita smua masyarakat bangsa Indonesia terutama generasi masa kini dan yang akan datang. Secara runtut dipaparkannya perjalanan sesat peradilan (hal 457) yang berada di bawah kendali eksekutif, di mana hegemoni rezim intelijen merupakan asal muasalnya (causa prima). Penulis berkesimpulan, bahwa konflik ideologis antara negara RI yang menjunjung nilai-nilai Pancasila dengan Soekarmadji Maridjan Kartosuwiryo yang mencita-citakan negara bersyari’at Islam sebenarnya telah selesai pada tahun 1962, tetapi kemudian telah dihidupkan kembali oleh intelijen dalam wujud Komando Jihad yang lalu dihancurkannya sendiri untuk keperluan politik (kemenangan Golkar dalam Pemilu 1971).

Busyro Muqoddas, melalui Hegemoni Rezim Intelijen; Sisi Gelap Peradilan Kasus Komando Jihad membawa bacaan yang menarik. Ada satu sejarah pemerintahan di Indonesia yang selalu jadi buah bibir hingga sekarang, yakni Orde Baru (1966-1998). Keistimewaan Orba dapat ditinjau dari Tiga kekuatan “pengaman”; Militer, Golongan Karya/Birokrat, dan Konglomerat. Ketiga kekuatan ini juga yang turut membentuk corak otoriter Orba.

Kebutuhan “pengamanan” Orba melahirkan pembenaran-pembenaran tindakan yang jauh dari keadilan. Sistem Orba menolak segala macam perusak dominasi kekuasaan yang sedang dan akan dimainkannya. maka Orba menjaga kestabilan kekuasaan dengan memanfaatkan tiga kekuatan tadi, dan dengan segala variasinya membentuk lingkaran kokoh yang menahan agar Orba tidak sampai anjlok wibawanya dalam perpolitikan Nasional. Dari sinilah disinyalir; Peradilan Sesat, Komando Jihad, dan Intelijen berada.

Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) yang memang diduga telah melakukan penyiksaan dan pembunuhan tahun 1965 adalah alat yang ampuh dari pemerintah Orde Baru. Busyro menuliskan bahwa Kopkamtib dan BAKIN menjadi penyebab munculnya Komando Jihad. Persekongkolan di antara Kopkamtib dan BAKIN terjadi melalui dua fungsi. Kopkamtib menjalankan fungsi penegakan hukum, sedangkan BAKIN menyulut teror dan kekerasan. Motif klasik dari manipulasi ini adalah untuk mempersiapkan kemenangan GOLKAR pada pemilu 1977.

Kestabilan Orba juga dijaga dengan tindakan pembonsaian “Islam Politik” pada 1973 oleh Suharto. Namun, ternyata tidak mampu meredam keinginan masyarakat untuk mendukung partai selain GOLKAR. Bagaimanapun juga, GOLKAR adalah salah-satu dari tiga kekuatan utama yang mendukung Orba untuk bertahan sedemikian lamanya, yakni 1966 hingga 1998. Dua kekuatan lainnya adalah Militer dan Konglomerat.

Buku Hegemoni Rezim Intelijen ini merupakan disertasi Busyro Muqoddas yang membahas bagaimana peradilan sesat berjalan selama ini. “peradilan sesat” mencirikan satu kegiatan yang serba manipulatif. Para terdakwa diperlakukan secara tidak manusiawi didepan hukum. Busyro menampakkan kepada kita satu ulasan tajam dan terbuka mengenai dugaan/rekaan kita tentang praktik peradilan yang selama ini boroknya masih dalam taraf mitos.

Sebastian Pompe, peneliti asal belanda sekaligus penulis buku Runtuhnya Institusi Mahkamah Agung, dalam kata pengantar mengatakan jelas adalah salah tafsir jika menganggap karya ini hanya sebuah tinjauan historis yang tidak memiliki keterkaitan apapun dengan masa sekarang, karena ternyata kajian Busyro masih sangat relevan di masa sekarang terlebih pada bagaimana bentuk-bentuk marginalisasi politik islam. Pompe juga menutup pengantarnya dengan memuji busyro, “buku ini adalah suatu mahakarya”.

“Buku ini memotret keadaan terdahulu saat intelijen sangat berkuasa di semua hal pada era Orde Baru sehingga buku ini juga digunakan untuk proyeksi ke depan dan menciptakan kesadaran agar jangan lagi ada rezim intelijen"
-- Said Tuhuleley, Ketua MPM PP Muhammadiyah

"Berdasarkan pengalamannya di dunia intelijen, tidak sependapat dengan tulisan Busyro yang menyatakan ada rekayasa atau campur tangan pemerintah (Ali Murtopo) dalam kasus komando jihad. Prinsip intelijen itu cepat, tepat dan jujur kalau ada rekayasa itu bukan prinsip intelijen"
-- AM Hendro Priyono, mantan Kepala BIN

Berlangganan via Email