Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Mind Body Spirit: Aku Bersilat Aku Ada

Judul: Mind Body Spirit: Aku Bersilat Aku Ada
Penulis: Bre Redana
Penerbit: Kompas, 2013
Tebal: 180 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 40.000 (blm ongkir)
SMS/WA: 085225918312


Mind Body Spirit. Dengan melatih badan (body), kita menjadi mengenal struktur tubuh dan organ-organ kita berikut bagaimana cara kerjanya. Sementara dengan melatih pikiran (mind), kita disadarkan bagaimana otak memerintah tubuh. Hubungan antara mind dan body menghasilkan spirit alias daya, dari daya gerak sampai daya cipta. Mind-body-spirit membawa kita pada apa yang ingin dicapai melalui catatan-catatan dalam buku ini, yakni kesadaran.

“Dalam buku ini terlihat sebagai bagian dari keragaman budaya Indonesia, dimanfaatkan untuk merevitalisasi kehidupan sehari-hari secara luas. Dia dimanfaatkan untuk memahami berbagai hal, dari kesenian seperti teater, musik, sampai ke arsitektur serta pemikiran mengenai hal-hal yang esensial dalam kehidupan. Kebudayaan berikut sifat keberagamannya seperti di Indonesia, selalu memiliki peluang besar untuk memberikan kontribusi bagi kemanusiaan. Culture matters.”

Sebelum membaca buku ini, jangan berpikiran bahwa buku ini akan mengajarkan jurus silat yang mematikan. Alih-alih akan mendapati cara-cara memukul dan menendang lawan dan bagaimana menangkis serangan lawan, buku ini justru menawarkan sebuah paradoks ilmu silat. Setidaknya itulah yang tersaji dalam buku Mind Body Spirit: Aku bersilat, Aku Ada, Guru Besar Persatuan Gerak Badan Bangau Putih Gunawan Rahardja karangan Bre Redana, seorang murid yang menjadi bagian dari dewan pelatih.

Saya membayangkan bagaimana frustasinya seorang murid ketika menerima pelajaran yang justru memaparkan hal-hal paradoks. Murid-murid senantiasa berlatih untuk bisa melakukan gerakan yang bagus yang justru hanya bisa dinilai dari kewajarannya. Tidak dibuat-buat. Apa adanya. Menerapkan “bikin yang wajar menjadi tidak wajar, bikin yang tidak wajar menjadi wajar.” adalah pelajaran yang bisa jadi membuat pusing murid-muridnya. …/aku wajar-wajar saja/ aku mau apa adanya/ aku tak mau mengingkari hati nurani/… begitu kelompok musik Swami menyanyikan lagu berjudul Hio. Dan dengan latihan para murid bisa merasakan: makin dicari, makin hendak dicapai, semakin sulit diraba, apalagi ditangkap. Lalu bagaimana melakukannya? “Jangan dipikirkan.” begitu Guru berkata. Hingga murid bisa memahami bahwa bersilat adalah melatih kewajaran gerak dan bentuk.

Sementara itu, secara teknis, gerakan silat adalah gerakan yang mementingkan ketepatan. Ketepatan pukulan, ketepatan tendangan dan ketepatan ketika menangkis dan menghindar. Hingga seorang murid mampu menguasainya dengan kesadaran bahwa hal yang demikian itu bisa didapatkan tanpa menolak aturan alam. Sebagaimana posisi kuda-kuda berdiri pada bidang yang eksak, yakni geometri. Bukan ketepatan dalam bidang ruang saja, namun juga ketepatan dalam waktu. Ketepatan waktu ketika memukul dan menendang, tidak boleh terlalu cepat atau terlambat. Begitu juga ketika menangkis. Kita tidak bisa terlalu cepat mengambil gerakan menangkis sementara serangan lawan belum mengenai sasaran karena hal tersebut membuat kita menunggu. Maka yang dibutuhkan adalah yang pas. Dan lagi-lagi, saya membayangkan bagaimana murid-murid perguruan itu bingung. Memikirkan bagaimana mengimplementasikan dalam latihan. “Jangan dipikirkan.” kata Guru. Begitu Bre Redana menceritakan hari-harinya berlatih bersama Guru Besar Persatuan Gerak Badan Bangau Putih, Gunawan Rahardja.

Satu per satu segala macam permasalahan terkuak dalam latihan hingga menemukan kesadaran. Dan siapapun tahu bahwa kesadaran terhadap ruang dan waktu, tak terbatas pada praktik-praktik olah tubuh dan gerak yang dilakukan di ruang latihan saja. Kesadaran meruang dan mewaktu itu juga hadir di luar ruang dan waktu latihan. Imbasnya murid-murid perguruan belajar bagaimana mengendalikan keadaan. Bukan keadaan yang menguasainya. Latihan Tui Cu atau latihan berpasangan akan melatih aksi, reaksi dan refleksi. Sebuah cara mengeksplorasi batas kemampuan manusia beradaptasi dengan perubahan. Karena dalam Tui Cu seorang murid tidak bisa memilih pasangan atau lawan berlatihnya. Kami harus menerima apa adanya pasangan tui cu dari yang gerakannya lembut, hati-hati, sampai yang cepat, keras dan kadang kurang terkontrol,  tulis Bre. Hal itulah yang membuat murid-murid perguruan berlatih menemui suatu keadaan yang tidak diperkirakan. Dan mereka dilatih untuk mengendalikan keadaan.

Adapun gerakan jurus yang dikuasai sebenarnya tidak terlalu banyak, alih-alih setelah bertahun-tahun belajar di perguruan akan mempelajari tendangan tanpa bayangan atau ilmu meringankan tubuh. Setelah sekian lama mengikuti latihan demi latihan, keadaannya justru menjadi wajar dan sederhana. Gerakan jurus semakin terlihat sederhana dan mudah. Nampak lentur dan luwes. Berbeda ketika baru pertama latihan, rumit dan susah hingga nampak kaku. Hal tersebut dikarenakan dulu ketika latihan melibatkan pikiran. Pikiranlah yang membebani proses latihan. Pikiran untuk bisa menguasai ilmu dan pikiran untuk mengetahui dan mengikuti gerakan demi gerakan. Dan setelah melatih gerakan secara berulang-ulang dan yang dilatih bisa dikatakan gerakan yang itu-itu saja, maka murid-murid menemukan kesadarannya sendiri.

Hari-hari dalam latihan hanya “melakukan” dan “menjalani”. Dilakukan secara terus menerus hingga pada tingkat tertentu malahirkan sebuah “kesadaran”. Saya pun langsung teringat lirik lagu Paman Doblang dari kelompok musik Kantata Taqwa. …Kesadaran adalah matahari adalah matahari adalah matahari/ Kesadaran adalah bumi adalah bumi/ Keberanian menjadi cakrawala menjadi cakrawala menjadi cakrawala/ Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata/ …

Berlangganan via Email