Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Adonis: Gairah Membunuh Tuhan Cendekiawan Arab-Islam

Judul: Adonis: Gairah Membunuh Tuhan Cendekiawan Arab-Islam
Penulis: Zacky Khairul Umam
Penerbit: Kepik, 2011
Tebal: 199 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Stok kosong

Selama ini citra tentang bangsa Arab tidak dapat dilepaskan dari citra masyarakat yang seluruh kehidupannya diatur oleh agama dengan ketaatan tidak jauh berbeda seperti pada zaman awal kedatangannya, sangat jarang terdengar bahwa dalam bangsa Arab terdapat mereka yang memiliki pikiran atau faham berbeda yang bersifat liberal atau sekuler.  Benarkah?

Adonis, penyair Suriah yang bernama asli Ali Ahmad Said Asbar, adalah sedikit dari intelektual Arab yang memiliki pandangan sekuler. Sebagai penyair, melalui puisi ia melakukan kritik terhadap sastra dan seluruh budaya Arab yang menurutnya terlalu terikat pada agama sehingga membekukan dan melumpuhkan daya kreativitas dan pemikiran masyarakat Arab.

Berbeda dengan Edward Said, yang dalam bukunya Orientalism menilai bangsa Barat tidak adil, rasis dan imperialistis karena selalu menilai bangsa Arab khususnya sebagai bangsa yang statis, irasional, anti modernitas, kejam dan hal itu antara lain karena kolonialisme, Adonis justru melakukan kritik agar bangsa Arab mau berubah, dengan mengakui semua kelemahan tersebut sebagai kesalahan dan tanggung jawab sendiri, karena penyebabnya adalah konservatisme agama dan penindasan keragaman berpendapat selama berabad-abad oleh penguasa yang selama ini selalu beraliran konservatif.

Uraian Chaerul Umam dalam buku ini merupakan pengantar untuk memahami pokok pikiran Adonis, yang memiliki pengaruh besar terhadap pemikiran liberal  di Arab, sehingga dapat membantu kita memahami gerakan yang terjadi disana akhir-akhir ini.

Adonis berpendapat bahwa bangsa Arab mengalami kemunduran karena agama menguasai seluruh kehidupan dan waktu  Kehidupan sosial, politik, budaya dan pengetahuan yang harus selalu meneguhkan kebenaran Quran dan hadits, membuat bangsa Arab tidak kreatif dan hanya melakukan peniruan, yaitu selalu merefer ke masa lalu, sehingga setiap tindakan di masa kini selalu meniru tindakan Nabi di masa lalu, dan masa kini serta masa depan selalu dianggap lebih buruk dari masa lalu (zaman nabi). Kitab suci juga dianggap telah berisi semua pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan harus selalu sesuai dengan yang tertulis dan yang tidak sesuai harus ditolak. Dengan demikian pencarian pengetahuan tidak terbuka kepada penemuan-penemuan baru, karena segala hal sudah diketahui dan tertulis di kitab suci. Masa lalu melingkupi masa kini dan masa depan.

Sebagaimana ditulis oleh Umam,"wahyu diletakkan oleh bangsa Arab-muslim sebagai dasar bagi pergerakan waktu dan sejarah. Wahyu…sebagai gambaran zaman secara keseluruhan: kemarin, sekarang, dan esok. …Masa depan tidak bisa menjadi titik perubahan, melainkan sesuatu yang telah tertata secara absolute menurut wahyu,” sehingga “manusia tidak menyingkapkan apapun, tetapi mempelajari penyingkapan ketuhanan.” (hal 41).

Hal ini mengakibatkan bangsa Arab statis, tertutup, ditambah perasaan superioritas suku tertentu yang bersifat rasis terhadap suku lain di Arab, membuat pemerintahan negara-negara di kawasan tersebut bersifat despotik.

Untuk mengubah kondisi tersebut, penyair dapat berperan besar, dengan melakukan perubahan atau pembebasan puisi, yang akan mempengaruhi bahasa dan cara berpikir.  

Selama ratusan tahun puisi dan sastra hanya ditujukan untuk menegaskan kebenaran agama, dan aliran-aliran lain yang berbeda ditindas oleh penguasa. Padahal, cara pandang sastra dengan agama berbeda, misalnya tentang waktu. Agama telah meramalkan dan mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, sementara dalam sastra masa depan adalah “semesta kemungkinan”, sesuatu yang baru.

Oleh karena itu untuk membebaskan bangsa Arab dari penindasan agama dan penguasa despotik, puisi harus diubah dahulu, karena bahasa mempengaruhi cara berpikir dan pikiran akan mempengaruhi tindakan. Perubahan dalam puisi dan bahasa selanjutnya akan mengubah bidang-bidang lainnya.

Oleh karena wahyu melingkupi segalanya, maka menurut Adonis bentuk modernitas yang pertama dalam Islam adalah kritisisme terhadap wahyu, dengan mengeliminasi agama dari masyarakat dan mengokohkan akal. Modernitas sama dengan sekularisme dan rasionalisme absolut, yaitu satu-satunya jalan mewujudkan keadilan sosial, persamaan dan kemajuan. Ia menunjuk pada pemikiran rasionalis Ibnu ar-Rawandi dan ar-Razi, yang menolak wahyu dan kenabian, serta menggantinya  dengan akal, rasionalisme dan menempatkan manusia sebagai pusat kesadaran.  

Mengenai kebudayaan Arab, menurut Adonis tadinya terdiri dari yang mapan dan yang berubah, namun sejak abad ke sebelas, Al Ghazali membuat masyarakat Arab meninggalkan rasionalisme dengan pandangannya yang sangat konservatif, dan Islam menjadi absolut sebagai awal peradaban sekaligus peradaban final (hal.78) sehingga sejak saat itu agama menentukan dan mengatur seluruh bidang kehidupan dengan ketat, yang berlangsung hingga kini.

Penulis juga menguraikan ciri-ciri mazhab konservatif ini yang bersifat fundamentalis dan dapat kita temukan persamaannya dengan aliran-aliran sejenis yang kini marak di Indonesia.

Bagi pihak Barat, Adonis menjadi sumber informasi penting untuk memahami bangsa Arab dan Islam, karena dia dianggap lebih memahami jiwa bangsanya. Dalam suatu wawancara dengan Asia Time Online pada tahun 2007 ia menyatakan:

”Islam destroys the creative capacity of the Arabs, who in turn do not have the capacity to become modern. .. Nothing less than the transformation of Islam from a state religion to a personal religion is required for the Arabs to enter the modern world. … the preconditions for democracy do not exist in Arab society, and cannot exist unless religion is re-examined in a new and accurate way, and unless religion becomes a personal and spiritual experience, which must be respected.The trouble, is that Arabs do not want to be free.…because being free is a great burden.“

Bagi Indonesia, kritik Adonis terhadap bangsa Arab seharusnya menjadi bahan untuk bersikap kritis terhadap segala sesuatu yang berasal dari sana, karena banyak pihak yang tidak lagi dapat  membedakan antara agama Islam dan karakter serta budaya Arab, atau menyamakan agama Islam dengan konservatisme ala Arab di atas, sehingga menerima seluruh doktrin yang berasal dari sana begitu saja dengan mengabaikan karakter dan budaya sendiri bahkan rasionalitas.

Beberapa karya Adonis, yang kini berusia 81 tahun, telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, antara lain buku puisi “Nyanyian Mihyar di Damaskus”. Ia mendapat  Goethe award dari Jerman pada tahun 2011 sebagai pembawa modernitas Eropa ke lingkaran Arab dan disebut sebagai penyair Arab terpenting saat ini, ia juga sempat disebut-sebut  sebagai calon pemenang Nobel sastra tahun 2011, namun belum terpilih.

Dari kritik Adonis terlihat bahwa konservatisme agamalah yang menjadi penyebab utama kemunduran bangsa Arab. Namun, hal inilah yang kini tampaknya justru hendak diikuti oleh penganut Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Berlangganan via Email