Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Pertarungan Islam dan Komunisme Melawan Kapitalisme: Teologi Pembebasan Kyai Kiri Haji Misbach

Judul: Pertarungan Islam dan Komunisme Melawan Kapitalisme: Teologi Pembebasan Kyai Kiri Haji Misbach
Penulis: Nor Hiqmah
Penerbit: Madani, 2011
Tebal: 113 halaman
Kondisi: Bagus (stok lama)
Harga: Rp. 40.000 (blm ongkir)
SMS/WA: 085225918312
PIN BBM: 5244DA2C


Membaca karya Haji Misbach, kita akan melihat suatu ikatan batin antara perjuangan politiknya sebagai seorang kyai dengan gagasan-gagasan sosialisme yang baru berkembang di Hindia Belanda pada saat itu. Dan kita tahu  agama dan sosialisme memang secara salah kaprah seringkali ditempatkan dalam posisi yang berseberangan.  Cara ini  tentu saja  terkadang kurang adil dan ahistoris. Sebab gerakan agama besar seperti Nabi Isa dan Nabi Muhammad, justru  berasal dari lapisan masyarakat yang  terendah didalam masyarakatnya. Perjuangan keduanya, dapat disamakan dengan suatu perjuagan revolusioner mengalahkan  kekuasaan  feodal yang despotik dan mengangkat derajat para budak dan kaum teraniaya dan mempunyai harkat yang setara diantara sesama manusia lainnya.

Dalam  sejarah teori perjuanganya memang kaum  sosialis kurang memberikan  elaborasi yang luas soal agama. Tapi bukan berarti mereka tidak pernah menyinggungnya.  Gerakan kiri tipe lama atau kaum Marxist ortodoks memang kurang  menganggap ajaran-ajaran agama mempunyai potensi sebagai  ideologi perlawanan, secara khusus dalam melawan kapitalisme. Hal ini nampak  dari pengalaman Marx dan Lenin yang secara kongkrit melihat para pemuka dan institusi agama Kristen dan Katolik  di Eropa menjadi bagian dari oligarki penindasan itu sendiri, baik dalam hal dukungan politik pada ‘para penguasa’, tapi juga dalam bentuk ‘hegemoni kesadaran’ yang membuat  rakyat tertindas  seperti  pasrah akan keadannya dan menanti kemakmuran setelah  kematian dalam janji-janji utopis kebahagian di surga.  Hal ini membuat  rakyat menjadi pasif dan tidak mengubah situasi yang buruk dengan cara memperjuangkan nasib  yang baik dengan kekuatan dan energinya sendiri.

Dalam konteks relasi antar kekuasaan yang menindas dan kesadaran para korban inilah Marx meletakan posisi agama. Sebab, dia bukanlah seorang ahli agama, tapi hanya  menjelaskan bahwa agama, tidak saja  menjadi relasi spiritual yang kodrati dan abstrak  tapi juga terkiat dengan relasi kekuasaan yang nyata dan berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari manusia. Atau menurut Michael Lowy, penulis buku “Teologi Pembebasan“ terutama dalam buku “German Ideology” (1864) Kajian Marx yang tajam tentang agama sebagai suatu kenyataan sosial dan sejarah yang baru dimulai.

Kalimat Marx yang berbunyi “agama adalah candu rakyat” adalah penggalan kalimat yang sering dikutip dengan dipisahkan dari konteks dan eksistensi Marx itu sendiri. Tidak banyak orang tahu bahwa tulisan ini adalah karya ‘Marx Muda’ yang masih belum menjadi seorang “marxis’. Saat itu dia lebih cenderung sebagai pemikir sayap kiri neo Hegelian dibawah pengaruh Fuerbach. Kutipan ini ditemukan dalam karyanya ketika melakukan kritik atas filsafat Hegelian dalam karyanya “Toward the Critique of Hegel’s Philosophy of Right,” yang ia tulis pada tahun 1844. Analisanya sebetulnya belum masuk dalam teori filsafat ‘perjuangan kelas’ yang kemudian lahir dari karya-karyanya kemudian. Dalam karyanya tersebut tampak Marx masih melihat dualisme  dalam praktek agama di Eropa, disatu sisi ia melihat agama (gereja) menjadi  alat legitimasi penguasa, akan tetapi disisi lain dia juga melihat agama juga punya dimensi penentangan atas kekuasaan yang mapan

Berlangganan via Email