Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Norwegian Wood (Haruki Murakami)

Judul: Norwegian Wood
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: KPG
Tebal: 554 halaman
Kondisi: Bagus (stok lama)
Harga: Rp. 80.000 (blm ongkir)
SMS/WA: 085225918312
PIN BBM: 5244DA2C


 Toru Watanabe adalah narator sekaligus tokoh utama dalam buku ini. Ia menceritakan kehidupannya serta hubungan yang ia bangun dengan orang-orang disekitarnya. Pada masa SMA, ia bersahabat dengan sepasang kekasih Kizuki dan Naoko. Ketiganya sering menghabiskan waktu bersama, namun Kizuki selalu membuat suasana ceria dan seimbang antara sahabat dan pacarnya. Bagi Watanabe, Kizuki adalah satu-satunya sahabat, demikian pun sebaliknya. Suatu hari, tanpa pesan apa-apa Kizuki mengakhiri hidupnya sendiri. Peristiwa ini memukul Watanabe dan membuka lubang besar dalam hidupnya. Setelah SMA ia melanjutkan kuliah ke Tokyo, ia sengaja meninggalkan kampung halamannya untuk mengurangi tekanan sepeninggal Kizuki. Tak hanya Watanabe, Naoko pun mengalami hal yang sama. Mereka kemudian bertemu lagi di Tokyo dan mulai sering bersama. Hari minggu adalah hari untuk Naoko, Watanabe menemaninya jalan kaki mengelilingi Tokyo. Semakin lama Naoko pun menjadi bagian hidupnya, satu-satunya penghubung dirinya dengan Kizuki dan satu-satunya orang kepadanya Watanabe membuka hati.  Namun suatu hari, setelah melakukan hubungan sex untuk pertama kali, Naoko menghilang tanpa kabar. Watanabe pun menjadi galau, ia melampiaskan kekosongan yang dirasakannya dengan meniduri banyak perempuan atas ajakan temannya Nagasawa. Sampai suatu hari ia bertemu dengan Midori seorang perempuan easy going yang agak nyentrik. Naoko dan Midori bagai dua kutub yang sangat berbeda. Jika Naoko tenang dan penuh rahasia, Midori justru senang membicarakan semua hal bahkan imajinasi sexnya pun dibicarakan bersama Watanabe. Tanpa sadar Watanabe terjebak antara Midori yang hidup dan Naoko yang terus dinantinya.

The Great Gatsby adalah novel favorit Watanabe, ia pun menggambarkan perasaannya terhadap Naoko dengan mengutip green light ala Gatsby. Seperti sang tokoh utama, Haruki Murakami adalah penulis asal Jepang yang menyukai musik dan literatur barat, sehingga hasil karyanya pun banyak dipengaruhi oleh budaya barat. Di buku ini pun banyak referensi lagu-lagu dan literatur klasik yang menarik. Membaca buku ini seperti menyaksikan kehidupan seseorang dari dekat, perasaannya, hal-hal yang dilakukannya serta hubungannya dengan orang lain. Karakter dalam novel ini bener-bener unik. Aku tidak ingin mengatakan aneh, karena diluar sana pasti ada orang-orang seperti mereka yang tidak ingin disebut aneh bukan? Sebut saja seseorang seperti Naoko yang telah ditinggal mati dua orang terdekatnya, kakak dan pacarnya, keduanya dengan cara bunuh diri, akibatnya ia pun terseret dalam lubang hitam besar yang menganga antara dunia luar dan beban jiwanya. Pembaca akan melihat efek peristiwa itu dalam kehidupan seseorang. Ada lagi Reiko-san wanita paru baya yang jadi terganggu jiwanya akibat kehilangan kemampuan main piano saat ia masih muda, ditambah lagi ia pernah ditelanjangi oleh seorang remaja lesbian yang sempat membuat dia tak bisa menolak, sehingga ia mempertanyakan keawarasannya sendiri. Atau Midori, karakter yang sangat hidup dalam buku ini. Walaupun agak nyeleneh, namun Midori adalah karakter favoritku, ia perempuan apa adanya yang mengabdi untuk keluarganya dan tanpa putus asa terus mengejar mimpinya. Ini kali pertama aku membaca karya Haruki Murakami, it was ok, but nothing more. Lihatlah semua tokoh itu, menarik namun rasanya aku membutuhkan keseimbangan. Membaca ini seperti mengingat kembali Wuthering Heights yang menyesakkan. Hanya saja Emily Bronte menyuguhkan keseimbangan dalam kesesakan itu, tidak seperti akhir kisah ini.

Haruki Murakami tampaknya ingin memberi gambaran kepada pembaca seperti apa rasanya kesepian, bagaimana rasanya ketika tumpuan mimpi dan harapan yang sudah melambung tinggi dihempaskan kembali ke dasar. Apa yang terjadi kepada orang-orang yang mengalami hal tersebut? Haruki Murakami menggambarkannya dengan sangat jelas dalam buku ini, saking jelasnya sampai-sampai aku hampir tak sanggup melanjutkannya. Ada yang bilang terjemahan indonesia terbitan KPG ini tidak cukup baik, namun aku masih bisa memahami kisah ini dengan baik. 

Watanabe sepertinya bisa menjadi tokoh favorit para wanita pecinta buku, mengingat kesukannya membaca akan membuat dia jadi teman diskusi yang menyenangkan. Selain kebimbangannya sendiri, Watanabe adalah tipe pria menyenangkan, ia tidak suka menuntut dan dapat menerima seorang teman atau pacar apa adanya. Ia dapat melihat ke dalam hati seseorang dan tahu cara berkomunikasi bahkan dengan seseorang yang sedang sekarat di bangsal rumah sakit.

Sayangnya semua hal yang kusukai dari buku ini tidak mampu membuatku cukup menutup mata terhadap ending yang tidak jelas dan kesuraman di setiap bagian. Pembaca yang tidak suka dengan deskripsi sex yang terang-terangan pasti akan menghindari buku ini. Haruki Murakami membeberkan deskripsi sexual dengan sangat jelas namun tanpa melebih-lebihkan. Menurutku hal itu alami, cuma memang sangat gamblang. Aku secara pribadi tidak ada masalah dengan hal ini. Aku hanya merasa ikut gila saja membaca berbagai detail tentang kejiwaan. Apalagi hubungan sex terakhir yang dilakukan oleh Watanabe itu benar-benar tidak masuk akal untukku. Kenapa dia bisa melakukannya dengan orang itu pun, aku tak mengerti. Itulah kesanku untuk buku ini. Ingin membaca kembali? Tentu tidak. Namun siapapun yang menyukai ending yang menggantung tak jelas, silahkan bacalah buku ini.

Lalu apa hubungan judul buku ini dengan kisahnya? Norwegian Wood karya John Lennon adalah lagu favorit Naoko. Aku rasa hanya itu hubungannya. Aku kutip liriknya berikut.

I once had a girl
Or should I say she once had me
She showed me her room
Isn't it good Norwegian wood?

She asked me to stay
And she told me to sit anywhere
So I looked around
And I noticed there wasn't a chair

I sat on the rug biding my time
Drinking her wine
We talked until two and then she said
"It's time for bed"

She told me she worked
In the morning and started to laugh
I told her I didn't
And crawled off to sleep in the bath

And when I awoke I was alone
This bird had flown
So I lit a fire
Isn't it good Norwegian wood?

Berlangganan via Email