Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Devolusi Negara Islam

Judul: Devolusi Negara Islam
Penulis: Asghar Ali Engineer
Penerbit: Pustaka Pelajar, 2000
Tebal: 351 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 50.000 (blm ongkir)
Order: SMS/WA: 085225918312



Arah baru revivalisme Islam, menjadi kerisauan tersendiri bagi Ali Asghar Engineer. Titik kerisauan itu, bermuara pada bentuk pencarian jati diri negara-negara mayoritas Islam dalam mereformalisasi hubungan negara (state) dan Islam. Itikad mereformalisasi Islam dalam relasinya dengan negara ini, sebagai akibat penolakan ummat Islam dunia dan khususnya di kawasan Timur tengah terhadap dekadensi moral kemanusiaan barat dan ketidakaspiratifan dalam merespon konflik-konflik antar bangsa. Semisal konfil Israel-Palestina, Irak, Afganistan dan Iran.

Namun celakanya, menurut Ali Asghar Engineer dalam buku setebal 351 ini, formalisasi Islam itu cenderung diterjemahkan dan dimanifestasikan secara parsial. Dalam buku ini disebutkan penulis, Islam dan formalisasi atasnya diterjemahkan“sebatas hukum potong tangan dan razam bagi pezina dan berjilbab atau cadar bagi yang wanita”.

Di lain sisi, arah baruh kemajuan ekonomi akibat sokongan bisnis perminyakan pun, turut mendompleng negara-negara Timur Tengah ke kancah bisnis global. Seiring dengan itu, kesadaran politik pun tumbuh pesat. Namun saat itu, pertimbuhan ekonomi dan kesadaran politik, justru menamba dilema baru.

Blok-blok politik dan ekonomi pun tercipta secara teritori. Dalam buku ini, Asghar Ali Engineer menyebutkan “Meningkatnya kesadaran politik  di kalangan muslim, cenderung menciptakan persoalan-persoalan tertentu dan memunculkan wilayah-wilayah ketegangan baru (Halaman: 1). 

Ketegangan-ketegangan politik itu cenderung membuncah pada wacana negara Islam. Kondisi-kondisi inilah yang memantik Asghar Ali Engineer untuk mengkaji asal-muasal negara Islam dengan mendekati struktur sosial politik masyarakat Arab (Mekkah) dan kehadiran nabi Muhammad SAW dalam pemetaan konsep relasi agama negara. (baca halaman: 17).

Dalam telaahannya di buku ini, Asghar Ali Engineer menguraikan bahwa, evolusi negara Islam adalah suatu terminologi yang tidak pernah ditemukan dalam Islam. Dan khususnya masyarakat Arab (sebelum datangnya Muhammad saw). Tradisi kehidupan nomaden dan fanatisme kesukuan, merupakan faktor-faktor penting dalam kehidupan sosial masyarakat Mekkah. Olehnya itu, setiap suku memiliki pemimpinnya masing-masing. Masyarakat Mekka tak mengenal istilah pemimpin. Demikian pun dalam Al Qur’an, diantara 116 surat Al Qur’an tak satupun ditemukan istilah atau terminologi raja atau penguasa untuk masyarakat Mekka. Istilah Malik, adalah sebutan al qur’an yang diperuntukkan bagi raja atau penguasa dari negeri lain selain Mekkah.

Bagi Muhammad saw, prblem terbesar dalam relasi sosial dan kehidupan masyarakat Mekkah ketika itu adalah ketidakadilan. Disparitas antara yang kaya dan miskin. Fanatisme kesukuan, borjuasi kepala-kepala suku dengan faham merkantilsme, adalah problem sosial akut yang harus diselesaikan.

Nabi Muhammad saw sadar bahwa, ini adalah problem struktur sosial. Pendekatan atas prblem struktur sosial ini harus didekati secara kultural. Bukan formal. Hal inilah yang mendorongnya untuk terlibat dalam dunia perdagangan hingga mempertemukannya dengan siti Khadija. Proses pembongkaran struktur sosial pun tidak dilakukan secara radila tapi gradual dan simpatik. Nilai-nilai keislaman ditransformasikan secara perlahan-lahan dalam setiap celah-celah tradisi yang sejalan.

Dengan pola ini, menurut Asghar Ali  Engineer, nabi Muhammad saw tidak mencontohkan sebuah praktek kehiduapan bernegara, tapi bermasyarakat. (Halaman: 325). Dakwa yang dilakukan adalah merubah struktur sosial masyarakat Mekkah dengan strategi yang sangat sosialistis. Dari orang per orang, komunitas hingga melahirkan suatu getaran sosial yang menggerahkan penguasa Mekkah ketika itu yang terdiri dari pemimpin-pemimpin suku.

Pasca konfrontasi Islam dan Barat di abad ke-19, dan revoluasi minyak diawal dekade 70-an, ummat Islam kembali mengecam jejak kebangkitan politik Islam. Khususnya hubungan Islam dan negara. Disaat yang sama, peradaban Barat yang kian menggeliat dan menggurita disegenap kehidupan mondial, mendorong ummat Islam dunia mencari jati dirinya mengejar keterbelakangn tersebut. Keterkejuatan itu menyebabkan tak jarang memaksakan ummat Islam menterjemahkan relasi Islam negara secara serta-merta. Termasuk formalisasi Islam.

Buku Devolusi Negara Islam, mencoba membedah problem Islam antara tuntutan formalisme dan probelem kultural Islam. Di satu sisi formalisasi Islam merupakan kebutuhan, namun di sisi yang lain menyisahkan sejumlah dilema dan ambiguitas. Selamat membaca.

Berlangganan via Email