Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Alienasi: Pengantar Paling Komprehensif

Judul: Alienasi: Pengantar Paling Komprehensif
Penulis: Richard Schacht
Penerbit: Jalasutra, 2012
Tebal: 495 halaman
Kondisi: Bagus (Stok lama)
Harga: Rp. 85.000 (blm ongkir)
SMS/WA: 085225918312
PIN BBM: 5244DA2C


 Apa yang kita pikirkan saat mendengar kata 'alien'?. Bisa jadi seseorang berpikir sosok makhluk menyeramkan dari galaksi lain. Atau bisa jadi makhluk yang tidak pernah kita jumpai sebelumnya, alias makhluk yang asing. Alien memang bermakna asing dan bermakna tidak jauh dari keterbuangan, tercerabut dari realits sosial, kesendirian dan sebagainya.

Tetapi siapa sangka, kata alienasi sudah sejak lama muncul, meski mematok makna yang berbeda. Alienation dalam bahasa Inggris sudah digunakan pada Midle English (bahasa Inggris yang digunakan dari abad 12-15). Dalam bahasa Jerman, sepadan dengan entfremdung yang ditemukan pada bahasa Midle High German, yang digunakan di Jerman Tengah dan Selatan pada interval tahun 1100 sampai 1500. Bahasa Old French atau Prancis kuno juga telah mengenal kata alienasi. Yang kesemuanya ini menginduk kata dalam bahasa latin klasik.

Dalam perkembangannya kata ini mengalami gesekan dan interaksi dari berbagai konteks sosial dan budaya, sampai muncul beberapa makna, salah satunya adalah makhluk luar angkasa tadi. Namun apabila ditilik secara mendalam, sebenarnya alienasi adalah pokok bahasan atau konsep yang pernah dan masih ramai diperbincangkan di dunia filsafat. Ia lebih dari sekedar rasa terbuang dan sepi, apalagi makhluk dari ranah antah berantah. Ia mewakili pokok pikiran para filosof-filosf besar seperti Hegel dan Karl Marx.

Dalam buku yang diadaptasi dari disertasi doktoralnya, Richard Schacht mencoba untuk mengupas tuntas seputar alienasi. Ia melihat term alienasi dalam berbagai perspektif dari mulai filsafat Hegel dan Marx, sosiologi kontemporer, psikoanalisis, kajian teologis ala Paul Tillich dan eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Lulusan fakultas Filsafat Universitas Princeton begitu detail dan gamblang menjelaskan perspektif-perspektif itu satu persatu. Tak mengherankan buku ini diklaim sebagai literatur pengantar paling komprehensif bagi penikmat filsafat atau kaum awam yang punya minat dalam tema alienasi.

Sebelum menguraikan alienasi, Schacht terlebih dahulu mendedel makna terminologis kata ini. Alienasi mempunyai makna yang sangat luas. Ia dapat berarti peralihan kepemilikan, memindah tangankan sesuatu kepada orang lain. Dapat pula berarti keadaan tidak sadar dan kelumpuhan atau kehilangan indra atau kekuatan mental yang dialami seseorang. Makna ini berasal dari logat Middle English, yaitu alienatio mentis. Atau makna yang ketiga, yakni berupa alienasi antar personal. Yang terakhir ini adalah proses yang menjadikan hubungan hangat dengan seseorang menjadi dingin, menjadikan perpisahan atau menyebabkan seseorang tidak disukai. Jika ditilik, rentetan makna itu merujuk pada satu poin yaitu keterasingan.

Selanjutnya pembaca mulai dibawa ke ranah filsafat. Dalam bab ini, yang terlebih dahulu dikupas adalah perspektif Bapak Diskusi Kontermporer, Hegel. Apabila dirunut, memang yang pertama kali menggunakan kata ini dengan memaksudkan penekanan arti tertentu adalah Hegel. Tokoh filsafat Jerman ini mengamini istilah alienasi dalam teologi, yakni pada saat mengungkapkan keterasingan manusia dari Tuhan. Hal ini muncul dalam usaha Hegel mendiskripsikan Gereja sebagai kekuatan yang otoriter dan dogmatis yang telah menyebabkan manusia tercerabut dari kebebasannya. Padahal manusia itu otentik. Dalam ranah inilah, manusia merasa terasing, teralienasi bahkan dari Tuham itu sendiri. Sejak awal Hegel memang menaruh perhatian yang dalam terhadap masalah-masalah individu dengan sesama manusia dan dengan dunia. Kehidupan tampaknya memiliki suatu karakter "asing". Begitu juga dengan 'spirit' atau roh yang punya makna tak jauh beda dengan kehidupan (hal 32). Hal ini diungkapkan Hegel dalam esai-esai awalnya yang dikenal dengan nama fragmen-fragmen cinta.

Dan akhirnya Hegel memberikan dua makna. Pertama, memaknai hubungan yang mengandung keterpisahan dan pertentangan. Atau tercerabutnya diri dari substansi sosial. Hubungan keduanya adalah kesatuan yang lengkap dan langsung. Saat diri tercerabut sehingga kehilangan hubungan kelengkapan, ada saat jeda dimana diri sendiri mencari kesatuan atau mengidentifikasi natur manusia yang baru. Pada saat inilah hubungan individu yang bersangkutan mengalami bentrok dengan substansi sosial. Saat menemukan karakter barunya, individu tersebut akan memandang substansi sosial sebelumnya sebagi sesuatu yang liyan (others), asing. Substansi sosial lamanya telah teralienasi.

Kedua, Hegel memaknai ini sebagai upaya penyerahan diri secara penuh atas partikularitas dalam tindakannya untuk mengatasi alienasi. Sebenarnya makna ini berkaitan erat dengan makna yang awal tadi. Ketika keterasingan dan ketercerabutan individu meniscayakan suatu solusi, inilah makna kedua alienasi. Sementara alienasi -dengan arti yang pertmama tadi- dalam substansi sosial sebagai sesuatu yang sangat mendesak dan harus segera diatasai, Hegel mematut alienasi -dalam makna yang kedua ini- sebagai sesuatu yang diharapkan harus dilestarikan karena menjadi sebuah solusi(hal 65).

Sepeninggal Hegel, tepatnya pada era Marx, alienasi semakin populer. Marx mengamini dua makna alienasi seperti yang dikemukakan Hegel. Kendatipun demikian, Marx tidak sependapat dengan Hegel dalam proses tersebut. Marx berangkat dari proposisi tentang karakteristik produksi, natur pekerjaan, manusia sebagai makhluk sosial dan inderawi. Bagi Marx, 'keterasingan' adalah hasil dari 'penyerahan'. Orang merasa 'terasing' setalah ia mengorabankan atau 'menyerahkan' realitas humanitasnya kepada substansi lain -bisa dalam wujud pekerjaan atau produksi. Disini Scacht mendapuk kegagalan Marx dalam menyelaraskan pengertian Hegel. Bahkan dalam membedakan 'keterasingan' dan 'penyerahan'.(hlm 114).

Schacht mewartakan pemaknaan alienasi ala Marx berkisar dalam ranah ekonomi-politik. Wajar saja, karena sejak awal Marx memang meyakinkan dirinya kalau perkembangan kehidupan manusia merupakan perwujudan ekonomi-politik. Oleh karena itu kita menjumpai 'alienasi pekerjaan' dalam konsepnya, selain juga 'alienasi diri' dan 'alienasi dari manusia liyan'.

Yang terakhir disebut, agaknya merupakan jenis alienasi yang terpenting. Atau dalam kata lain, alienasi yang sangat mencolok. Marx menekankan hilangnya sama sekali perasaan persahabatan, persaudaraan dan persamaan pada jenis ini. Maka manusia tidak lagi dipandang sebagai manusia sejatinya yang punya signifikansi positif. Ia hanya seorang yang dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan personal, atau sebagai kompetitor yang harus ditundukkan bahkan tak jarang sebagai bahan eksploitasi belaka. Schact menggambarkan keadaan ini dengan 'ke-egoisan manusia'. Alienasi tersebut didasarkan pada suatu keadaan yang berpusat pada diri sendiri. Keadaan yang hanya mementingkan tujuan pribadi tanpa mengekor gagasan sosial apapun.

Di buku ini Schacht juga mengkoreksi beberapa kalangan, terutama sosiolog yang dianggapnya tidak konsisten dalam memakai istilah alienasi. Beberapa nama dicomot, seperti Fromm, McClosky, dan Schaar. Tak ketinggalan Neil dan Ratting juga jadi obyeksi koreksi Schacht. Ia mendakwa mereka gagal mempersatukan konsepsi makna alienasi dan menggiringnya kepada wilayah yang tak punya batas-batas yang jelas. Sehingga mau tidak mau menimbulkan kesalah pahaman dan kebingungan pada pihak yang menyetujui pendapat mereka itu. Ia memberikan jalan keluar untuk perbaikan makna itu, dengan mengubah kapasitasnya. Yaitu sebuah istilah umun untuk mengidentifikasi jenis ketidak puasan, ketidak harmonisan dan ketidak-sukaan yang menyangkut keterasingan atau datang dari keterasingan.

Fenomena tersebut jamak dijumpai di realita kehidupan. Misal saja dalam kehidupan beragama di negeri ini. Perselisihan-perselisihan yang kerap terjadi adalah contoh dari pada kelompok yang merasa dialienasikan karena tidak sepaham dengan mayoritas. Padahal tiap orang tidak ingin hidup yang seperti itu. Jadi siapa sebenarnya yang harus melakukan 'penyerahan' substansi sosial? Andaikan saja pemerintah memahami keterasingan dalam diri mereka, dan menemukan peran penengah, tentulah tidak akan ada bentrok. Ternyata kegagalan sebuah negarapun dapat diintip melalui konsep alienasi.

Berlangganan via Email