Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Buku Benturan Antar Fundamentalis: Jihad Melawan Imperialisme Amerika

gambar
Rp.80.000,- Rp.40.000,- Cuci Gudang
Judul: Benturan Antar Fundamentalis: Jihad Melawan Imperialisme Amerika
Penulis: Tariq Ali
Penerbit: Paramadina, 2004
Tebal: 502 halaman
Kondisi: Ori Stok Lama (Bagus)

Tariq Ali dalam bab pertamanya mengisahkan dirinya bahwa tidak pernah betul-betul percaya kepada Allah. Bahkan untuk seminggu pun, bahkan tidak di antara usia enam dan sepuluh tahun, saat mana ia adalah seorang agnostik. Ketakpercayaan ini adalah naluriah, tulisnya. Ali yakin tidak ada apapun yang lain di luar sana kecuali ruang. Menurutnya ada beberapa keuntungan dalam diri seseorang yang tidak beriman. Diancam dengan sanksi-sanksi Tuhan namun Ali tidak bergeming. Biarlah Dia melakukan sanksi-Nya yang terburuk, dan berfikir adalah kepasifan pada-Nya inilah yang memperkuat keyakinan Ali pada ketakhadiran-Nya.

Namun, Tariq Ali kini bukan hanya menulis tentang benturan antar fundamentalis peradaban yang kaya dengan materi-materi dan rujukan yang tidak mudah didapat, tetapi gaya kepengarangannya yang sangat ‘novelis’ membuat tulisannya di buku ini enak dibaca. Ali juga menulis novel-novel historis antara lain ‘Islam Quintet’: Shadows of the Pomegranate Tree, The Book of Saladin, The stone Woman, dan The Night of Golden Buterfly.

Menurut Hodri Ariev, penerjemah buku ini, setidaknya ada dua poin penting dan menarik yang disajikan Benturan Antar Fundamentalis; Jihad Melawan Imperialisme Amerika. Pertama, Tariq Ali menyajikan sudut pandang yang berbeda mengenai benturan antara Barat dan Timur, yang berbeda dari tesis benturan peradabannya Huntington, yakni benturan antar fundamentalis. Kedua, Ali secara tak langsung, mengajak pembaca untuk lebih jeli melihat perbedaan “sumir” antara ajaran sebuah agama dan praktik para penganutnya; ‘sumir’ karena praktik umat beragama kerap dilihat betul-betul sebagai manifestasi ajaran agama itu sendiri, padahal tidak sepenuhnya demikian.

Banyak yang tercengang ketika menara kembar WTC diledakkan. Sebagian kagum pada sikap nekat pelakuknya, sebagian lagi kaget dan senang karena serangan itu dianggap menghujam simbol dominasi ekonomi Barat, walaupun tentu banyak yang prihatin dan menguruk kajadian itu. Seperti menemukan momentumnya, banyak kalangan yang selama ini tidak puas, kecewa dan bahkan benci terhadap arogansi Amerika, menyatakan dukungan terbuka kepada para pelaku yang secara faktual maupun legal –hingga saat ini, belum terbukti (justru lebih banyak tuduhan yang disampaikan ketimbang pembuktian). Serangan 11 September ini lalu menjadi ‘alasan sah’ Amerika untuk menghancurkan Afganistan yang dituduh melindungi Osama bin Laden, orang yang dituduh berada di balik serangan tersebut. Afganistan kemudian menjadi medan yang ‘sah’ sebagai ladang uji-coba ‘kekejaman’ alat perang modern, dan sekalipun Osama –si target utama tetap tidak tertangkap, operasi dihentikan setelah Amerika meruntuhkan pemerintahan Taliban (yang pernah dilatih dan didanai Amerika dan menempatkannya sebagai boneka di Kabul). Berikutnya, tentu saja, Irak dengan target meruntuhkan pemerintahan Saddam Hussein dan menggantikannya dengan pemerintahan ‘beradab’ agar tidak mengganggu dominasi dan kepentingan Amerika. Dalam dua kaus ini saja, tetaplah rakyat, hak-hak, dan kekayaan serta kehormatan sipil yang sepenuhnya menjadi korban. Dan setiap serangan Amerika selalu ditandai dengan korban sipil dengan jumlah dan kerusakan luar biasa. Serangan dengan dalih memerangi terorisme dunia ini tidak kemudian menjadikan dunia makin aman, justru sebaliknya, kebencian kepada Amerika semakin meningkat. Dalam kaitannya dengan dua kasus ini (tentu daftarnya bisa diperpanjang dengan melihat berbagai kasus jauh ke belakang, dan buku ini menyajikannya dengan menarik), rasa kemanusiaan kita dengan jernih patut bertanya: siapa sebenarnya yang teroris?.

Ketegangan antara Barat dan Timur, -ini lebih tepat ketimbang menyebut agama tertentu dalam kasus ini tidak semua penganut agama mendukung sikap rekan seagamanya, sebenarnya ketegangan antar fundamentalis agama. Jika Osama bin Laden cs dianggap mewakili fundamentalis Timur, maka CBR (akronim yang diberikan Ali untuk Cheney-Bush-Rumsfeld) adalah representasi fundamentalis Barat. Dalam benturan ini, sebenarnya dominasi dan eksploitasi adalah motif utama yang kerap disembunyikan di balik agama sebagai instrumen yang ampuh yang dieksploitasi untuk mendukung keyakinan-keyakinan pribadi. Walaupun keyakinan itu pada kenyataanya diperoleh dari ‘pemahaman’ mereka atas ajaran agamanya.

Argumen Ali bahwa ‘fundamentalisme’ yang paling berbahaya saat ini –‘induk dari semua fundamentalisme’ adalah imperialisme Amerika, telah mampu bertahan sejak delapanbelas bulan terakhir. Yang tampak jelas adalah bahwa para pemimpin Amerika ingin diadili berdasarkan musuh-musuh mereka –yang mereka pilih sendiri, daripada keadaan dunia yang sebenarnya. Secara psikologis, Kerajaan Amerika telah membangun sebuah musuh baru: terorisme Islam.

Apakah alasan bagi ‘perang melawan teror’? Dengan bantuan para penciptanya sendiri, yakni orang-orang Pakistan, Taliban telah diruntuhkan tanpa perlawanan yang berarti, sekalipun hampir tigaribu laki-laki, wanita dan anak-anak Afganistan yang tidak berdosa meninggal karena bom. Bagi Barat, hidup ini tidak berarti apapun dibandingkan dengan warga Amerika yang meninggal di New York dan Washington. Tidak ada tugu kenangan untuk korban-korban tak berdosa yang akan dibangun di Kabul. Penderitaan dan eksekusi massa terhadap para tahanan perang membiarkan bberapa pendukung liberal ‘kemanusiawian perang’ tak bergeming. Bagaimanapun, walau semua ini terjadi, tujuan utama operasi militer, yang adalah untuk menangkap (hidup atau mati) osama bin Laden dan para sekutunya dan penghancuran fisik al-Qaida sekarang sedang berlangsung di FBI dan CIA telah menyimpulkan bahwa perang di Afganistan gagal mengurangi ancaman terhadap Amerika. Perang itu malah mempersulit usaha-usaha melawan teroris karena penyebaran para penyerang potensial lintas wilayah yang lebih luas.

Presiden Amerika, George W. Bush pernah mengatakan pada sebuah konferensi pers 12 Oktober 2001: ‘Bagaimana tanggapan saya ketika melihat bahwa di beberapa nagara Islam ada rasa benci yang sanagat tajam kepada Amerika? Saya sungguh heran dan takjub; tidak mempercayai hal itu, karena saya tahu betapa kita ini baik’. Ini merupakan keyakinan fundamental yang diyakini bersama oleh sebagian besar warga negara Amerika. Menurut Ali, inilah keyakinan yang tidak lazim. Negara-negara kuat di abad-abad yang lalu tidak pernah memahami kemarahan rakyatnya, maka ada keharusan untuk menjelaskan mengapa kebanyakan dunia tidak melihat Kerajaan itu sebagai negara ‘baik’. Dalam benturan antara sebuah fundamentalisme keberagamaan yang merupakan produk modernitas dan sebuah fundamentalisme penjajah yang terus berupaya ‘mendisiplinkan dunia’, adalah penting untuk melawan keduanya dan menciptakan sebuah ruang di dunia Islam dan Barat dimana kebebasan berfikir dan berimajinasi bisa dipertahankan tanpa takut siksaan atau hukuman.
Pesan Sekarang

Berlangganan via Email