Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia 1950-1965

Judul: Ahli Waris Budaya Dunia: Menjadi Indonesia 1950-1965
Editor: Jennifer Lindsay & Maya H.T. Liem
Penerbit: Pustaka Larasan & KITLV, 2011
Tebal: 622 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga Rp 100.000 (belum ongkir)
Order SMS 085225918312



Indonesia pasca kemerdekaan sampai tahun 1960-an merupakan masa gemilang untuk tumbuhnya ide dan kreativitas kebudayaan di kalangan intelektual, seniman, sastrawan, politikus, dan aktivis. Kegemilangan tumbuhnya masa kebudayaan Indonesia disebabkan oleh masa kebebasan “pencarian” dan “krisis” yang dihadapi masyarakat kala itu. Dapat disebut masa bebas “pencarian”, karena orang-orang yang hidup pada waktu itu memahami betul pentingnya suatu fondasi cara kehidupan berbangsa yakni kebudayaan. Nilai-nilai pandangan dalam kehidupan yang tengah dicari dan diformulasikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kaum intelegensi pada waktu itu memandang dirinya sebagai manusia baru, yang telah lahir dari rahim penjajahan kolonialisme.

Di samping itu, di saat bersamaan, pascakeluarnya dari rahim kolonialisme, sebagian intelegensi yang sebelumnya menikmasi masa-masa ketenangan, kini merasa goyah, karena banyaknya bermunculan ide-ide baru sehingga situasi saat itu dikatakan krisis. Ujungnya, kaum intelegensi pun berhasrat mencari ide-ide baru untuk diformulasikan ke dalam tatanan sosial baru. Demikian, masa kebebasan pencarian dan krisis telah menjadikan masyarakat Indonesia pascakemerdekaan berada di titik dua kutub utara-selatan tapal kuda besi semberani, yang telah menarik perhatian kutub lain.

Pengalaman kolonialisme Belanda menyisakan suatu pandangan kosmopolitan. Eropa adalah negeri nenek moyang penjajah. Lepasnya negara jajahan dari penjajah mulai menjadikan tidak bergantung pada Eropa. Kemajuan tidak sekadar ada di Eropa, dan yang jauh lebih penting manusia Indonesia pascapenjajahan tidak ingin bergantung kepada Eropa. Manusia Indonesia pascakemerdekaan memiliki pandangan kosmopolitan dan menerima uluran tangan persahabatan dari berbagai bangsa. Salah satu manifesto intelektual yang dianggap penting dalam sejarah Indonesia ialah lahirnya Surat Kepercayaan Gelanggang, yang merasa dirinya sebagai “ahli waris dunia”. Pandangan ini hampir serupa dengan kepercayaan diri Sutan Takdir dalam peristiwa Polemik Kebudayaan pada tahun 1930.

Cina, Amerika, dan Uni Soviet merupakan contoh tiga negara yang terlibat aktif masuk mendorong perkembangan ide dan kreativitas kebudayaan pada kaum cendikia dan seniman pada kurun 1950-1965. Tiga negara ini merupakan contoh gamblang keterlibatan mereka dalam ranah diskusi kebudayaan Indonesia pascakemerdekaan. Memang hadirnya tiga negara itu tidak lepas dari kepentingan membangun kampanye brand mereka di kawasan Asia Tenggara yang molek. Kawasan ini dapat dikatakan zona perebutan pengaruh ketiga negara besar dalam brand ideologi di negara berkembang. Mereka adalah negara besar yang punya peta pengaruh kekuatan di negara-negara di luar wilayahnya.

Pascakolonialisme merupakan masa kebebasan besar. Untuk itu, lumrah terjadi pergaulan antarbangsa, dan hal itu dimanfaatkan oleh orang Indonesia. Mereka seolah menemukan masa kebebasan besar pascakrisis untuk bergaul dan mengidentifikasi diri sendiri. Hadirnya kelompok gelanggang, Lekra, Lesbumi, LKN, merupakan manifestasi pergaulan kosmopolit manusia Indonesia pascakolonialisme. Pada awalnya, sekelompok kecil seniman dan aktivis mengikrarkan diri sebagai “ahli waris kebudayaan dunia” dan memiliki visi dunia baru, dalam Surat Kepercayaan Gelanggang. Setelah itu, para anggota kelompok seniman ini menemukan tempat-tempat baru untuk mengidentifikasikan sendiri.

Buku ini bercerita banyak seputar gagasan dan aktivitas kebudayaan para aktivis dan seniman kala itu. Kurun 1950-1965, rakyat Indonesia benar-benar tengah menatap arah kemajuan bangsanya. Masyarakatnya hidup terbuka dan bergaul dengan bangsa-bangsa lain. Mereka telah benar-benar melebur menjadi barisan warisan sejarah dunia. Baik setelah meruncingnya kubu-kubu kelompok maupun sebelum konflik. Membaca buku ini, pergaulan kita dengan bangsa lain seolah sangat bermartabat. Artinya, bangsa Indonesia tidak sekadar penerima gagasan dari luar. Tetapi, orang-orang luar pun mengapresiasi kebudayaan yang datang dari Indonesia. Nyaris sering orang Indonesia diundang ke luar negeri dan mereka amat dihargai. Karya-karyanya diterjemahkan, diapresiasi dan disebarluaskan (misalnya sastra). Begitupun sebaliknya, orang Indonesia menyebarkan gagasan yang datang dari luar. Barangkali, contoh hubungan yang lampau itu tidak pernah kita alami saat ini. Meskipun saat ini kita benar-benar telah hidup mengglobal. Apakah karena kita tidak punya semangat untuk mencari dan memformulasikan ihwal kebudayaan dunia untuk memperkaya nilai kehidupan kita?


Berlangganan via Email