Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Novel Siapa Pembunuh Palomino Molero? (Mario Vargas Llosa)

Judul: Siapa Pembunuh Palomino Molero?
Penulis: Mario Vargas Llosa
Penerbit: Komodo Books, 2012
Tebal: 206 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 45.000 (blm ongkir)
Order: SMS 085225918312


Pemuda kurus itu mati tergantung di pohon khurnub tua. Bagian pinggang ke bawahnya telanjang dan kemejanya compang-camping. Matanya mendelik dan posisi tubuhnya lebih mirip orang-orangan sawah atau boneka karnaval rusak. Hidung dan mulutnya robek. Mukanya lebam penuh bekas sayatan dan sundutan rokok. Seakan belum cukup, penyiksanya juga mengebirinya. Buah zakarnya melorot menutupi pangkal pahanya.

"Kutukupret! Mereka benar-benar menghabisimu, Nak," kata Lituma, polisi muda di Talara, tergagap menahan mual.

Mayat yang sudah dikerubuti lalat itu ditemukan seorang anak gembala kambing di tepi Kota Talara. Belakangan, dia dikenali sebagai Palomino Molero, pemuda yang pandai menyanyi bolero, lagu Latin bertempo lambat untuk mengiringi tarian rumba yang romantis. Molero secara sukarela masuk menjadi tentara dengan mendaftar di pangkalan Angkatan Udara.

Waktunya sekitar 1950. Lokasinya di sebuah kota kecil di Peru. Hanya ada satu taksi di sana, dan polisi tak punya kendaraan, sehingga sering menumpang truk pengangkut ayam. Kehidupan penduduknya kontras. Di satu sisi, ada kompleks perkantoran dan permukiman mewah orang asing yang bekerja di International Petroleum Company. Di sisi lain, ada Pangkalan Angkatan Udara Piura dengan perumahan perwira yang dihuni orang-orang yang hidup makmur dan nyaris tak terjamah. Tapi, di sisi lainnya ada rumah bordil yang terus-menerus diusir oleh pastor hingga akhirnya pindah ke pinggiran kota di sebuah gudang berlantai tanah dan dibangun dari papan yang dipaku seadanya.

Penyelidiknya adalah Letnan Silva dan asistennya, Lituma. Silva adalah pengendus yang tajam dan interogator lihai, yang dapat membujuk dengan halus dan kadang sadis. Lituma belajar keras dari seniornya dan punya banyak imajinasi. Meski bukan sebagai narator, pikiran dan fantasi Lituma itu muncul jelas dalam novel Siapa Pembunuh Palomino Molero karya Mario Vargas Llosa, sastrawan Peru pemenang Hadiah Nobel Sastra 2010.

Hingga kini, tak satu pun karya Jorge Mario Pedro Vargas Llosa-nama lengkap Llosa-yang pernah terbit dalam bahasa Indonesia. Munculnya novel yang diterjemahkan Ronny Agustinus dari edisi Spanyol, ¿Quién mató a Palomino Molero? (1986), ini menjadi semacam salam perkenalan Llosa kepada pembaca Indonesia. Ronny, lulusan Fakultas Seni Rupa IKJ dan salah satu pendiri ruang rupa yang sering menerjemahkan karya sastra Amerika Latin, menyuguhkan hasil terjemahan yang bagus dan bahasa yang tangkas.

Llosa, pengarang kelahiran Peru, 28 Maret 1936, termasuk salah satu novelis penting Amerika Latin dan tokoh sastra utama dari generasinya. Llosa kini menjadi profesor tamu di Lewis Center for the Arts di Princeton University, Amerika Serikat. Sebagai politikus, ia pada mulanya mendukung revolusi Kuba yang dipimpin Fidel Castro, tapi belakangan kecewa atas kebijakan Castro. Dia masuk gelanggang politik sebagai calon Presiden Peru dari koalisi Frente Democratico pada 1990, tapi kalah melawan Alberto Fujimori.

Karya sastra Llosa sarat muatan politik, termasuk novel ini. Pada 1983, Presiden Peru Fernando Belaunde Terry meminta Llosa masuk sebuah komisi yang menyelidiki pembantaian delapan wartawan oleh penduduk desa Uchuraccay di dataran tinggi Andes. Para wartawan datang ke sana untuk menyelidiki kisah terbunuhnya tujuh anggota Partai Komunis Peru, yang dikenal sebagai Shining Path, di tangan anggota komunitasnya.

Komisi penyelidik menyimpulkan bahwa para jurnalis dibunuh oleh warga desa, yang mengira mereka teroris dan menyangka kamera sebagai senjata api. Tapi, tiga bulan kemudian, ditemukan sebuah tas berisi kamera milik wartawan yang menjadi korban. Rekaman dalam kamera tersebut menunjukkan bahwa tiga dari jurnalis itu berbicara dengan penduduk dalam bahasa Quechua, sehingga dapat berbincang dengan warga yang tak bisa berbahasa Spanyol. Hal ini jelas bertentangan dengan "teori salah sangka" dalam kesimpulan komisi.

Llosa kemudian menerbitkan serangkaian artikel yang membela sikapnya dalam masalah itu. Pada 1986 dia merampungkan novel Siapa Pembunuh Palomino Molero?. Meski plotnya sama, novel ini bukanlah upaya Llosa merekonstruksi pembunuhan itu, melainkan semacam rekaman pengalaman yang menghantui Llosa selama di komisi. Pengalaman itu juga mengilhami Llosa menulis novel Lituma en los Andes (Kematian di Andes) yang terbit pada 1993.

Pada 1986, dia merampungkan novel Siapa Pembunuh Palomino Molero. Meski plotnya sama, novel ini bukanlah upaya Llosa merekonstruksi pembunuhan itu, melainkan semacam rekaman pengalaman yang menghantui Llosa selama di komisi. Pengalaman itu juga mengilhami Llosa menulis novel Lituma en los Andes (Kematian di Andes) yang terbit pada 1993.

Llosa memakai genre novel detektif dalam novel ini. Setidaknya ada tiga tersangka: Kolonel Mindreau, komandan Pangkalan Angkatan Udara Piura yang rasis dan otoriter; Alicia, putri Mindreau yang masih belia dan mempesona tapi sama rasis dengan ayahnya; serta Letnan Ricardo Dufo, perwira pencemburu yang jatuh cinta kepada Alicia.

Silva curiga kematian Molero berhubungan dengan orang-orang di Piura. Namun untuk menggali faktanya tidaklah mudah karena pangkalan itu berada di luar jangkauannya. Hanya polisi militer yang berhak masuk ke sana. Namun, dengan menelusuri berbagai petunjuk, Silva akhirnya mulai mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.

Dengan berbagai tikungan dan kejutan di akhir cerita, Llosa menyodorkan kepada kita bahwa hakikat kejahatan itu sebetulnya jauh lebih rumit daripada sekadar menemukan siapa pembunuh Palomeno Molero. Dia juga menampilkan bagaimana sebuah novel detektif pun dapat menjadi sebuah karya sastra yang bermutu.

Berlangganan via Email