Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Radikalisme Kaum Pinggiran: Studi tentang Isu, Strategi dan Dampak Gerakan

Judul: Radikalisme Kaum Pinggiran: Studi tentang Isu, Strategi dan Dampak Gerakan
Penulis: Zaiyardam Zubir
Penerbit: Insist Press, 2002
Tebal: 336 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Harga: Rp. 80.000 (belum ongkir)
Order: SMS 085225918312


Hakikat suatu gerakan sosial adalah pergulatan yang keras antar-berbagai sistem. Dalam telaah terhadap sejumlah fenomena gerakan sosial ketara ada semacam pandangan yang sama. Yakni independensi gerakan dengan ditandai oleh budaya kritis terhadap kuasa negara maupun modal.

Buku ini menyediakan sejumlah contoh yang lumayan lengkap mengenai berbagai arus gerakan rakyat yang muncul pada era transisi politik. Dengan mengambil lokasi di Sumatera buku ini membuat semacam telaah mengenai fenomena gerakan sosial kontemporer.

Berbagai faktor dibeberkan oleh penulis sehingga kasus lokal menjadi kajian yang berkualitas. Di bawah contoh yang beraneka ragam sajian dalam buku ini menjadi amat penting untuk kalangan aktivis, masyarakat awam, dan kaum akademisi. Tampaknya buku ini juga menjadi suatu dokumen sekaligus inspirasi bagi perintisan gerakan sosial alternatif. Suatu gerakan yang tidak mau menerima "kenyataan" dengan apa adanya dan memulai jalan pergulatan baru... (sampul belakang)

Kehidupan kaum pinggiran belum memperlihatkan tanda-tanda perbaikan bahkan ada tanda-tanda semakin memburuk dalam banyak kasus, misalnya rendahnya upah buruh, tidak adanya jaminan kesehatan, jaminan hari tua, dan hak-hak buruh yang sering ditindas.

Hal demikian menunjukkan bahwa kemampuan kaum pinggiran untuk survive sudah sangat akut, belum lagi tekanan-tekanan politik yang datang dari luar; kebebasan berserikat, berbicara, mengemukakan pendapat, dan berbagai hak-hak politik semakin direduksi.

Kondisi itu kemudian melatarbelakangi munculnya gerakan sosial dan gerakan radikalisme yang dilakukan oleh kaum pinggiran.

Gerakan sosial memiliki proses dialektika terhadap keberhasilan terhadap tujuan perubahan kondisi sosial. Bermula dari sekadar meminta upah, kemudian berubah menuntut mundur pimpinan direksi perusahaan, bahkan kemudian meningkat menuntut penyelenggara negara mundur, dan seterusnya.

Dari gerakan demonstrasi biasa berubah menjadi gerakan pemberontakan merebut kekuasaan. Hal itu patut menjadi perhatian serius dari berbagai kalangan untuk kepentingan kehidupan berbangsa yang lebih baik.

Para pengusaha yang sering menggunakan institusi penyelenggara negara dikritik oleh buku ini. Bahkan, berbagai produk perundang-undangan yang merugikan kaum pinggiran juga menjadi hal yang dijadikan alasan lahirnya reaksi negatif atas munculnya gerakan sosial dari pihak negara.

Dalam berbagai tahapan, ada gejala umum yang membuat gerakan sosial tumbuh subur seiring dengan sistem yang dibangun di suatu negara. Hal itu diawali dari kelas buruh, yang kemudian menjadi penyangga awal dari munculnya perlawanan berikutnya dari kaum pinggiran yang lain. Petani, dan kaum miskin kota kemudian menjalar ke kaum pinggiran non-struktural, yaitu mahasiswa yang dalam istilah buku ini disebut sebagai new social movement.

Sementara itu, faktor yang membuat membesar dan meluasnya gerakan sosial yaitu, pertama, munculnya proses ideologisasi -politik yang diakibatkan oleh proses sentuhan antara gerakan struktural dan gerakan akademisi; Kedua, munculnya proses konflik vertikal - politik antara kaum pinggiran melawan penyelenggara negara.

Kedua faktor itu menyebabkan meluasnya perlawanan-perlawanan kaum pinggiran yang kemudian menjadi suatu gerakan sosial karena di situ terdapat unsur-unsur yang terorganisasi. Terorganisasi dalam arti memiliki ideologi, memiliki pemimpin, dan memiliki struktur organisasi.

Proses Gerakan Sosial
Ada skema-skema variabel yang ditunjukkan secara gamblang tentang bagaimana proses munculnya suatu gerakan sosial ke arah radikalisme. Pada kasus buruh munculnya persoalan upah menjadi awal bagi pemberontakan. Upah menjadi ukuran kesejahteraan bagi buruh, kebijakan upah yang rendah akan menghimpit buruh ke jebakan kemiskinan yang kemudian melahirkan keresahan di tengah para buruh diakibatkan terancamnya kemampuan bertahan hidup.

Keresahan itu melahirkan konflik yang kemudian diselesaikan dengan cara mogok kerja, dan demonstrasi sebagai bentuk radikalisme hidup atau mati bagi para buruh. Mogok dan demonstrasi yang tidak digubris akan membuat jalan menuju pemberontakan melawan kebijakan upah oleh pengusaha dan pemerintah akan semakin besar.

Skema lain yang cukup baik untuk ditunjukkan mengenai bagaimana proses lahirnya hubungan antara gerakan struktural (buruh) dan non-struktural (LSM/ideologi). Pemerintah telah menggunakan militer/preman sebagai salah satu alat untuk melawan demonstrasi dan mogok kerja oleh buruh, sedangkan kaum buruh merasa perlu mencari sekutu untuk membantu melakukan advokasi bagi mereka, sehingga pilihan mereka adalah kelompok gerakan kaum pinggiran yang punya ideologi, yaitu LSM.

Buku ini sebenarnya terdiri dari dua belas bab yang membahas berbagai aspek dari gerakan sosial. Bab satu adalah pendahuluan, bab kedua adalah kerangka teoritis dari gerakan sosial. Bab Ketiga sampai bab kesebelas memuat kasus-kasus dari berbagai corak dan pola gerakan sosial. Bab keduabelas merupakan analisis menyeluruh dari bab-bab sebelumnya.

Buku ini sebenarnya diupayakan menjadi suatu kesatuan yang utuh bagi pembaca. Pembaca juga diberikan sejumlah daftar rujukan pada catatan-catatan kakinya.

Bab I adalah bab yang mengantarkan kita kepada latar belakang masalah, lingkup bahasan, asumsi yang digunakan, metodologi penelitian dan sistematika penulisan. Bab II akan mengantarkan kita kepada tinjauan pustaka, kerangka konseptual, kerangka teoritis, ideologi gerakan sosial, dan mobilisasi massa.

Beberapa pemikiran teoritis turut mewarnai buku ini, Robert Gurr, James Scott, Sartono Kartodirdjo menjadi referensi utama. Bahkan, turut diakomodasi tiga ideologi besar yang masih cukup berpengaruh yaitu Islam, Nasionalisme, dan Marxisme. Tetapi, Anda akan juga melihat betapa penulis memberi pembatas elite dalam konteks tiga ideologi tersebut. Ia mengklaim bahwa ada dua pihak yang berkaitan dengan gerakan sosial dalam konteks itu, yaitu elite dan pengikut.

Bahkan, ia menuduh bahwa ketiga ideologi itu telah dijadikan alat politisasi yang mengatasnamakan kaum pinggiran oleh para elite politik. Tampaknya definisi elite menurut sang penulis patut kita curigai, apakah elite politik yang dimaksud adalah semua pemimpin kaum pinggiran atau pun hanya segelintir orang yang "gila" kekuasaan? Semoga itu menjadi catatan bagi pembaca, agar lebih cerdas memahami gerakan Sosial yang sedang menggejala di tubuh masyarakat Indonesia dewasa ini.

Mengenai tujuan akhir dari gerakan sosial dan strategi yang paling ideal juga luput pada bab-bab buku tersebut. Kritikan-kritikan terhadap gerakan sosial di Indonesia tidak menjadi fokus dari pembahasan. Bahkan, cenderung penulis melakukan kritik tanpa jalan keluar bagi gerakan sosial itu sendiri.

Kepentingan kaum pinggiran untuk "berkuasa" menjadi cemoohan tersendiri yang membuat pembaca bingung akan keberpihakan sang penulis, sangat besar kesan yang dimunculkan dalam pemikiran penulis bahwa ia antipartai politik dan metode-metode perjuangan kaum pinggiran dalam merebut kekuasaan politik.

Namun demikian, dia juga tidak sependapat dengan tindakan-tindakan yang anarkhis serta extra-parlementarian dari gerakan sosial itu sendiri. Sehingga, kita dihadapkan pada dua pilihan yang belum memberikan jalan keluar.

Catatan: Memang buku tersebut merupakan yang mutakhir bagi pembaca yang bergelut di bidang sosial, tetapi bukan serta merta buku penelitian yang cukup memiliki tempat terhadap "jalan keluar" atas kemelut kaum pinggiran yang tidak kunjung selesai. Namun, buku ini cukup memperkaya kita dengan data-data pola perlawanan gerakan sosial dan memberi analisis yang kita butuhkan dalam melihat masalah pokok sosial di tengah kehidupan berbangsa dewasa ini.

Berlangganan via Email