Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Di Bawah Lentera Merah

Judul: Di Bawah Lentera Merah
Penulis: Soe Hok Gie
Penerbit: Bentang Budaya, 1999
Tebal: 118 halaman
Kondisi: Bekas (Bagus)
Harga: Rp. 85.000 (blm ongkir)
Order: SMS/WA 085225918312


Sejak abad ke-16 di Jawa telah tumbuh 3 akar kekuatan yang akan menjadi sendi-sendi kekuatan masya rakat di kemudian hari. Kelompok pertama adalah kaum priyayi (aristokrasi) dan merupakan kelompok yang berkuasa. Mereka berakar pada kebudayaan Jawa-Hindu, sebagai bangsawan mereka berpusat di kantor-kantor. Dengan berkembangnya Islam, muncullah kaum santri. Mereka berakar pada masyarakat di sekitar pesantren dan sebagai Islam, mereka meru pakan kaum yang “ortodoks”. Persaingan di antara ke dua kelompok ini di dalam bidang politik, jelas terlihat selama abad ke-16 dan ke-17, di mana kaum santri yang merupakan kekuatan pantai bertempur menghadapi kekuatan agraris yang lebih merupakan penerus kekuatan kerajaan-kerajaan pra-Islam. Kelompok ketiga adalah masyarakat pedesaan Jawa yang mendukung nilai-nilai kebudayaan zaman pra-Hindu, walaupun unsurunsur Hindu serta Islam juga kita temui. Mereka ini disebut kaum abangan. Dan mereka inilah yang diperebutkan oleh kaum priyayi dan kaum santri.

Pertentangan antara kaum santri dengan kaum priyayi terus berlangsung setelah kedatangan Belanda. Usaha Sunan Amangkurat I untuk menumpas Sunan Giri, pembunuhan terhadap ulama Islam Mataram, mungkin dapat kita lihat sebagai contoh pertentangan-pertentangan kedua kelompok tadi. Dalarn proses sejarah selanjutnya, kaum priyayi menjadi sekutu Belanda, ..”for political reasons of their own were known to be either lukewarm Muslim or Outhrigth enemies of Islamic ‘Fanaticism’.”

Dengan sendirinya kaum santri merupakan sumber kekuataan untuk melawan kaum kafir (Belanda) dan priyayi. Islam selalu menjadi sumber kekuatan gerakan-gerakan rakyat untuk mengusir penjajahan selama abad ke-18 dan ke19 di Indonesia, mulai dari Perang Diponegoro sampai pada Perang Aceh. Sampai dengan 1910, dengan perkecualian Gerakan Samin, kerusuhan-kerusuhan melawan Belanda berputar sekitar tokoh-tokoh agama.

Abad ke-19 dan awal abad ke-20 membawa perubahan-perubahan penting bagi masyarakat Jawa sebagai akibat penggunaan teknologi modern dan pendidikan. Masa itu muncullah organisasi-organisasi “modern”, dengan anggaran dasar, kongres dan sebagainya. Tahun 1900 berdirilah Tiong Hoa Kwee Kwan, kemudian Indo Verbond berdiri di tahun 1903. Dan tahun 1908, Budi Utomo. Apakah pertentangan-pertentangan yang sudah begitu berkarat lenyap begitu saja karenanya?

Budi Utomo sejak lahir sudah mewujudkan diri sebagai gerakan kaum priyayi, di mana kaum bangsawan dan pencinta-pencinta kebudayaan tradisional Jawa terhimpun. Massa anggotanya kebanyakan terdiri dari kaum BB, dengan Regen serta Bupati sebagai kekuataan-kekuatan. Sedangkan kaum anti-priyayi, mendirikan Sarekat Islam yang mulanya tegas anti-BB. Bahkan pernah menolak kaum BB sebagai anggotanya.5 Kaum tani (abangan) Jawa ikut bergabung ke dalam Sarekat Islam. Dan menjadikan SI sebagai media protes melawan “unwanted social change”. Pertentangan segitiga atau segi dua berlanjut terus setelah tahun 1900, tetapi dengan baju dan semangat baru. Satu hal yang perlu dinyatakan di sini, bahwa perbedaan dan pertentangan bukan seperti minyak dan air. Ketiga-tiganya malah saling isi-mengisi. Di dalam setup golongan kita jumpai unsur-unsur dari kedua golongan lainnya.

Manusia tidak pernah bisa melepaskan diri dari keadaan sekelilingnya, dari mana ia hidup, dibesarkan oleh bumi dan dari mana ia berakar. Nilai-nilai yang didukung oleh lingkungannya, nilai yang dihayatinya sejak kecil, selalu membekas dalam pikiran dan pandangan-pandangannya. Demikian pula pandangan-pandangan tokoh-tokoh yang menganut paham sosialisme. Mereka sedikit banyak dipengaruhi pandangan kebudayaan lama, entah Islam, Kejawen atau lainnya. Perjuangan melawan sesuatu kekuatan, sesuatu penindasan ataupun mempertahankan cita-cita, selalu dicoba mengidentifikasikannya pada bentuk-bentuk perjuangan dari kebudayaan yang lebih lama atau tua.

Ini adalah bagian atau potongan kisah dalam buku yang kini dicari-cari. Kita bisa membayangkan bagaimana Soe Hok Gie muda mengembangkan pemikirannya yang tajam dan berisi.


Berlangganan via Email