Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Tata Bahasa Minangkabau

Judul: Tata Bahasa Minangkabau
Penulis: Gerard Moussay
Penerbit: KPG, 1998
Tebal: 372 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Stok Kosong


Setelah menyusun Kamus Bahasa Minangkabau, Gerard Moussay yang asal Prancis menyumbangkan karya berjudul Tata Bahasa Minangkabau. Buku kedua ini (kamus dan tata bahasa) cukup membuat orang Minang terkesima dan tersentuh pikirannya. Mereka menjadi lebih sadar bahwa bahasa Minangkabau yang merupakan unsur budaya daerah, dan yang mempunyai peran dalam kehidupan masyarakat Minang, terbukti mendapat perhatian dari para ahli asing untuk diteliti, di samping aspek-aspek sosiologis, ekonomis, politis, dan lain-lainnya.

Dalam fungsinya sebagai bahasa daerah, bahasa Minangkabau juga menjadi alat komunikasi dalam masyarakat intradaerah, atau sebagai alat untuk menyatakan diri dalam karya sastra yang cukup mendapat tempat dalam kehidupan seni budaya daerah dan nasional.

Di zaman penjajahan Belanda dulu, bahasa Minangkabau diajarkan di sekolah sebagai salah satu mata pelajaran dan sebagai bahasa pengantar untuk kelas I, II, dan III. Hal ini, secara langsung atau tidak, telah mendorong murid untuk mencintai dan berbangga terhadap bahasa daerahnya tersebut. Jadi, bahasa daerah ini ikut membentuk pribadi bangsa secara nasional berlatar belakang daerah.

Tapi sesudah Belanda dikalahkan Jepang, bahasa Minangkabau tidak masuk lagi dalam kurikulum. Sebagai penggantinya digunakan bahasa Indonesia, baik sebagai mata pelajaran maupun bahasa pengantar. Itulah sebabnya, sebagian dari angkatan muda Minangkabau banyak yang tidak mengenal lagi bahasa ibunya secara baik. Memang ada juga yang mereka kenal, tapi hanyalah bahasa Minangkabau yang bersifat nonbaku (nonstandar), seperti bahasa yang dipakai di pasar-pasar, kendaraan umum, atau yang dipakai dalam lingkungan keluarga. Kata-kata yang dipakai dalam ragam lingkungan ini (ragam santai) bernada kasar atau tidak sopan, yang bisa menyakitkan telinga.

Bahasa yang berhubungan dengan apa yang disebut "bahasa tinggi", seperti terdapat dalam upacara-upacara adat atau karya sastra, tidak banyak mereka pahami makna dan strukturnya. Karena itu, untuk pembinaan pemakaian bahasa Minangkabau, pemerintah memberikan peluang melalui apa yang disebut sebagai muatan lokal. Dengan muatan lokal ini, anak-anak diarahkan untuk mengapresiasi budaya daerah, agar tidak tercabut dari bumi asalnya menjadi orang Minang yang bukan Minang.

Dari mana diperoleh bahan-bahan untuk muatan lokal yang bersumber dari bahasa dan sastra? Sumber pertama adalah karya- karya, baik sastra maupun nonsastra, yang sudah tertulis ataupun belum, dalam bahasa Minangkabau lama ataupun modern. Maka tak dapat dinafikan manfaat buku Tata Bahasa Minangkabau ini bagi para pakar pencinta dan pengguna bahasa Minangkabau. Kaidah-kaidah bahasa Minangkabau akan terlihat lebih jelas.

Moussay bukanlah orang pertama yang menulis tata bahasa Minangkabau. Sebelumnya, sudah ada sejumlah ahli Belanda dan Indonesia, seperti J.L. van der Toorn, M.G. Emeis, dan Thaib gelar St. Pamoentjak (khusus kamus), serta sejumlah ahli lain yang umumnya lulusan fakultas sastra (universitas dan IKIP). Tapi hasil-hasil mereka belum selengkap yang ditulis Moussay.

Buku ini berisi pendahuluan tentang latar belakang bahasa Minangkabau, lalu diikuti bab-bab mengenai fonologi, satuan bermakna, tata kalimat, frase nominal, frase verbal, modifikator, dan diakhiri kesimpulan. Disertakan pula daftar singkatan, daftar pustaka, indeks istilah linguistik, indeks afiks, dan kata tugas.

Moussay menggunakan sumber-sumber data yang kemas kini (up to date), di samping sumber klasik, seperti kaba, pantun, hikayat, peribahasa, dan syair serta jenis sastra lainnya. Sumber-sumber data yang lebih modern pun tidak luput, seperti ragam pers, ragam santai, serta afiksasi dalam perbentukan kata Minangkabau.

Pengaruh kata asing pun dicatat Moussay sebagai gambaran keterbukaan bahasa Minangkabau, umpamanya kelompok kata bahasa Inggerih (bahasa Inggris); Parancih (Prancis); Balando, Ulando (Belanda); mangkuto (mahkota) yang berasal dari bahasa Sanskerta, makuta; sikola (sekolah) yang berasal dari bahasa Portugis, escola. Juga karateh (kertas), yang diambil dari bahasa Arab, qirtas.

Penulis berpendapat, jika kehadiran buku ini tidak disambut dengan sewajarnya sebagai sebuah karya ilmiah, adalah suatu sikap yang menunjukkan ketiadaan kesadaran akan nilai budaya daerah yang cukup berperan dalam pembinaan pribadi berbudaya.

Lukman Ali
Mantan Kepala Pusat Bahasa

Berlangganan via Email