Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX

Judul: Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX
Penulis: E. Ulrich Kratz
Penerbit: KPG, 2005
Tebal: 1017 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Stok Kosong


Jika Tuan dan Puan punya sebiji-sesawi rasa peduli pada pikiran-pikiran sastra Indonesia, agar Tuan dan Puan lebih berbudaya, E. Ulrich Kratz telah menyusunkan 97 artikel pada bukunya yang amat berharga: Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX. Bacalah! Kalau sekadar untuk dipajang di rak, buku ini bisa berdiri, sebab tebalnya 1017 halaman.

Itu tak mengada-ada. Selama sekian puluh tahun, sampai tahun nol memasuki milenia ketiga, orang masih terus memasalahkan: Apakah sastra Indonesia dibaca masyarakat? Mursal Esten menyimpulkan, "Masyarakat sastra Indonesia yang membaca hanya sekitar 0,01% saja" (halaman 749). Padahal masyarakat adalah sasaran, untuk dimajukan dan disatukan, kata Armijn Pane (halaman 146).

Kendalanya banyak. Menurut Bakri Siregar, pesastra bersikap "kontra-masyarakat" (halaman 261); di samping karyanya pun "belum matang", kata Sitor Situmorang (halaman 321); serta esensinya "hayal", kata Mh.Rustandi Kartakusumah (halaman 412); dan "menulis di lingkungan bahasa yang ambruk," kata Goenawan Mohamad (halaman 858); terlalu banyak bahasa Jawa masuk ke dalam bahasa Indonesia, kata Subagio Sastrowardojo (halaman 838- 839).

Kalau begitu, bagaimana mestinya sastra bagi masyarakat? Arief Budiman berkata, "... harus diarahkan pada pencapaian yang indah" (halaman 807). Kealpaan terhadapnya disampaikan Budi Darma, "Sastra kita hanyalah sastra sepintas-lalu" (halaman 738). Kalau terus dibaca, segera tergambar, dalam kritik-kritik semacam ini, penulisnya menaruh dirinya sebagai lakonnya, subjek, dan orang lain sebagai objek yang tajam cacat-cacatnya.

Menaruh diri sebagai subjek, dapat juga beralih jadi sikap megalomania (perkataan ini diterangkan di halaman 897). Itu yang hadir dalam pernyataan Mochtar Lubis ketika ia memprotes pemberian hadiah Magsaysay untuk Pramudya. Tulisnya, "... sangat ironis apabila dengan keputusan tersebut Pramoedya jadi duduk sebangku dengan pemenang hadiah Magsaysay Mochtar Lubis dan H.B. Jassin. Mochtar Lubis pengarang dan wartawan pejuang kebebasan ekspresi dan hak asasi manusia lebih dari 40 tahun hingga kini..." (halaman 875).

Kratz melihat bahwa perselisihan faham dalam sastra Indonesia lebih pada prasangka politis. Antara mereka yang dicap komunis dan yang menyebut diri penganut humanisme universal (halaman xix). Dan mengomentari itu, Asrul Sani berkata, "Bagi saya, pengarang adalah hati nurani bangsanya. Sudah menjadi tradisi dalam dunia kesusastraan di mana pun juga bahwa komitmen pertama seorang pengarang adalah pada kebenaran dan pada martabat manusia" (halaman 880-881).

Catatan tentang pikiran-pikiran sastra, yang ditulis oleh pelaku-pelakunya, sebagaimana terhimpun secara urut dalam buku ini, diharapkan dapat menghangatkan perhatian masyarakat yang kepalang dingin, untuk menerima karya sastra bukan sekadar masalah linguistik -seperti yang awet diajarkan di sekolah-sekolah menengah sampai hari ini- tetapi adalah masalah estetik yang berhubungan dengan ladang humaniora. Gambaran itu setidaknya terwakilkan dalam buku ini.

Jika Tuan dan Puan enggan membaca sastranya, karya kreatifnya, paling tidak Tuan dan Puan menjadi terhormat membaca saja pikiran-pikiran tentangnya. Pelaku sastra biasanya hadir lebih pandai di dalam esai yang mengurai sastra ketimbang dalam karya kreatifnya. Maka beri aplaus, tepuk tangan takzim bagi buku yang merangkum kepandaian-kepandaian itu.

Remy Sylado
Pengamat kebudayaan

Berlangganan via Email