Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Mengurai Konflik Muslim-Kristen dalam Perspektif Islam

Judul: Mengurai Konflik Muslim-Kristen dalam Perspektif Islam
Penulis: Mahmoud Mustafa Ayoub
Penerbit: Fajar Pustaka Baru, 2007
Tebal: 333 halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Harga: Rp. 60.000 (blm ongkir)
Order: SMS/WA 085225918312


Islam dan Kristen merupakan dua agama besar dunia yang paling akrab dengan konflik. Sejarah telah banyak mengabarkan kepada kita berbagai kenangan kelam diantara keduanya. Perang salib, diskriminasi, bahkan sampai konflik yang terjadi di negara kita seperti tragedi di Ambon dapat kita jadikan contoh bahwa telah begitu parahnya pertikaian antar agama terbesar dunia ini.

Pada prinsipnya kedua agama monoteis ini berakar dari satu nenek moyang yang sama, yaitu Ibrahim. Walaupun secara teologis memiliki kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa tetapi secara konseptual terdapat berbagai macam perbedaan yang cukup mendasar. Dari perbedaan-perbedaan inilah, akhirnya memunculkan semangat keagamaan yang eksklusif, kemudian memunculkan konflik berkepanjangan. Disamping juga dipicu oleh kepentingan politik, sosial maupun ekonomi.

Sebuah buku karya Mahmoud Mustafa Ayoub. Buku ini merupakan kumpulan artikel-artikel yang kemudian didokumentasikan menjadi sebuah karya dan mengajukan solusi untuk memfasilitasi pertikaian-pertikaian tersebut.

Buku ini terbagi menjadi dua bagian pokok yang kemudian dijabarkan menjadi sepuluh bab. Pada bagian pertama membahas tentang bagaimana Islam memandang agama Kristen. Seperti pada perspektif Islam modern, dan mengupas tentang Yesus. Lalu pada bagian kedua membicarakan tentang hubungan Muslim-Kristen dalam perspektif Islam. Pada bagian kedua ini penulis mencoba untuk menguraikan tentang umat Kristen dan apa akar konflik dari pertikaian antar agama tersebut.

Bagi M. M. A, dan seharusnya bagi umat Muslim secara keseluruhan, al-qur'an adalah jantung umat Muslim. Al-qur'an adalah sumber utama bimbingan dan harmoni sosial, dan kaum Muslim dituntut untuk mencari maknanya. Akibatnya, menurut M.M.A, tafsir al-qur'an adalah salah satu ilmu agama paling penting dan paling awal, dimulai sejak nabi Muhammad dan para sahabatnya. Ketika al-Qur'an berbicara pada hati kaum Muslim yang saleh melalui para pembacanya, maka al-Qur'an berbicara tentang sosio-politik dan religius umat Islam melalui para mufasirnya, Itulah stateman M.M.A dalam salah satu tulisannya. Memang seorang Mufassir al-Qur'an akan menginterpretasikan kitab suci sesuai dengan kondisi pada zamannya untuk menyelesaikan persoalan pada waktu itu.

Pada dasarnya pemikiran M.M.A banyak mengkritisi pola pemikiran umat Muslim yang cenderung eksklusif (tertutup), sehingga memperkeruh hubungan antara agama Islam dan Kristen. Dia banyak mengkaji ulang tafsiran-tafsiran ayat yang sarat dengan konflik antar kedua agama tersebut. Seperti mengkaji beberapa ayat seperti Q.S : 21 ayat 90-91, dan Q.S : 62 ayat 12 tentang Yesus Kristus dengan penjelasan para Mufassir yang dianggapnya representatif. Yang walaupun kemudian dia mengkritisi para Mufassir tersebut yang dianggapnya telah menutup-nutupi dengan menerjemahkan ayat-ayat tadi dengan berbeda ataupun dengan mengabaikannya tanpa komentar. Tetapi berbeda halnya ketika M.M.A menguraikan tentang pandangan Islam-Syi'ah terhadap Yesus. Dia menganggap bahwa dalam Syi'ah terdapat suatu pamdangan yang unik tentang kedudukan Yesus (Isa a.s) karena Yesus adalah termasuk dalam lingkaran sejarah esoterik dan eksoterik. Yaitu seorang nabi, orang bijak yang asketis, dan seorang mistikus.

Penulis juga memberikan penjelasan tentang ayat-ayat al-Qur'an yang mengisyaratkan akan pluralisme agama dan menganggap bahwa yang tertutup adalah para "umat Muslim". Dia menegaskan bahwa al-qur'an tidaklah berbicara tentag agama-agama, tetapi tentang umat beragama. Menurutnya, celaan tajam yang diberikan al-qur'an pada kaum Yahudi dan Nasrani, sebagian besar diarahkan pada kepercayaan, sikap atau perbuatan dari orang atau kelompok tertentu yang dengannya Nabi Muhammad melakukan hubungan, dan bukan kepercayaan atau afiliasi agama.

Surat al-Maidah ayat 69 dan surat al-Baqarah ayat 62 dikemukakannya sebagai contoh penegasan al-Qur'an dalam mendukung pluralisme agama. Dan yang terpenting adalah bahwa kedua ayat ini diturunkan pada permulaan dan akhir kenabian Muhammad saw.

"sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabi'in dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudiandan beramal shaleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati".

Kemudian terdapat sebuah statement yang sangat mengagetkan pada buku ini, yaitu bahwa al-Qur'an secara khusus telah keluar dari fakta-fakta sejarah dalam menjelaskan tokoh-tokoh Bibel, yang kemudian dianggap benar oleh kaum Muslim pada umumnya. Dari perbedaan pembacaan fakta ini, umat Muslim menganggap pemahaman Kristen sebagai distorsi yang disengaja. Disisi lain, setelah mengetahui pandangan umat Muslim, orang-orang Kristen bersikap merendahkan Islam, kitab suci dan Nabinya serta menganggap seluruh usahanya sebagai perbuatan setan, atau, sedikit menghibur, sebagai bid'ah Kristen yang terlalu sulit untuk diberantas. Dan terdapatnya ambivalensi dalam penegasan ayat-ayat al-Qur'an.

Haryanto, Aktivis IMM Sukoharjo

Berlangganan via Email