Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Lintang Kemukus Dini Hari

Judul: Lintang Kemukus Dini Hari
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia, 2003
Tebal: 211 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Terjual Kosong


Srintil, ditinggal Rasus dengan cara yang paling menyakitkan. Tapi dalam perjalanan waktu, rasa sakit itu menuntunya pada sebuah harga diri dan martabat sebagai seorang perempuan. Bukan hanya perempuan ronggeng. Dalam kekecewaannya, Srintil bertemu Goder, dan menemukan semangat hidupnya kembali memalu naluri keibuannya. Oh, tentu saja, perempuan mana yang tidak bisa menolak kelugian dan juga kedamaian yang terpancar dari mata seorang bayi.

"Seorang bayi pastilah lebih dari anak kandung ibunya karena dia sesu ngguhnya adalah anak kandung alam yang paling sah. Maka siapapun yg mau jujur dengan hati nuraninya akan mengakui bahwa semua bayi hidup dalam alam yang penuh rahmat"

"Kemudian seperti yang diajarkan oleh Dukuh Paruk. Srintil mengganggap semua kegetiran yang dialaminya merupakan bagian garis hidup yang harus dilaluinya. Maka pada dasarnya Srintil pasrah dan nrimo saja. Dalam hidup ini orang harus nrimo pandum; ikhlas menerima jatah, jatah yang manis atau jatah yang getir". (salah satu penggalan dalam novel ini yang saya suka).

Saya juga ikut tersenyum dan tertawa seiring pengalaman Srintil menjadi gowok. Juga rasa simpatinya pada seorang manusia dalam kemalangannya yang abadi (Waras, pemuda 17 tahun yang masih tidur seranjang dengan ibunya, dan tidak mengenal kedewasaan sebagai seorang laki-laki).

Tapi sayang, keluguan para penguhuni Dukuh Paruk beserta ronggengnya ini menjadi alat kampenye politik bagi segelintir orang. Dukuh Paruk luluh lantak. Srintil dan paguyuban ronggengnya harus masuk tahanan. Malangnya nasibmu, Srin...

Jika saya harus setuju beberapa pendapat mengapa sampai mengalami kemalangan ini, maka saya setuju dengan beberapa hal yang dikemukakan dalam buku ini. Dukuh paruk yang melarat, lusuh, juga cabul, tidak pernah bisa menahami politik atau ideologi politik apapun. Mereka lebih percaya pada amanat agung leluhurnya, hidup selaras apa adanya dengan alam, , keaslian, kesederhanaan pemikiran penduduknya. Pemangku Trah.

Berlangganan via Email