Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Kenabian Mirza Ghulam Ahmad

Judul: Kenabian Mirza Ghulam Ahmad
Penulis: Ida Novianti
Penerbit: Fajar Pustaka, 2005
Tebal: 146 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Terjual Cilegon


Pemikiran tentang keislaman berjalan sesuai dengan perkembangan jaman, dan pemikiran tiap orang berbeda-beda. Inilah yang menjadikannya banyak aliran-aliran yang muncul dalam hal keislaman, baik aliran yang masih sejalan dengan tauhid dan ajaran Islam, atau bahkan aliran yang dikatakan sesat karena berseberangan dengan paham dalam Islam, seperti paham kenabian dan lain-lain dalam aliran Ahmadiyah.

Dalam buku ini dibahas dari mulai biografi pendiri Ahmadiyah, sejarah Ahmadiyah, pandangan Ahmadiyah tentang wahyu dan kenabian dan pandangan Ahmadiyah terhadap nabi Isa dan masalah khilafah.

Pendiri Ahmadiyah adalah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Lahir pada hari Jumat, 13 Februari 1835 M atau 14 Syawal 1250 H di Qadian, india. Mirza Ghulam Ahmad berasal dari keluarga bangsawan suku Barsal, dinasti Mughal. Mirza Ghulam Ahmad belajar mengkaji Al-Quran dan beberapa kitab berbahasa Persia pada umur enam tahun, lalu pada umur 17 tahun, ia belajar nahwu dan Mantiq. Mirza Ghulam Ahmad menikah dengan gadis bernama  Hurmat Bibi dan mempinyai dua anak, Mirza Sultan Ahmad dan Mirza Ahmad.

Sebab asal mengapa Ahmadiyah muncul adalah munculnya ilham-ilham yang dikira datang dari Allah pada Mrza Ghulam Ahmad, terlebih ilham yang menyatakan nabi Isa yang ditunggu-tunggu kedatangannya yang kedua kalinya ternyata telah wafat dan tidak akan datang ke dunia, akan tetapi digantikan orang lain yaitu Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Lalu berita ini diumumkan ke masyarakat, spontan menolaknya, tapi setiap orang yang mengecamnya akan kalah dalam debat oleh Mirza Ghulam Ahmad dan menjadi pengikutnya hingga sebanyak sekarang. Mirza Ghulam Ahmad meninggal pada 26 Mei 1908 di Qadian.

Ahmadiyah dimaklumatkan pada 23 Maret 1889 di Qadian, India dipimpin oleh Mirza Ghulam Ahmad, lalu diteruskan oleh Hakim Nuruddin, sepeninggalnya, Ahmadiyah terpecah jadi dua, Qadian dan Lahore. Qadian dipimpin oleh Mirza Bashiruddin Ahmad Mahmud, sedang Lahore dipimpin oleh Maulana Muhammad Ali. Keduanya giat berdakwah ke seluruh –penjuru dunia. Qadian mendirikan cabangnya di Ceylon Burma, Philipina, Sumatra, Rusia, Iran, Iraq, Arab Saudi, Syiria, Mesir, Nigeria dan lain-lain.

Menurut Qadiani, nabi adalah seseorang yang membawa tuntunan dan peringatan untuk manusia. Dia adalah hamba pilihan Tuhan (dipilih karena kecintaan dan kesetiaan kepada-Nya). Nabi diberi tugas untuk memimpin umat, membumbung manusia untuk mengenal Tuhan dan mengajarkan kepada manusia tata cara beribadah kepada Tuhan. Menurut Qadiani, mujaddid dan wali dapat disebut nabi, yaitu nabi dzilly atau nabi bayangan dari kenabian sebelumnya. Mereka tidak membawa syariat baru, tapi meneruskan dan meluruskan syariat yang sudah ada.

Menurut Qadiani, wahyu adalah pembicaraan Allah dengan hambanya melalui lafadz dan lafadz tersebut dapat dipastikan datangnya dari Allah, dan bukan hanya nabi yang mendapatkannya, tapi semua orang bisa mendapatkannya. Wahyu tetap berlangsung secara terus menerus seperti kenabian. Dan Qadiani menganggap Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi.

“Khatamul Anbiya” yang dicapkan pada Rasulullah Muhammad menurut Qadiani bukan berarti nabi terakhir, tapi nabi yang sempurna. Nabi akan terus ada, walau bentuknya hanya sebuah emanasi, atau nabi bayangan dari kenabian sebelumnya.

Menurut Qadiani, konsep turunnya nabi Isa yang keduakalinya tidak akan ada, namun Mirza Ghulam Ahmad itu sendiri adalah pengganti Isa. Tentang wafatnya nabi Isa, Qadiani menganggap nabi isa meninggal secara wajar (alamiyah) bertolek belakang dengan anggapan Sunni.

Buku ini begitu mendalam menjelaskan pandangan dan cara berpikir aliran Ahmadiyah. Disertai dengan penjelasan di setiap babnya.

Berlangganan via Email