Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Wiji Thukul: Teka-Teki Orang Hilang

Judul: Wiji Thukul: Teka-Teki Orang Hilang
Penyusun: Tim Buku TEMPO
Penerbit: KPG
Tebal: 160 Halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Stok Kosong


Membaca buku ini, seakan membuat detak jantung berdegup kencang, terlebih gaya penulisan naratif ditambah dengan foto-foto yang melengkapinya kian mendekatkan pada keberadaan Widji Thukul. Hanya, pembaca harus sedikit cermat dikarenakan alur penulisan tiap bab yang meloncat-loncat.

"Apabila usul ditolak tanpa ditimbang/Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan/Dituduh subversif dan mengganggu keamanan/Maka hanya ada satu kata: Lawan!" Ini adalah penggalan puisi berjudul "Peringatan" karya Wiji Thukul.

Penggalan puisi tersebut seakan tak pernah absen diteriakkan para demonstran saat orasi. Thukul merupakan seorang penyair yang terjun langsung dalam perjuangan gerakan rakyat melawan rezim pemerintahan Orde Baru (Orba). Karena keberaniannya, dia diburu pemerintah saat itu hingga kini bagaikan ditelan Bumi. Dia hilang entah di mana rimbanya.

Tak sedikit media yang mencoba mengingatkan kembali masih banyak orang hilang pada masa keruntuhan Orba dengan melahirkan buku Wiji Thukul Teka-teki Orang Hilang. Buku ini diangkat dari liputan khusus sebuah media.

Buku menceritakan perjalanan hidup Thukul sejak kecil hingga terjun dalam ranah pergerakan. Hidupnya sederhana. Ayahnya seorang tukang becak dan ibunya kadang berjualan ayam bumbu. Thukul merupakan anak tertua yang sudah mencari uang sendiri untuk sekolah atau sekadar uang jajan untuk dua adiknya.

Saat remaja, dia aktif dalam berbagai kegiatan sampai akhirnya mulai mengenal kesenian. Thukul mulai serius menggeluti kesenian kala bertemu dan ditempa langsung pemain teater Cempe Lawu Marta. Wiji Thukul sebenarnya bernama asli Wiji Widodo. Lawu sendiri yang mengusulkan nama Thukul. Wiji Thukul artinya biji yang tumbuh..

Thukul berkecimpung di dunia pergerakan bersama Persatuan Rakyat Demokratik, cikal bakal Partai Rakyat Demokratik (PRD). Dia kerap muncul membacakan puisi saat demonstrasi buruh atau mahasiswa. Dia pun dikenal sebagai penulis selebaran, poster, dan buletin propaganda.

Dari sejumlah kerja pergerakannya tersebut terkadang membahayakan fisiknya. Mata kanan Thukul pernah nyaris buta karena dibenturkan di kap mobil oleh aparat saat mengorganisasi buruh PT Sritex.
PRD sangat gencar mengkritik kebijakan Orba. Puncaknya saat menuntut pemilu ulang dan menolak terpilih kembalinya Soeharto sebagai presiden Indonesia tahun 1997. Satu per satu pimpinan PRD yang dianggap provokator jadi sasaran operasi militer, beberapa di antaranya ada yang diculik dan disiksa.

Tak terkecuali Thukul. Dia lantas bersembunyi ke berbagai tempat. Dalam setiap persembunyiannya dia menyamar. Kadang mengaku sebagai tukang bakso. Lain kali rohaniwan. Sekalipun bersembunyi, sesekali Thukul menulis puisi kala senggang.

Pascaruntuhnya Orba, keluarga mengira Thukul sengaja disembunyikan PRD. Begitupun sebaliknya, PRD mengira Thukul telah kembali pada keluarganya. Publik mulai menyadari bahwa Thukul telah hilang setelah Jaap Erkelens menulis surat pembaca di media yang mempertanyakan keberadaan Thukul tahun 2000.

Penelusuran dilakukan di sejumlah kota hingga mengidentifikasi data mayat-mayat yang terapung di Pulau Rambut pada tahun 1998. Namun, sampai saat ini, keberadaan Thukul tidak diketahui.

Membaca buku ini, seakan membuat detak jantung berdegup kencang, terlebih gaya penulisan naratif ditambah dengan foto-foto yang melengkapinya kian mendekatkan pada keberadaan Widji Thukul. Hanya, pembaca harus sedikit cermat dikarenakan alur penulisan tiap bab yang meloncat-loncat.

Terlepas dari keberadaan Widji Thukul yang masih menyisakan tanya, dia merupakan bagian dari dinamika sejarah Indonesia. Thukul tak bisa terhapus atau dihapuskan. Bersama karya-karyanya, dia kini hidup dalam setiap semangat perjuangan kalangan muda Indonesia untuk menciptakan keadilan untuk rakyat.

Oleh: Restu Nur Wahyudin, Kepala Biro Penelitian dan Pengembangan Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan UPI.

Berlangganan via Email