Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Rekonstruksi Sejarah Islam di Tengah Pluralitas Agama dan Peradaban

Judul: Rekonstruksi Sejarah Islam di Tengah Pluralitas Agama dan Peradaban
Penulis: Akbar S. Ahmed
Penerbit: Fajar Pustaka Baru, 2003
Tebal: 416 Halaman
Kondisi: Stok lama (bagus)
Stok Kosong


Pada akhir 1980-an dunia telah berubah secara dramatis. Sebab, perubahan itu bergerak secara perlahan-lahan, hampir tanpa kita ketahui. Perkembangan utama menyangkut penggunaan media massa (audio-visual) yang meluas -termasuk video, mesin faksimile, internet, dan teknologi komunikasi satelit. Dalam konteks situasi politik global abad ini, Amerika Serikat (AS) muncul sebagai penguasa, perkembangan ini menerima suatu arti kebudayaan yang khusus.

Pada masa peralihan dari abad ke-20 menuju abad ke-21, AS dan sekutu
kebudayaannya (seperti Eropa) mulai mendominasi dunia. Mereka melakukan itu
melalui media massa. Itulah sebabnya media massa Barat dilihat sebagai
bersikap permusuhan oleh dunia Islam. Apa pun yang berasal dari Barat
dianggap secara potensial bersifat mengancam. Siapa pun yang berhubungan
dengan Barat dilihat sebagai wakil dari dunia sekuler dan kafir. Ini adalah
reaksi yang mendalam, respons dari seseorang yang dihina dan dikecewakan
Barat berulang-ulang. Tetapi, ini bukanlah respons peradaban Islam yang
telah bertahan lebih dari satu milenium dan menghasilkan sejumlah sistem
kebudayaan paling abadi yang pernah dijumpai.

Buku Rekonstruksi Sejarah Islam di Tengah Pluralitas Agama dan Peradaban
karya Akbar S Ahmed dari Universitas Harvard ini mengajukan beberapa sudut
pandang berbeda dalam memandang Islam. Menurutnya, Islam tidak hanya puisi
mistik yang menarik dan arsitektur simetris yang menakjubkan. Tetapi, Islam
juga kerumunan rakyat banyak di jalanan, pemuda muslim yang menyerang
kedutaan asing, dan imaji hukum cambuk di televisi. Ini memunculkan beragam
perspektif tentang Islam bagi banyak orang. Islam tidak hanya teologi,
tetapi juga polemik, imaji media, dan pandangan dunia (world view) dalam
ruang lingkup yang lebih luas.

Membaca buku Rekonstruksi Sejarah Islam, kita seolah dibenturkan pada asumsi
kuno penulis--seorang antropolog dan komentator Islam yang sangat populer
dewasa ini--dan prasangkanya dijatuhkan. Buku yang cukup memikat ini
menyajikan banyak hal yang menantang asumsi dan menelaah ulang berbagai
stereotip: bahwa muslim adalah fanatik, perusak gereja Kristen dan kuil
Hindu, bahwa nasrani lebih toleran, kaum muslim menyebarkan Islam dengan
pedang di satu tangan dan Alquran di tangan yang lain, bahwa wanita muslim
dianiaya dan dikekang, dan sinisme kaum muslim terhadap dominasi media massa
Barat.

Dengan populasi dan sumber dayanya, dunia Islam secara potensial mampu
membentuk suatu kehadiran utama di dunia. Akan tetapi politiknya tetap mudah
berubah pendirian dan masih membutuhkan visi dan stabilitas. Karena alasan
inilah media Barat mudah memberikan cap kepada negara muslim sebagai
penyebab krisis. Jurnalisme Barat kemudian mengambil beberapa negara muslim
dan menganggapnya mewakili seluruh Asia atau Afrika, jadi Asia Tengah,
Afghanistan, Iran, dan Irak membentuk bulan sabit. Ini adalah suatu bahasa
klise jurnalisme Barat. Seraya mengajukan pertanyaan: benar atau tidak cara
pandang demikian? Umat muslim, seperti halnya Akbar S Ahmed merasakan
jurnalisme Barat sebagai bersikap bermusuhan. Sikap ini sebagian besar
adalah benar. Banyak faktor yang menjelaskan perasaan ketidaksenangan ini.
Cerita Barat tentang muslim cenderung memberi kesan imaji negatif: tentang
ketidakstabilan politik dan perlakuan yang jelek terhadap wanita, dua
prasangka orientalis terkenal tentang Islam.

Generasi resah yang menjadi dewasa dalam masyarakat muslim adalah faktor
lainnya. Generasi itu tumbuh bersama dengan media massa dan merasa akrab
dengan budaya Amerika. Ini memiliki arti ganda tentang apa yang generasi itu
jumpai: mereka tidak dapat hidup dengan standar Amerika yang mereka lihat,
namun secara paradoks mereka menginginkannya. Generasi tersebut juga merasa
jijik tentang apa yang mereka lihat di televisi (khususnya seks dan
kekerasan) dan percaya ini adalah gambaran masyarakat Barat sekarang ini.
Mereka frustrasi, generasi tersebut mencari identitas mereka yang sebenarnya
dalam peradaban tradisional mereka sendiri, yaitu Islam. Oleh karena itu,
generasi ini menekankan identitas islaminya dengan menolak peradaban Barat.

Islam bukanlah satu-satunya agama yang mengalami kebangkitan. Telah muncul
revivalisme agama di seluruh dunia. Ini sering menggunakan ekspresi yang
baru, kadang-kadang ekspresi yang agresif. Apakah itu Kristen, Katolik,
Evangelis di AS, atau Hindu di India, fenomena revivalisme ini khusus
terjadi pada masa kita. Gagasan tentang sekuler, kemajuan, dan sains yang
banyak dianggap benar satu generasi yang lalu, kini mulai ditantang (hlm.
342).

Secara keseluruhan isi buku karya Akbar S Ahmed ini kendati bersifat
impresionis, sebagian berdasarkan pada laporan jurnalistik penulisnya dan
penggalan sejarah Islam dari masa awal, masa kerajaan atau dinasti, hingga
sejarah Islam kontemporer. Diharapkan buku penting ini bisa menyadarkan kita
tentang pluralitas masyarakat, agama, dan peradaban dunia sekaligus
mendorong saling pengertian dan saling memahami di antara umat beragama di
seluruh dunia, baik di Barat maupun di dunia Timur. Kesadaran ini penting,
sebab dalam dunia kita sekarang Islam adalah sebuah tantangan, misteri,
sekaligus teka-teki. Buku ini bertujuan memberi sedikit keterangan tentang
arti Islam yang sebenarnya, bukan Islam menurut cara pandang dan laporan
media massa Barat.

Syafruddin Azhar, editor buku pada Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta.

Berlangganan via Email