Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jual Buku Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi

Judul: Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi
Penulis: Anton E. Lucas
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti, 1989
Tebal: 392 halaman
Kondisi: Bekas (cukup)
Stok Kosong

Kebudayaan Indonesia, selama lebih dari tiga dasawarsa pemerintahan orde baru, di definisikan sebagai puncak-puncak kebudayaan nasional. Penulis pribadi, tidak pernah mengerti apa itu sebenarnya puncak-puncak kebudayaan nasional, karena jika dirunut kemudian yang ada adalah kebudayaan pusat dan daerah. Yang kemudian terpatri adalah bahwa wayang kulit adalah kebudayaan nasional, ledhek adalah kebudayaan daerah. Batik adalah bagian dari kebudayaan nasional, sementara koteka adalah pakaian tradisional masyarakat irian.

Dikotomi nasional daerah atau pusat daerah, ternyata tidak berhenti disana. Sejarah pun demikian. Adakah diantara kita yang pernah mendengar atau menerima pelajaran disekolah tentang “Peristiwa Tiga Daerah?” Aku ragu jika ada yang menjawab iya, kecuali, anda adalah mahasiswa jurusan sejarah yang memang berkecimpung dalam bidang itu. Sangat menyedihkan bahwa banyak catatan sejarah sengaja dipendam, kemudian terpendam, lalu terlupakan, hilang dari ingatan hanya karena ceritanya tidak menaikkan gengsi penguasa saat itu.

Buku yang ada sampulnya terpajang dalam halaman ini, berjudul “Peristiwa Tiga Daerah,Revolusi dalam revolusi”. Ditulis oleh Anton E Lucas. Aslinya, adalah sebuah disertasi dari penulisnya, yang berjudul “The Bamboo Spear Pierces the Payung : The Revolution againts the Bureaucratic Elite in North central Java ini 1945″.

Peristiwa tiga daerah adalah suatu peristiwa dalam sejarah revolusi Indonesia yang terjadi antara oktober sampai desember 1945 di Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, di keresidenan Pekalongan Jawa tengah, dimana seluruh elite birokrat, pangreh praja (residen, bupati, wedana dan camat), dan sebagian besar kepala desa “didaulat” dan diganti oleh aparat pemerintahan baru, yang terdiri dari aliran-aliran islam, sosialis dan komunis (hal7).

Peristiwa ini sering disebut, tetapi pengertiannya masih kabur. Kata-kata perampokan, penyelewengan dan pemberontakan masih sering dipakai disamping kata-kata pergerakan, perjuangan atau peristiwa untuk tiga daerah. Sejarah tiga daerah penting sebagai peristiwa lokal revolusi Indonesia, karena merupakan sebuah revolusi sosial dengan ciri khas tersendiri. Disini, revolusi sosial diartikan sebagai suatu revolusi untuk mengubah struktur masyarakat kolonial feodal menjadi susunan masyarakat yang lebih demokratis. Cita-cita ini mulai diperjuangkan oleh sarekat Islam di Pekalongan pada tahun 1918, diteruskan oleh gerakan PKI dan syarekat rakyat sampai dengan tahun 1926, tetapi baru tercapai pada bulan oktober-november 1945.

Untuk memahami mengapa terjadi Peristiwa Tiga Daerah pada tahun 1945, kita perlu juga mengetahui sejarah politik daerah tersebut. Pada abad sembilan belas, terjadi aksi protes terhadap tanam paksa (gula) dan beban wajib kerja (corvee) yang menjadi inti dari sistem Tanam Paksa Belanda. “Brandal Mas Cilik” di Tegal merupakan pemberontakan petani pada tahun 1864, dipimpin seorang dukun yang bernama Mas Cilik, yang menyerang pabrik gula dan membunuh pegawai belanda.

Aksi protes muncul lagi pada tahun 1926 dengan pemberontakan di dukuh karangcegak, selatan tegal. Kali ini petani melawan corvee dengan senjata ideologi modern, yaitu komunis. Peristiwa pemberontakan tahun 1926 ini mengakibatkan banyak pemimpin tegal dibuang ke tempat pengasingan Boven Digul di irian Jaya. Golongan inilah yang muncul kembali memimpin badan-badan perjuangan dan menyusun strategi politik mengubah struktur pemerintah di Tiga daerah pada tahun 1945 itu.

Buku yang terdiri dari sebelas Bab dan 60 sub judul ini menarik untuk disimak. Direkomendasikan terutama bagi anda peminat sejarah dan tidak ingin melulu hanya menerima “statemen resmi” negara. Buku yang awalnya disertasi ini, seperti layaknya buku sejarah yang berangkat dari disertasi juga, berisi berbagai lampiran data-data tertulis, catatan-catatan notulensi dan wawancara dengan banyak tokoh yang memahami sejarah tiga daerah ini.

Berlangganan via Email